Rupiah Berbalik Menguat Lawan Dolar AS, Hari Ini Bertengger ke Rp15.246
Kamis, 24 Agustus 2023 - 18:39 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan pengaruh musiman di Juli tetap terjadi, terlihat dari kenaikan inflasi bulanan sebesar 0,21% secara bulanan (mtm) di Juli 2023 dibandingkan 0,14% mtm di Juni 2023. Tidak hanya inflasi, perekonomian juga berada pada tren jangka panjang dengan pertumbuhan sebesar 5,17% pada triwulan kedua 2023.
Pertumbuhan sebesar 5,17% yoy ini terutama didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, yang melonjak menjadi 5,23% yoy dari 4,54% yoy. Purchasing Managers Index (PMI) hanya mengalami sedikit peningkatan menjadi 53,3 dari 52,5 di bulan Juni.
Selain itu, setelah menahan kenaikan pada Juni, The Fed melanjutkan siklus pengetatan untuk melawan inflasi dengan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,22%- 5,50% pada pertemuan FOMC Juli 2023.
Kenaikan suku bunga ini diperkirakan akan menjadi kenaikan yang terakhir pada 2023, karena inflasi AS telah turun drastis menjadi 3,0% yoy pada Juni 2023 dari puncaknya sebesar 9,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam hal ini, untuk meredam gejolak Rupiah yang berasal dari ketidakpastian pengetatan moneter yang agresif oleh the Fed, BI baru-baru ini memperkuat kebijakan Dana Hasil Ekspor (DHE) untuk meningkatkan cadangan devisa.
Dari sentimen eksternal, dolar AS melemah terhadap mata uang lainnya setelah data menunjukkan bahwa pertumbuhan aktivitas bisnis AS adalah yang terlemah sejak bulan Februari, mendorong imbal hasil Treasury AS turun kembali dari level tertinggi dalam beberapa dekade karena para pedagang memperkirakan pendinginan aktivitas ekonomi akan memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi.
Namun demikian, pergerakan tersebut kecil karena pasar menunggu dimulainya simposium Jackson Hole, dimana pidato Ketua Fed Jerome Powell dapat meningkatkan mata uang AS jika ia tetap bersikap keras terhadap inflasi.
Pertumbuhan sebesar 5,17% yoy ini terutama didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, yang melonjak menjadi 5,23% yoy dari 4,54% yoy. Purchasing Managers Index (PMI) hanya mengalami sedikit peningkatan menjadi 53,3 dari 52,5 di bulan Juni.
Selain itu, setelah menahan kenaikan pada Juni, The Fed melanjutkan siklus pengetatan untuk melawan inflasi dengan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,22%- 5,50% pada pertemuan FOMC Juli 2023.
Kenaikan suku bunga ini diperkirakan akan menjadi kenaikan yang terakhir pada 2023, karena inflasi AS telah turun drastis menjadi 3,0% yoy pada Juni 2023 dari puncaknya sebesar 9,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam hal ini, untuk meredam gejolak Rupiah yang berasal dari ketidakpastian pengetatan moneter yang agresif oleh the Fed, BI baru-baru ini memperkuat kebijakan Dana Hasil Ekspor (DHE) untuk meningkatkan cadangan devisa.
Dari sentimen eksternal, dolar AS melemah terhadap mata uang lainnya setelah data menunjukkan bahwa pertumbuhan aktivitas bisnis AS adalah yang terlemah sejak bulan Februari, mendorong imbal hasil Treasury AS turun kembali dari level tertinggi dalam beberapa dekade karena para pedagang memperkirakan pendinginan aktivitas ekonomi akan memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi.
Namun demikian, pergerakan tersebut kecil karena pasar menunggu dimulainya simposium Jackson Hole, dimana pidato Ketua Fed Jerome Powell dapat meningkatkan mata uang AS jika ia tetap bersikap keras terhadap inflasi.
Lihat Juga :