Mengenal Hilirisasi, Program yang Diusung Jokowi untuk Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Selasa, 12 September 2023 - 11:07 WIB
loading...
Mengenal Hilirisasi,...
Presiden Joko Widodo mendorong kebijakan hilirisasi untuk memajukan sektor ekonomi Indonesia. Foto/BPMI Setpres
A A A
JAKARTA - Hilirisasi menjadi program yang belakangan ini digaungkan Presiden Joko Widodo . Selain untuk memajukan sektor ekonomi Indonesia, hilirisasi juga meningkatkan nilai tambah di sektor industri.

Program hilirisasi industri menjadi salah satu langkah penting bagi Indonesia untuk menjadi negara maju pada tahun 2045 mendatang.

Meski terdengar menjanjikan, tentunya masyarakat perlu mengetahui lebih detail tentang hilirisasi industri yang diterapkan oleh Presiden Jokowi.

Pengertian Hilirisasi


Hilirisasi pada dasarnya adalah meningkatkan kinerja sektor industri manufaktur untuk menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Kebijakan tersebut sangat berkaitan dengan peningkatan nilai tambah di sektor industri.

Baca Juga 5 Kebijakan Hilirisasi Nikel Indonesia yang Bikin Marah Uni Eropa

Program hilirisasi industri mulai dikemukakan di pertemuan Group of Twenty (G20) di Roma Oktober 2021 lalu. Ketika Presiden Jokowi menawarkan opsi untuk melakukan kerja sama barang setengah jadi atau barang jadi.

Penawaran barang setengah jadi atau barang jadi ini dilakukan untuk mengatasi kebijakan beberapa negara yang akan mengurangi ekspor nikel.

Dengan memanfaatkan tambang nikel yang berlimpah di Indonesia, Presiden Jokowi berharap untuk masyarakat bisa berkembang dengan tidak hanya mengirim bahan mentah saja. Kebijakan itu didukung sepenuhnya oleh Kementerian Perindustrian.

Dilansir dari laman Kemenperin, multiplier effect atau dampak berganda dari aktivitas hilirisasi industri yang telah terbukti nyata. Di antaranya meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri, menarik investasi masuk di tanah air, menghasilkan devisa besar dari ekspor, dan menambah jumlah serapan tenaga kerja.

Baca Juga Anak Buah Luhut Sebut Papua Nugini Kepincut Hilirisasi ala Indonesia

Untuk menyukseskan program hilirisasi yang diusung, pada tahun 2023 Kemenperin fokus menjalankan kebijakan hilirisasi industri di tiga sektor, yakni industri berbasis agro, berbasis bahan tambang dan mineral, serta berbasis migas dan batu bara.

Industri berbasis agro yang tengah ditekankan oleh Kemenperin ini adalah peningkatan nilai tambah pada komoditas kelapa sawit menjadi oleofood complex(pangan dan nutrisi), oleochemical and biomaterial complex(bahan kimia dan pembersih), dan bahan bakar nabati berbasis sawit (seperti biodiesel, green diesel, greenfuel, dan biomass).

Dalam laman Sekretariat Kabinet RI, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa "bila kemudian hilirisasi ini berhasil untuk semua mineral, perkebunan, pertanian, perikanan, semuanya bisa di hilirisasi. Kalau hitung-hitungannya World Bank, McKinsey, IMF, OECD, itu di 2040 sampai 2045, saya yakin ini bisa agak maju."

Presiden Jokowi juga mengatakan bahwa hilirisasi telah menciptakan sejumlah dampak positif bagi perekonomian Indonesia, di antaranya membuka kesempatan kerja secara signifikan.

Itu dibuktikan dengan peningkatan tenaga kerja di pengolahan nikel di Sulawesi Tengah. Serta dibeberkan juga pendapatan negara setelah hilirisasi.

Lebih lanjut, Presiden menegaskan bahwa program hilirisasi ini tidak berhenti hanya pada industri mineral saja, tetapi juga pada sektor lainnya, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi secara nasional.
(okt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kembangkan Agroforestri,...
Kembangkan Agroforestri, MANU Perkuat Hilirisasi Hasil Hutan di Jatim
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Beban Berat Kelas Menengah...
Beban Berat Kelas Menengah di Tengah Kenaikan Pertamax jadi Rp16.250/Liter
Tsingshan Dorong Kolaborasi...
Tsingshan Dorong Kolaborasi Hilirisasi Nikel Ramah Lingkungan di Indonesia
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
Evita: Ekspor Satu Pintu...
Evita: Ekspor Satu Pintu Harus Jadi Instrumen Hilirisasi, Bukan Ubah Jalur Penjualan
Wali Kota Tangsel Dorong...
Wali Kota Tangsel Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak UMKM-Ekonomi Kerakyatan
Rekomendasi
Saudari Cristiano Ronaldo...
Saudari Cristiano Ronaldo Ngamuk usai Portugal Ditahan Kongo, Bruno Fernandes Ikut Disindir
Dokter Tifa Pakai Kursi...
Dokter Tifa Pakai Kursi Roda hingga Dibopong usai Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Berita Terkini
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved