Meneropong Ancaman Perlambatan Ekonomi China Terhadap Indonesia
Senin, 02 Oktober 2023 - 15:14 WIB
loading...
A
A
A
Hal ini tercermin dari sisi volume ekspor Indonesia ke China sepanjang semester pertama 2023 naik 45,4%, pembalikan kuat setelah semester pertama tahun lalu yang turun 25,4%. "Kita masih melihat ada peluang untuk mendapatkan dampak positif dari pembukaan kembali ekonomi China," kata Febrio.
Seperti diketahui kondisi ekonomi China sedang mengalami banyak tekanan, dimana salah satunya imbas adanya krisis pada sektor properti. Sejak 2021, beberapa perusahaan real estate besar di China bangkrut, seperti Country Garden dan Evergrande. Padahal, sektor tersebut menjadi salah satu sumber lapangan kerja bagi masyarakat di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Dilansir The New York Times pada Selasa (5/9/2023), ada beberapa penyebab krisis properti di China. Di antaranya, selama beberapa puluh tahun terakhir, pemerintah China gencar memberi izin properti meminjam dalam jumlah besar untuk membiayai proyeknya.
Hanya saja pada 2020, pemerintah menghentikan gelembung pada sektor perumahan dengan menghentikan aliran dana ke perusahaan real estate. Penghentian itu lewat kebijakan utang tidak boleh lebih dari 70% aset, lalu utang bersih tidak lewat dari 100% ekuitas, dan cadangan uang minimal 100% dari utang jangka pendek.
Akibat kebijakan itu, perusahaan properti besar di China mengalami gagal bayar. Lembaga pemeringkat Standard & Poor's melaporkan, sebanyak 50 perusahaan properti di negara tersebut tidak bisa membayar utang dalam tiga tahun terakhir.
Tekanan terhadap ekonomi China tidak berhenti sampai di situ, selanjutnya efek dari lesunya konsumsi masyarakat, inflasi yang rendah atau mengalami deflasi, sektor manufaktur yang melambat, hingga krisis yang menimpa beberapa sektor serta melonjaknya tingkat pengangguran muda di China.
Indonesia dinilai tetap perlu mewaspadai kondisi perekonomian China yang tengah menurun. Itu karena, risiko keuangan yang ditimbulkan dari masalah China perlu waktu ditambah Indonesia merupakan salah satu mitra dagang utama Negeri Tirai Bambu.
Seperti diketahui kondisi ekonomi China sedang mengalami banyak tekanan, dimana salah satunya imbas adanya krisis pada sektor properti. Sejak 2021, beberapa perusahaan real estate besar di China bangkrut, seperti Country Garden dan Evergrande. Padahal, sektor tersebut menjadi salah satu sumber lapangan kerja bagi masyarakat di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Dilansir The New York Times pada Selasa (5/9/2023), ada beberapa penyebab krisis properti di China. Di antaranya, selama beberapa puluh tahun terakhir, pemerintah China gencar memberi izin properti meminjam dalam jumlah besar untuk membiayai proyeknya.
Hanya saja pada 2020, pemerintah menghentikan gelembung pada sektor perumahan dengan menghentikan aliran dana ke perusahaan real estate. Penghentian itu lewat kebijakan utang tidak boleh lebih dari 70% aset, lalu utang bersih tidak lewat dari 100% ekuitas, dan cadangan uang minimal 100% dari utang jangka pendek.
Akibat kebijakan itu, perusahaan properti besar di China mengalami gagal bayar. Lembaga pemeringkat Standard & Poor's melaporkan, sebanyak 50 perusahaan properti di negara tersebut tidak bisa membayar utang dalam tiga tahun terakhir.
Tekanan terhadap ekonomi China tidak berhenti sampai di situ, selanjutnya efek dari lesunya konsumsi masyarakat, inflasi yang rendah atau mengalami deflasi, sektor manufaktur yang melambat, hingga krisis yang menimpa beberapa sektor serta melonjaknya tingkat pengangguran muda di China.
Indonesia dinilai tetap perlu mewaspadai kondisi perekonomian China yang tengah menurun. Itu karena, risiko keuangan yang ditimbulkan dari masalah China perlu waktu ditambah Indonesia merupakan salah satu mitra dagang utama Negeri Tirai Bambu.
(akr)
Lihat Juga :