Perry Warjiyo Jadi Sosok Pembawa QRIS ke Pentas Global
Sabtu, 09 Desember 2023 - 21:15 WIB
loading...
A
A
A
BI menyebut ada banyak kelebihan pembayaran non-tunai dibanding tunai alias cash keras. Di antaranya menciptakan sistem pembayaran yang aman, efisien dan lancar, yang pada gilirannya akan dapat mendorong sistem keuangan nasional bekerja secara efektif dan efisien.
Pembayaran non-tunai juga mampu meminimalisasi kendala dalam pembayaran tunai, seperti uang tidak diterima karena lusuh, sobek, tidak layak edar. Selanjutnya bisa meningkatkan efisiensi saat transaksi karena masyarakat tidak perlu membawa uang dalam jumlah besar.
Selain itu, pembayaran non-tunai, terutama yang menggunakan QR Code memang tengah menjadi tren dunia. Di China sistem pembayaran non-tunai dengan QR Code malah sudah menyasar kalangan pengemis.
Jumlah pengguna ponsel yang terus meningkat dan semakin kuatnya infrastruktur internet, diyakini juga menjadi alasan BI menghadirkan QRIS. Ponsel bisa dibawa ke mana saja sehingga penggunaan QRIS menjadi semakin leluasa.
Pada tahap awal, QRIS fokus pada penerapan QR Code Payment model Merchant Presented Mode (MPM). Penjual (merchant) akan menampilkan QR Code pembayaran untuk dipindai oleh pembeli (customer) ketika melakukan transaksi pembayaran. Pada tahap awal QRIS juga hanya digunakan di dalam negeri.
BI pun terus mengembangkan QRIS, dan kini seluruh aplikasi pembayaran dari penyelenggara manapun baik bank dan nonbank yang digunakan masyarakat, dapat digunakan di seluruh toko, pedagang, warung, parkir, tiket wisata, donasi (merchant) berlogo QRIS, meskipun penyedia QRIS di merchant berbeda dengan penyedia aplikasi yang digunakan masyarakat.
BI pun memperluas penggunaan QRIS hingga ke mancanegara. Bekerja sama dengan empat bank sentral negara ASEAN, yakini Bank Negara Malaysia (BNM), Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), Monetary Authority of Singapore (MAS), dan Bank of Thailand (BOT), penggunaan QRIS semakin meluas. Bahkan, perluasan QRIS bakal menjangkau negara di luar ASEAN, seperti Jepang dan Korea Selatan.
Pembayaran non-tunai juga mampu meminimalisasi kendala dalam pembayaran tunai, seperti uang tidak diterima karena lusuh, sobek, tidak layak edar. Selanjutnya bisa meningkatkan efisiensi saat transaksi karena masyarakat tidak perlu membawa uang dalam jumlah besar.
Selain itu, pembayaran non-tunai, terutama yang menggunakan QR Code memang tengah menjadi tren dunia. Di China sistem pembayaran non-tunai dengan QR Code malah sudah menyasar kalangan pengemis.
Jumlah pengguna ponsel yang terus meningkat dan semakin kuatnya infrastruktur internet, diyakini juga menjadi alasan BI menghadirkan QRIS. Ponsel bisa dibawa ke mana saja sehingga penggunaan QRIS menjadi semakin leluasa.
Pada tahap awal, QRIS fokus pada penerapan QR Code Payment model Merchant Presented Mode (MPM). Penjual (merchant) akan menampilkan QR Code pembayaran untuk dipindai oleh pembeli (customer) ketika melakukan transaksi pembayaran. Pada tahap awal QRIS juga hanya digunakan di dalam negeri.
BI pun terus mengembangkan QRIS, dan kini seluruh aplikasi pembayaran dari penyelenggara manapun baik bank dan nonbank yang digunakan masyarakat, dapat digunakan di seluruh toko, pedagang, warung, parkir, tiket wisata, donasi (merchant) berlogo QRIS, meskipun penyedia QRIS di merchant berbeda dengan penyedia aplikasi yang digunakan masyarakat.
BI pun memperluas penggunaan QRIS hingga ke mancanegara. Bekerja sama dengan empat bank sentral negara ASEAN, yakini Bank Negara Malaysia (BNM), Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), Monetary Authority of Singapore (MAS), dan Bank of Thailand (BOT), penggunaan QRIS semakin meluas. Bahkan, perluasan QRIS bakal menjangkau negara di luar ASEAN, seperti Jepang dan Korea Selatan.
Lihat Juga :