Peningkatan Suku Bunga Mengancam Ekonomi Global

Jum'at, 11 Agustus 2017 - 06:13 WIB
Peningkatan Suku Bunga...
Peningkatan Suku Bunga Mengancam Ekonomi Global
A A A
WASHINGTON - Peningkatan suku bunga yang secara mendadak diyakini oleh Mantan kepala ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) Ken Rogoff bisa menjadi ancaman terbesar bagi ekonomi global. Rogoff yang terkenal lewat prediksi kejatuhan bank besar selama krisis keuangan, memperingatkan bahwa orang telah terbiasa untuk bunga yang rendah.

Seperti dilansir dari BBC, Ia juga mengatakan bahwa kebijakan ekonomi pemerintah Donald Trump berpotensi menghadirkan risiko. Sebelumnya Ia mengatakan bahwa China adalah ancaman nomor satu. Namun Rogoff menambahkan kondisi saat ini adalah tingkat utang pribadi dan perusahaan telah bangkit dalam ekonomi global. Sementara suku bunga ditahan pada level terendah di banyak negara untuk mendorong investor.

Dengan bunga rendah diharapkan investor lebih banyak menanamkan modal dan menghabiskan dana besar setelah krisis keuangan. Rogoff memperingatkan selama ini banyak orang sudah terbiasa dengan suku bunga ultra rendah. “Jika ada sesuatu yang terjadi mendorong tingkat suku bunga naik, kita bisa melihat banyak titik lemah, tempat di mana ada hutang yang tinggi,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan bahwa kebijakan ekonomi Gedung Putih menurutnya menciptakan ketidakpastian, tanpa menyebut kebijakan tertentu. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai mengejar agenda perdagangan proteksionis lainnya dan mencoba untuk melonggarkan peraturan yang dibawa untuk melindungi sistem keuangan pasca krisis.

Trump juga telah berjanji untuk memangkas pajak dan meningkatkan pengeluaran pada sektor infrastruktur. “Risikonya adalah Gedung Putih atau AS akan melakukan sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal. Mungkin tampak hiperbolik, tapi kami semua menahan nafas," sambung Rogoff.

Dia menambahkan, Cina yang selama ini memiliki perekonomian terbesar kedua di dunia tetap menjadi ancaman karena masalah utangnya sendiri. Begitu juga ketidakstabilan politik dan ketergantungan pada ekspor.

Berbicara sepuluh tahun sejak awal krisis keuangan, Rogoff mengatakan AS secara substansial telah pulih dari kemerosotan seperti yang terjadi 2007-2008. Tapi dia mengatakan generasi saat ini memiliki bakat dan banyak orang muda telah berjuang untuk mencari pekerjaan sebagai akibatnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menguak 3 Alasan IMF...
Menguak 3 Alasan IMF Melukiskan Gambaran Suram Ekonomi Global di Sisa 2022
Indonesia Menuju Ekonomi...
Indonesia Menuju Ekonomi Terbesar Dunia
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
3 Negara BRICS Kuasai...
3 Negara BRICS Kuasai Lima Besar Ekonomi Terbesar di Dunia
IMF Sebut Proyeksi Ekonomi...
IMF Sebut Proyeksi Ekonomi di Tahun 2023 Bakal Makin Suram
Dunia dalam Bahaya,...
Dunia dalam Bahaya, Utang Global Tumbuh Lebih Cepat dari Ekonomi Dunia
Berita Terkini
TBS Foundation Dukung...
TBS Foundation Dukung Penanganan Kesehatan Warga Terdampak Kebakaran TPA Jatiwaringin
1 jam yang lalu
Ruang Kenaikan IHSG...
Ruang Kenaikan IHSG Diprediksi Terbatas Pekan Depan ke Level 5.900, Ini Sebabnya
2 jam yang lalu
Kemenkeu Bidik Raup...
Kemenkeu Bidik Raup Rp32 Triliun lewat Lelang Surat Utang Negara
3 jam yang lalu
Lanjutkan Tren Swasembada...
Lanjutkan Tren Swasembada Pangan RI, Mentan: Sudah 8 Komoditas, Tinggal Tiga Belum
3 jam yang lalu
Sektor Industri Bermasalah,...
Sektor Industri Bermasalah, RI Rawan Disalip Vietnam Jadi Negara Berpenghasilan Tinggi
5 jam yang lalu
Pakar Ungkap Kalkulasi...
Pakar Ungkap Kalkulasi Soal Alasan Harga Pertamax Belum Turun
7 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved