alexametrics

Reynold Wijaya, Modalku Menjangkau Lebih Banyak UKM

loading...
Reynold Wijaya, Modalku Menjangkau Lebih Banyak UKM
Reynold Wijaya, Modalku Menjangkau Lebih Banyak UKM. (Dok. Pribadi).
A+ A-
STARTUP yang didirikan Reynold Wijaya menjadi angin segar bagi para pelaku usaha kecil-menengah (UKM) karena bisa membantu memberikan pinjaman modal.

Namanya Modalku. Startup ini berkembang pesat hingga menembus Malaysia dan Singapura. Bahkan belum lama ini, nama Reynold masuk dalam 30 Under 30 Asia versi Forbes bersama Iwan Kurniawan, co-founder Modalku. Mereka menjadi satu dari 30 anak muda berpengaruh di Asia. Modalku berbentuk financial technology (fintech).

Pemilik usaha mempunyai satu tambahan sumber pinjaman modal usaha, selain bank dan institusi keuangan. Platform peer-to-peer (P2P) lending atau crowdfunding menjadi pilihan terbaik pengganti pinjaman dari bank. Sebelum dinobatkan sebagai satu dari 30 anak muda berpengaruh di Asia versi Forbes, apa sebenarnya yang Modalku lakukan bagi para pelaku UKM di Tanah Air? Seperti apa pula Reynold melihat keberhasilannya kini? Inilah cerita lelaki 29 tahun itu kepada KORAN SINDO.

Apa kesan Anda setelah dimasukkan Forbes ke dalam 30 Under 30?
Sangat bangga karena kerja kita diakui di kancah global, khususnya di kawasan Asia. Tetapi sebenarnya ini bukan tujuan akhir. Semoga ini membuat kami lebih dikenal dan bermanfaat bagi UKM di Indonesia.

Bagaimana awal mula Modalku berdiri?
Diawali saat saya masih kuliah S-2 di Amerika Serikat (AS), tahun 2015. Saya bersama teman saya, Kevin dan Iwan Kurniawan, ingin membangun suatu perusahaan teknologi. Kami percaya, masa depan Indonesia penuh dengan teknologi. Kita bicara revolusi. Saya dan Kevin masih di AS, sementara Iwan sudah di Indonesia.

Kami membangun ini dari jarak jauh. Bisnis ini berdiri bukan karena faktor uang. Kami ingin membuat sesuatu yang baru, juga bukan karena teknologi semata, tapi ada impact-nya. Kami percaya, kalau ingin memiliki bisnis yang berimpact di bidang keuangan harus fintech, seperti alternatif baru. Fintech pun banyak jenisnya.

Kami cari yang paling oke, yang paling dibutuhkan dan tentu dapat bekerja de ngan baik ke depannya. Kami melihat di Indonesia masalah besar adalah di bidang pembiayaan. Kalau kita lihat di OJK, gap kita Rp1.000 triliun pertahun.

Jumlah ini lebih besar daripada supply. Ditambah Indonesia negara kepulauan yang luas, sehingga membuat infrastrukturnya mahal. Masyarakatnya pun melakukan pembayaran masih mengandalkan cash,jadi tidak efisien. Transaksi men jadi mahal. Modalku mulai launching pada 2016 saat saya lulus dan kembali ke Indonesia.

Bagaimana perkembangan Modalku saat ini?
Perkembangan Modalku cukup bagus. Kami masuk empat besar di Asia Tenggara. Modalku punya lisensi di tiga negara yaitu Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri sudah terdaftar di OJK. Sebanyak 3.000 usaha yang kami bantu dan hampir Rp1,4 triliun dikeluarkan. Intinya para pelaku UKM harus melihat lingkungan bisnis.

Kalau ingin bisnis berkembang harus memiliki modal lagi. Tapi ketika ingin meminjam modal pasti ditanya kolateral. Jadi, jika ingin berkembang harus tambah modal, tapi juga harus punya agunan. Ya kalau tidak punya agunan bagaimana bisa tambah modal? Nah, tujuan kami memutus itu semua.

Sebenarnya pelihara agunan pun mahal, tempat untuk menyimpan surat-surat tersebut, bukan lantas ada agunan makin murah. Tapi, kalau pinjamannya Rp10 miliar, ngeri juga tanpa agunan. Cuma ini kan beda, hanya sekitar Rp200 juta. Hal tersebut adalah area di mana kita bisa meminjamkan tanpa agunan. Kalau memang menggunakan agunan, agunan seperti apa yang senilai Rp200 juta.

Bagaimana sistem di Modalku untuk meminjam modal?
Usahanya harus sudah berjalan setahun, bukan startup. Kalau baru mulai itu namanya investasi dari Ventura. Di UKM memang tidak terlalu besar, tapi mereka sangat profitable. Kami melayani bidang usaha apa saja dan di lakukan masih di kota-kota besar. Berhubung masih baru, sudah beberapa juga di luar Jawa dan cukup besar nilainya. Ke depan kami akan meluaskan jangkauan hingga daerah-daerah lain di Indonesia.

Untuk promosi, apa yang dilakukan Modalku, mengingat tidak semua masyarakat menggunakan internet?
Bagi para peminjam kami memiliki komunitas, ada sales team sendiri. Kombinasi antara offline dan online. Memang karena tidak semua orang berada di dunia maya, jadi kami juga harus secara nyata berhubungan langsung kepada UKM. Kalau yang kami kasih pinjam rata-rata memang via online.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak