alexa snippet

Apindo Sebut Pertumbuhan Ritel Sudah Ngos-ngosan

Apindo Sebut Pertumbuhan Ritel Sudah Ngos-ngosan
Logo Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia. Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey menyebut pertumbuhan ritel saat ini cenderung ngos-ngosan demi berjuang untuk hidup. Padahal, industri ritel memberi kontribusi besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

"Ritel itu ibarat kura-kura yang membawa beban. Di tahun 2012-2013, itu puncaknya dan sekarang di 2017, melambat sampai titik nadir," ungkapnya di Jakarta, Rabu (13/9/2017).

Roy menjelaskan, pada 2009, paska reformasi, industri ritel hanya tumbuh 4,9%. Saat itu, pertumbuhan ekonomi hanya 4,7% dan ritel hanya 4,9%. Setelah itu, industri ritel naik di 2010, 2011, dan puncaknya 2012. Mulai tahun 2015, industri ini menurun dan 2017 mencapai titik nadir.

Roy lantas membandingkan industri ritel pada edisi 2010-2012 dengan 2015-2017. Kuartal I 2016, industri ritel masih di angka 11,3%. Kemudian anjlok hingga 3,9% pada kuartal II 2016 menjadi 9,2%, terus menurun menjadi 3,9% pada kuartal I 2017 dan puncaknya di kuartal II 2017 hanya 3,7%.

Angka pertumbuhan ritel 3,7% ini, kata Roy, merupakan akumulatif dari semua industri ritel yang terbagi menjadi lima tipe: minimarket, supermarket, hypermarket, department store, dan kulakan. Dan untuk modern trade sebesar 4,8% dan traditional trade 2,9%.

Jadi menurut Roy, saat ini industri ritel di Tanah Air mengalami perlambatan pertumbuhan. "Bisa dibayangkan industri ritel saat ini, yang seharusnya bisa diandalkan terus mengalami penurunan. Sebab kalau positif, seharusnya industri ini tumbuh di atas 10%," jelas dia.
(ven)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top