Dampak Nyata Rusia Blokir Laut Hitam, Ekspor Biji-bijian Ukraina Anjlok 30%

Minggu, 20 Agustus 2023 - 07:34 WIB
loading...
Dampak Nyata Rusia Blokir...
Ekspor biji-bijan laut hitam Ukraina mengalami penurunan tajam setelah Rusia blokir kesepakatan laut hitam. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Ekspor biji-bijian, minyak sayur, hingga makanan Ukraina mengalami penurunan tajam. Hal tersebut setelah Rusia menghentikan kesepakatan yang mengizinkan ekspor dari Ukraina ke Laut Hitam atau Black Sea Grain Initiative.

Mengutip Reuters, analis menyebutkan Ukraina hanya mampu mengekspor 3,2 juta ton biji-bijian, minyak sayur, dan makanan dalam empat pekan terakhir hingga 15 Agustus 2023. Adapun angka tersebut turun dari 4,4 dan 4,8 juta ton atau 30% pada Mei dan Juni ketika kesepakatan Laut Hitam masih berlaku.

Baca Juga: Prajurit Rusia Terlalu Tangguh, Tentara Bayaran Amerika Serikat Menyesal Ikut Berperang di Ukraina

Penurunan tersebut menandai kemunduran yang signifikan bagi ekonomi Ukraina dan ketahanan pangan global, bahkan dengan bantuan senilai 1 miliar euro oleh Uni Eropa untuk membangun rute alternatif sejak dimulainya invasi Rusia.

Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah bekerja sama dengan mitra di Eropa untuk menjaga agar ekspor biji-bijian tetap jalan, mengandalkan sungai seperti Danube dan jalan lain setelah jalur laut menjadi tidak aman. "Kuncinya adalah pelabuhan sungai," kata ekonom senior di Oxford Economics Evghenia Sleptsova.

Namun, meningkatkan volume melalui jalur tersebut terbukti sulit. Pasalnya, sekarang Rusia mulai membom Izmail dan Reni, dua pelabuhan di sepanjang Danube yang diserang awal pekan ini.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa dalam waktu sebulan setelah kesepakatan biji-bijian terheti, sudah ada tujuh serangan di pelabuhan dengan drone dan rudal, menandakan betapa sulitnya menemukan solusi yang dapat diandalkan.

Sementara, anggota dewan Klub Agribisnis Ukraina Alex Lissitsa mengatakan ada juga kendala logistik sehingga dibutuhkan beberapa kargo membutuhkan waktu empat kali lipat lebih lama untuk sampai ke Danube sekarang dibandingkan dengan sebulan yang lalu karena kemacetan lalu lintas.

Keterlambatan dan volume pengiriman yang lebih kecil juga menyebabkan biaya transportasi yang lebih tinggi. Direktur operasional di pemasok Agrotrade Group Olena Vorona mengatakan perusahaannya benar-benar mengubah arah arus ke pelabuhan Danube dan jalur kereta api bahkan sebelum kesepakatan biji-bijian runtuh, tetapi biaya transportasi naik hingga 50 persen.

"Di banyak daerah, petani kemungkinan besar akan berpikir untuk mengurangi penaburan sereal musim dingin, karena harga yang ditawarkan pasar tidak menutupi biayanya," kata Lissitsa.

Baca Juga: Rusia Peringatkan Pasukan Ukraina: Lawan Rezim Kiev atau Menyerah!

Sementara, operator kereta api Ukraina mengatakan bahwa waktu tunggu di perlintasan perbatasan menuju negara-negara Eropa saat ini sekitar 5-6 hari. Ketuanya Yevhen Lyashchenko, mengatakan kepada Bloomberg bahwa pihaknya sedang mempersiapkan peningkatan ekspor kereta api. Itu mungkin tidak cukup untuk mencegah perlambatan yang lebih luas.

Menurut Sleptsova dari Oxford Economics, biji-bijian dan biji minyak Ukraina bisa turun seperempat pada paruh kedua tahun ini dibandingkan dengan semester pertama. "Itu akan menjadi menekan produk domestik bruto (PDB) Ukraina hingga 3 persen pada paruh kedua tahun ini," katanya.

Perdagangan biji-bijian Rusia sendiri diuntungkan dari kelemahan Ukraina. Ekspor tanamannya tengah booming, dan diperkirakan mencapai hampir seperempat dari perdagangan gandum global pada musim 2023-2024.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apindo: DSI Bisa Perkuat...
Apindo: DSI Bisa Perkuat Tata Kelola Ekspor Tanpa Menambah Beban Dunia Usaha
Wamenhub Sebut Potensi...
Wamenhub Sebut Potensi Penerimaan Negara Lewat PT DSI Bisa Tembus Rp2.671 Triliun
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Rekomendasi
Ekuador vs Jerman: Der...
Ekuador vs Jerman: Der Panzer Kejar Angka 12
Blok M Jadi Lokasi Awal...
Blok M Jadi Lokasi Awal Penerapan Kawasan Rendah Emisi Jakarta
Anggota DPD RI Desak...
Anggota DPD RI Desak Pemkab Bima Atasi Krisis Air Bersih di Desa Bajo
Berita Terkini
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
EV Services: Membangun...
EV Services: Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Semakin Terintegrasi
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Infografis
Rusia Serang 40.000...
Rusia Serang 40.000 Ton Biji-bijian Ukraina untuk Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved