Quantum Leap Pelindo Pascamerger, Siap Songsong Indonesia Emas
Rabu, 20 September 2023 - 20:04 WIB
loading...
A
A
A
Pelindo menyadari, pelabuhan memiliki peran strategis dalam rantai pasok logistik khususnya melalui efisiensi port stay dan cargo stay. Peningkatan performa pelabuhan akan berkontribusi pada penurunan port stay suatu barang di pelabuhan sehingga dapat memberikan efisiensi biaya operasional bagi pelanggan, dalam hal ini shipping line, dan pada akhirnya menciptakan SLA (Service Level Agreement) yang lebih baik.
Penurunan port stay dan cargo stay akan memberikan kontribusi pada penurunan biaya logistik dari aspek pelabuhan. "Kami senantiasa melakukan perbaikan dan transformasi pelayanan operasional melalui standardisasi pada layanan. Melalui inisiatif ini, kami telah berhasil menurunkan port stay dan cargo stay," jelas Ali.
Sebagai gambaran, standardisasi layanan operasional peti kemas pada Pelabuhan Sorong, telah berhasil meningkatkan produktivitas peralatan dari 10 Box/Ship/Hour menjadi rata-rata 24 Box/Ship/Hour sehingga menurunkan port stay dan cargo stay dari 72 jam atau 3 hari menjadi rata-rata 24 jam atau 1 hari. Selain standarisasi, Pelindo juga melakukan digitalisasi layanan operasional untuk beberapa layanan melalui implementasi sistem layanan operasional yaitu melalui implementasi Sistem Layanan Peti Kemas (Palapa), Sistem Layanan Non Peti Kemas (PTOS-M), dan Sistem Layanan Kapal (Phinnisi).
Selain itu, Pelindo juga mendorong terjadinya efisiensi jaringan logistik di mana saat ini terdapat tantangan yakni adanya ketidakseimbangan perekonomian yang menyebabkan disparitas kargo dan inefisiensi jaringan pelayaran. Untuk mengatasi tantangan ini, Pelindo mendorong terjadinya efisiensi rute dengan optimalisasi jaringan Hub and Spoke melalui konsolidasi kargo di pelabuhan utama/hub sehingga mendukung penciptaan aktivitas ekonomi secara merata di Indonesia. Efisiensi rute yang dilakukan akan meningkatkan skalabilitas muatan serta meminimalisir rute direct port-to port dan diharapkan dapat menyerap biaya logistik dari Barat ke Timur dan sebaliknya sehingga berkontribusi pada efisiensi biaya logistik.
Khusus untuk Tanjung Priok, sebagai pelabuhan tersibuk yang dikelola Pelindo,yang utilisasinya telah mencapai 70%, saat ini sedang disiapkan perluasannya. Perluasan ini diperlukan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus menjaga performanya sebagai pintu gerbang utama Indonesia.
Terminal New Priok tahap I telah beroperasi sejak 2016, yaitu New Priok Container Terminal 1 (NPCT1) yang dioperasikan melalui kemitraan Pelindo dengan mitra global Mitsui, PSA dan NYK Line. Realisasi pencapaian throughput pada 2022 mencapai 1,2 juta TEUs, naik sebesar 7% jika dibandingkan dengan tahun 2021 sebanyak 1,1 juta TEUs.
Saat ini, sedang dibangun infrastruktur dasar Container Terminal 2 dan 3 (CT2 dan CT3) serta Product Terminal 1 dan 2 (PT1 & PT2) yang sesuai standar internasional dengan panjang dermaga 800 meter per terminal, kedalaman hingga -20 mLWS, dan lapangan penumpukan petikemas seluas 32 Ha per terminal sehingga mampu menampung hingga 1,5 juta TEUs per tahun per terminal. Sedangkan PT1 dan PT2 masing-masing memiliki luas 24 Ha dengan kapasitas 500 ribu m3 per terminal.
Untuk CT2 dan PT1 ditargetkan mulai beroperasi di tahun 2026. Sedangkan goperasian CT3 dan PT2 akan disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas tambahan Pelabuhan Tanjung Priok ke depannya," terang Direktur Strategi Pelindo, Prasetyo dalam keterangan resmi.
Baca Juga: 14 Bakal Calon Presiden AS di Pemilu 2024
Terminal ini juga akan dilengkapi dengan akses jalan khusus New Priok Eastern Access (NPEA), jalan terusan dari Jalan Tol Cibitung Cilincing (JTCC) yang saat ini telah beroperasi secara penuh sepanjang 34 kilometer. Akses ini bersama-sama dengan akses eksisting akan membantu kelancaran arus barang keluar masuk Terminal New Priok ketika nantinya beroperasi penuh.
Selama ini, truk-truk kontainer melewati Jalan Tol Jakarta-Cikampek melalui Cikunir Ramp dan Jakarta Outer Ring Road (JORR) Seksi E2 dan E3 menuju Cilincing. Waktu tempuhnya pada saat normal hanya 1 jam, tapi pada jam sibuk membutuhkan waktu hingga 3 jam. Dengan adanya akses JTCC, waktu tempuh perjalanan dari kawasan industri di wilayah timur Jakarta dapat dipangkas menjadi hanya sekitar 30 menit. Hal ini menjadi bagian komitmen dari Pelindo dalam mengurangi emisi karbon di sekitar pelabuhan guna mendukung konsep green port.
Dua truk itu masuk dan keluar area IKT dengan cepat, hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk melintasi gerbang utama. Ini lantaran IKT telah mengadopsi teknologi informasi yang menghadirkan efisiensi di segala lini. Salah satunya yakni penerapan Radio Frequency Identification (RFID).
RFID menggunakan verifikasi informasi digital dengan adopsi sistem autogate. Dengan penggunaan teknologi RFID yang terintegrasi, sistem pencatatan dari pemilik kargo hingga pencatatan di Bea Cukai menjadi terintegrasi. Saat masuk gate terminal, spesifikasi unit kendaraan telah terbaca RFID sehingga data-data kendaraan masuk ke dalam server RFID. Selanjutnya, data-data di dalam RFID bisa diakses oleh pemilik unit kendaraan dalam hal ini pabrikan, terkait dengan penempatan unit kendaraan di lahan penumpukan maupun gedung parkir, hingga dokumen-dokumen yang diterbitkan Bea Cukai.
Transformasi dan inovasi yang dilakukan IKT yang sejalan dengan Pelindo itu terbukti mampu mendukung peningkatan ekspor mobil nasional. "Tanjung Priok memang menjadi andalan ekspor kendaraan bermotor," tegas Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara kepada SINDOnews.
Bagi industri kendaraan bermotor nasional, beragam fasilitas dan layanan yang dihadirkan IKT mampu membantu kelancaran proses ekspor maupun impor kendaraan dalam bentuk Completely Bulit Up (CBU) mapun Completely Knocked Down (CKD). Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh IKT yakni dermaga yang memiliki kedalaman yang mampu disandari oleh kapal-kapal besar (mother vessels). "Kapal-kapal besar bisa bersandar dan mengangkut banyak kendaraan," tutur Kukuh.
Penurunan port stay dan cargo stay akan memberikan kontribusi pada penurunan biaya logistik dari aspek pelabuhan. "Kami senantiasa melakukan perbaikan dan transformasi pelayanan operasional melalui standardisasi pada layanan. Melalui inisiatif ini, kami telah berhasil menurunkan port stay dan cargo stay," jelas Ali.
Sebagai gambaran, standardisasi layanan operasional peti kemas pada Pelabuhan Sorong, telah berhasil meningkatkan produktivitas peralatan dari 10 Box/Ship/Hour menjadi rata-rata 24 Box/Ship/Hour sehingga menurunkan port stay dan cargo stay dari 72 jam atau 3 hari menjadi rata-rata 24 jam atau 1 hari. Selain standarisasi, Pelindo juga melakukan digitalisasi layanan operasional untuk beberapa layanan melalui implementasi sistem layanan operasional yaitu melalui implementasi Sistem Layanan Peti Kemas (Palapa), Sistem Layanan Non Peti Kemas (PTOS-M), dan Sistem Layanan Kapal (Phinnisi).
Selain itu, Pelindo juga mendorong terjadinya efisiensi jaringan logistik di mana saat ini terdapat tantangan yakni adanya ketidakseimbangan perekonomian yang menyebabkan disparitas kargo dan inefisiensi jaringan pelayaran. Untuk mengatasi tantangan ini, Pelindo mendorong terjadinya efisiensi rute dengan optimalisasi jaringan Hub and Spoke melalui konsolidasi kargo di pelabuhan utama/hub sehingga mendukung penciptaan aktivitas ekonomi secara merata di Indonesia. Efisiensi rute yang dilakukan akan meningkatkan skalabilitas muatan serta meminimalisir rute direct port-to port dan diharapkan dapat menyerap biaya logistik dari Barat ke Timur dan sebaliknya sehingga berkontribusi pada efisiensi biaya logistik.
Khusus untuk Tanjung Priok, sebagai pelabuhan tersibuk yang dikelola Pelindo,yang utilisasinya telah mencapai 70%, saat ini sedang disiapkan perluasannya. Perluasan ini diperlukan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus menjaga performanya sebagai pintu gerbang utama Indonesia.
Terminal New Priok tahap I telah beroperasi sejak 2016, yaitu New Priok Container Terminal 1 (NPCT1) yang dioperasikan melalui kemitraan Pelindo dengan mitra global Mitsui, PSA dan NYK Line. Realisasi pencapaian throughput pada 2022 mencapai 1,2 juta TEUs, naik sebesar 7% jika dibandingkan dengan tahun 2021 sebanyak 1,1 juta TEUs.
Saat ini, sedang dibangun infrastruktur dasar Container Terminal 2 dan 3 (CT2 dan CT3) serta Product Terminal 1 dan 2 (PT1 & PT2) yang sesuai standar internasional dengan panjang dermaga 800 meter per terminal, kedalaman hingga -20 mLWS, dan lapangan penumpukan petikemas seluas 32 Ha per terminal sehingga mampu menampung hingga 1,5 juta TEUs per tahun per terminal. Sedangkan PT1 dan PT2 masing-masing memiliki luas 24 Ha dengan kapasitas 500 ribu m3 per terminal.
Untuk CT2 dan PT1 ditargetkan mulai beroperasi di tahun 2026. Sedangkan goperasian CT3 dan PT2 akan disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas tambahan Pelabuhan Tanjung Priok ke depannya," terang Direktur Strategi Pelindo, Prasetyo dalam keterangan resmi.
Baca Juga: 14 Bakal Calon Presiden AS di Pemilu 2024
Terminal ini juga akan dilengkapi dengan akses jalan khusus New Priok Eastern Access (NPEA), jalan terusan dari Jalan Tol Cibitung Cilincing (JTCC) yang saat ini telah beroperasi secara penuh sepanjang 34 kilometer. Akses ini bersama-sama dengan akses eksisting akan membantu kelancaran arus barang keluar masuk Terminal New Priok ketika nantinya beroperasi penuh.
Selama ini, truk-truk kontainer melewati Jalan Tol Jakarta-Cikampek melalui Cikunir Ramp dan Jakarta Outer Ring Road (JORR) Seksi E2 dan E3 menuju Cilincing. Waktu tempuhnya pada saat normal hanya 1 jam, tapi pada jam sibuk membutuhkan waktu hingga 3 jam. Dengan adanya akses JTCC, waktu tempuh perjalanan dari kawasan industri di wilayah timur Jakarta dapat dipangkas menjadi hanya sekitar 30 menit. Hal ini menjadi bagian komitmen dari Pelindo dalam mengurangi emisi karbon di sekitar pelabuhan guna mendukung konsep green port.

Pintu Gerbang Menumpuk Devisa
Hari sudah menjelang petang, namun truk pengangkut mobil masih hilir mudik keluar masuk kawasan Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) atau IPCC. Pelabuhan khusus ekspor dan impor kendaraan bermotor ini memang menjadi andalan pabrikan otomotif untuk mengapalkan barangnya ke luar negeri. Truk Hino milik PT Puninar Jaya bernopol B 9518 TEI yang mengangkut Toyota Avanza berpapasan dengan Truk pengangkut Toyota Hilux milik PT Puninar Logistics bernopol B 9515 TEI di pintu gerbang IKT. Toyota Avanza akan dikapalkan ke Filipina, sedangkan Toyota Hilux merupakan mobil kabin ganda yang diimpor dari Thailand.Dua truk itu masuk dan keluar area IKT dengan cepat, hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk melintasi gerbang utama. Ini lantaran IKT telah mengadopsi teknologi informasi yang menghadirkan efisiensi di segala lini. Salah satunya yakni penerapan Radio Frequency Identification (RFID).
RFID menggunakan verifikasi informasi digital dengan adopsi sistem autogate. Dengan penggunaan teknologi RFID yang terintegrasi, sistem pencatatan dari pemilik kargo hingga pencatatan di Bea Cukai menjadi terintegrasi. Saat masuk gate terminal, spesifikasi unit kendaraan telah terbaca RFID sehingga data-data kendaraan masuk ke dalam server RFID. Selanjutnya, data-data di dalam RFID bisa diakses oleh pemilik unit kendaraan dalam hal ini pabrikan, terkait dengan penempatan unit kendaraan di lahan penumpukan maupun gedung parkir, hingga dokumen-dokumen yang diterbitkan Bea Cukai.
Transformasi dan inovasi yang dilakukan IKT yang sejalan dengan Pelindo itu terbukti mampu mendukung peningkatan ekspor mobil nasional. "Tanjung Priok memang menjadi andalan ekspor kendaraan bermotor," tegas Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara kepada SINDOnews.
Bagi industri kendaraan bermotor nasional, beragam fasilitas dan layanan yang dihadirkan IKT mampu membantu kelancaran proses ekspor maupun impor kendaraan dalam bentuk Completely Bulit Up (CBU) mapun Completely Knocked Down (CKD). Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh IKT yakni dermaga yang memiliki kedalaman yang mampu disandari oleh kapal-kapal besar (mother vessels). "Kapal-kapal besar bisa bersandar dan mengangkut banyak kendaraan," tutur Kukuh.
Lihat Juga :