alexametrics

1.200 Pegawai Kena PHK Imbas Kejatuhan Bisnis Ritel

loading...
1.200 Pegawai Kena PHK Imbas Kejatuhan Bisnis Ritel
Gugurnya beberapa gerai di sektor industri ritel telah membuat setidaknya sekitar 1.200 pegawai terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) seperti diungkap Aprindo. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Gugurnya beberapa gerai di sektor industri ritel telah memaksa para pekerja untuk kehilangan mata pencahariannya. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan, setidaknya sudah ada sekitar 1.200 pegawai terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, dari bisnis 7-Eleven yang beberapa bulan lalu bangkrut saja sudah menelan korban sekitar 800 pegawai. Belum lagi perusahaan lain hingga total mencapai 1.200.

"7-Eleven itu kan kita hitung ada 167 toko, kali 5 orang lah itu sudah 800-an ditambah dengan format yang lain. Mungkin sudah sekitar 1.200 orang. Itu dari 7-Eleven dan dengan yang lain-lain," ujarnya di Jakarta, Rabu (1/11/2017).



Lebih lanjut Ia menjelaskan, keputusan PHK tersebut tidak hanya memberatkan para pegawai, melainkan juga dari sisi pengusaha. Pasalnya ketika sudah berdarah-darah karena bisnis hancur, juga harus menanggung biaya lain seperti pesangon bagi pekerja.

Menurut Roy, tidak semua pengusaha ritel masih bisa mengembangkan bisnis setelah beberapa atau semua gerainya tutup. Sebagian dari mereka justru kesulitan keuangan, termasuk untuk membayar pesangon dari pegawai yang kena PHK.

"Kita belum tahu, kita serahkan kepada pemerintah untuk bantu memikirkan. Karena kita enggak bisa memikirkan lagi, enggak mampu membayar," pungkasnya.

Sebagai informasi, industri ritel ini cukup besar dalam hal jumlah pegawai yakni sebanyak 14 juta jiwa dari hulu ke hilir. Jika tidak segera diantisipasi, bukan tidak mungkin korban PHK bisa makin banyak.

Setelah PT Modern Sevel Indonesia, anak dari PT Modern International Tbk menutup semua gerai 7-Eleven (Sevel) di Indonesia pada pertengahan tahun lalu. Perlahan tapi pasti bisnis ritel mengalami tekanan berat di tengah perubahan gaya hidup dan belanja konsumen saat ini yang lebih memilih Online.

Akibatnya PT Matahari Putra Prima Tbk menutup dua gerai Hypermart yang dianggap tak menguntungkan pada Juli 2017. Penutupan dua gerai itu disebabkan berbagai faktor, salah satunya lokasi yang sudah tidak mendukung.

Sedangkan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) menutup dua gerainya di kawasan Pasaraya Blok M dan Manggarai pada akhir September 2017. Keputusan ini diambil karena perusahaan menganggap dua gerai tersebut tidak memberikan kontribusi pendapatan signifikan.

Kinerja keuangan per semester I-2017, penjualan Matahari Department Store menyusut 27,4% menjadi Rp3,76 triliun jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Terbaru PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sebagai induk pusat perbelanjaan Lotus mengumumkan semua gerai Lotus.

Setelah dua gerai sudah lebih dulu tutup, tiga gerai lainnya akhir Oktober tahun ini menyusul ditutup. Tiga gerai itu berlokasi di Thamrin Jakarta, Bekasi dan Cibubur.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak