alexa snippet

Pasar Properti di Jakarta Timur Tumbuh Pesat

Pasar Properti di Jakarta Timur Tumbuh Pesat
Prajawangsa City menghadirkan konsep one stop living. Foto/prajawangsacity.web.id
A+ A-
JAKARTA - Tak bisa dipungkiri, banyak kaum urban yang berasal dari kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cikarang dan Karawang mencari nafkah di Jakarta. Di hari kerja, mereka biasanya menetap sementara di hunian sewaan yang tersebar di Jakarta. Baru kemudian kembali lagi ke rumah asalnya pada akhir pekan.

Belakangan, muncul tren baru. Masyarakat memilih membeli hunian vertikal di Jakarta. Selain menjadi tempat tinggal sementara pengganti hunian sewa, mereka menjadikan investasi dengan cara disewakan sebagai hunian.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, memaparkan, konsep hunian vertikal atau apartemen sudah lama ada di Jakarta dengan proyek apartemen pertama Ratu Plaza yang beroperasi tahun 1981. Konsep apartemen saat itu adalah mendekatkan hunian dengan lingkungan kerja seiring langkanya lahan untuk hunian di tengah kota.

Konsep ini masih relevan hingga saat ini, terutama karena ruwetnya transportasi, harga tanah yang terus merangkak naik, dan aktifitas yang makin menuntut mobilitas tinggi, sehingga apartemen menjadi salah satu jawaban atas kebutuhan hunian.

"Pertimbangan untuk tinggal di apartemen saat ini tidak hanya lokasi, tetapi ada beragam pertimbangan, seperti akses transportasi, reputasi pengembang, fasilitas yang didapatkan penghuni, harga, cara pembayaran dan faktor yang mendukung kenyamanan penghuni apartemen, seperti tempat belanja, rumah sakit, sekolah, komersial, dan lain-lain," tegas Ferry di Jakarta Jumat (17/3/2017).

Ferry pun menambahkan, saat ini perkembangan apartemen di Jakarta sangat pesat, khususnya di Jakarta Timur seperti Cakung, Buaran, dan Cijantung. Bahkan, di Jakarta Timur bagian selatan ada beberapa proyek apartemen yang sudah beroperasi dan sedang dibangun.

Dari semua proyek, Prajawangsa City karya Synthesis Development adalah yang terbesar dengan sekitar 4.000 unit dari 8 tower.  Managing Director Prajawangsa City, Mandrowo Sapto menyampaikan, banyak pekerja di Jakarta mulai menyadari bahwa kualitas dan produktifitas terbuang karena setiap hari harus pergi dan pulang dari rumahnya di Tangerang, Bogor, Depok atau Bekasi.

Selain itu, kata dia, beberapa hasil penelitian menemukan, jauhnya jarak antara rumah ke kantor menyebabkan produktifitas tidak maksimal, rentan mengalami stres, waktu terbuang karena terjebak macet, dan semangat kerja menurun.

Kondisi tersebut menjadi alasan meningkatnya minat membeli apartemen di Jakarta sebagai transit home. Prajawangsa City berkonsep one stop living atau superblock, kawasan ini berstatus strata title, dimana tanahnya murni pembebasan oleh Synthesis Development. "Saat ini kami diminati oleh generasi milenial karena berlokasi di Jakarta dan memiliki karakteristik hunian nyaman, praktis, dinamis, modern, dan simple," papar Mandrowo. 

Mandrowo menjelaskan, Prajawangsa City menjadi pilihan karena lokasinya di Cijantung yang masih masuk wilayah Jakarta, kemudahan akses transportasi ke kawasan perkantoran TB Simatupang yang hanya berjarak 1,5 kilometer (km) dari Prajawangsa.

Selain itu, Prajawangsa City potensial menjadi pilihan hunian bagi pekerja di kawasan industri di sepanjang jalan Raya Bogor menuju Tol Cijago, serta harganya bersahabat mulai di kisaran Rp300 jutaan.

Prajawangsa City dikenal sebagai superblok terbesar pertama di Jakarta yang mengedepankan konsep 50% taman atau lahan hijau dari area seluas 7 hektare serta memiliki fasilitas lengkap. Seperti 1 km jogging track, kids pool, thematic pool, area barbeque, fitness center, pusat perbelanjaan, pusat kuliner, bahkan kebun tanaman herbal dan tanaman rempah yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana belajar aplikatif bagi penghuni untuk tetap bisa berkebun layaknya di hunian tapak, akan hadir di Prajawangsa City.



(ven)
loading gif
Top