Mata Uang BRICS Bakal Gantikan Dolar Disebut Gagasan Konyol
Rabu, 16 Agustus 2023 - 10:20 WIB
loading...
A
A
A
Terlepas dari pembicaraan de-dolarisasi yang sedang menghangat ini, faktanya data IMF menunjukkan hampir 60% cadangan mata uang global disimpan dalam dolar AS pada tahun 2022, dan 88% transaksi internasional juga dilakukan menggunakan dolar.
Wall Street juga tampaknya tidak meganggap serius kemungkinan munculnya pesaing baru bagi dolar AS. Dylan Kremer, Co-chief Investment Officer di Certuity, yang mengelola aset hampir USD4 miliar mengatakan bahwa pengembangan mata uang umum BRICS hanyalah "jalur pembicaraan", merujuk pada poin pembicaraan yang dibawa oleh tenaga penjualan ke pertemuan klien.
Dia menilai, negara-negara BRICS ketika digabungkan, tidak memiliki stabilitas politik untuk membuat investor percaya diri dengan mata uang gabungan tersebut. "Tidak ada ancaman langsung terhadap dolar selama 10 tahun ke depan," kata Kremer kepada Fortune. "Setiap ancaman terhadap dolar atau pesaing terhadap dolar akan menjadi efek bola salju yang bergerak lebih lambat," tambahnya.
Menurut O'Neill, hubungan tidak sehat antara China dan India adalah salah satu alasan utama mata uang bersama BRICS sangat tidak mungkin diwujudkan. Dia menilai Barat telah melakukan pekerjaan bagus sehingga China dan India tidak pernah akur.
"Karena jika mereka melakukannya, dominasi dolar akan jauh lebih rentan," katanya. "Saya sering mengatakan kepada para pembuat kebijakan China, lupakan pertempuran sejarah Anda yang tiada akhir dan cobalah mengundang India untuk berbagi kepemimpinan dalam beberapa masalah besar, karena dunia mungkin akan menganggap Anda sedikit lebih serius."
Perseteruan antara China dan India begitu besar dan lama sehingga melampaui ekonomi dalam banyak hal. Tarun Khanna dari Harvard Business School menulis di Harvard Business Review pada tahun 2007 bahwa ada "saling menghormati dan mengagumi" selama ribuan tahun, karena jalur perrdagangan kuno yang mendukung pengembangan dua peradaban besar tersebut.
Baca Juga: 4 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar Amerika Serikat
Wall Street juga tampaknya tidak meganggap serius kemungkinan munculnya pesaing baru bagi dolar AS. Dylan Kremer, Co-chief Investment Officer di Certuity, yang mengelola aset hampir USD4 miliar mengatakan bahwa pengembangan mata uang umum BRICS hanyalah "jalur pembicaraan", merujuk pada poin pembicaraan yang dibawa oleh tenaga penjualan ke pertemuan klien.
Dia menilai, negara-negara BRICS ketika digabungkan, tidak memiliki stabilitas politik untuk membuat investor percaya diri dengan mata uang gabungan tersebut. "Tidak ada ancaman langsung terhadap dolar selama 10 tahun ke depan," kata Kremer kepada Fortune. "Setiap ancaman terhadap dolar atau pesaing terhadap dolar akan menjadi efek bola salju yang bergerak lebih lambat," tambahnya.
Menurut O'Neill, hubungan tidak sehat antara China dan India adalah salah satu alasan utama mata uang bersama BRICS sangat tidak mungkin diwujudkan. Dia menilai Barat telah melakukan pekerjaan bagus sehingga China dan India tidak pernah akur.
"Karena jika mereka melakukannya, dominasi dolar akan jauh lebih rentan," katanya. "Saya sering mengatakan kepada para pembuat kebijakan China, lupakan pertempuran sejarah Anda yang tiada akhir dan cobalah mengundang India untuk berbagi kepemimpinan dalam beberapa masalah besar, karena dunia mungkin akan menganggap Anda sedikit lebih serius."
Perseteruan antara China dan India begitu besar dan lama sehingga melampaui ekonomi dalam banyak hal. Tarun Khanna dari Harvard Business School menulis di Harvard Business Review pada tahun 2007 bahwa ada "saling menghormati dan mengagumi" selama ribuan tahun, karena jalur perrdagangan kuno yang mendukung pengembangan dua peradaban besar tersebut.
Baca Juga: 4 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar Amerika Serikat
Lihat Juga :