Investor Energi Baru Terbarukan Diyakini Bakal Deras Masuk ke Indonesia, Ini Sebabnya
Kamis, 11 Januari 2024 - 11:10 WIB
loading...
Investor energi baru terbarukan (EBT) diyakini bakal deras masuk ke Indonesia. Dengan transisi energi bersih, seperti angin dan matahari, tidak hanya membantu mengatasi perubahan iklim tetapi juga polusi udara dan kesehatan. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Founder Bumi Global Karbon (BKG) Foundation, Achmad Deni Daruri optimistis, investor energi baru terbarukan (EBT) bakal deras masuk ke Indonesia. Selama ini, Indonesia adalah importir bersih bahan bakar fosil terbesar di dunia. Artinya, pasar EBT di dalam negeri sangat menggiurkan, seiring tingginya kesadaran publik akan energi ramah lingkungan .
"Sekitar 270 juta penduduk bergantung pada bahan bakar fosil dari negara lain, yang membuat Indonesia rentan terhadap guncangan dan krisis geopolitik. Sebaliknya, Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah, namun potensinya belum sepenuhnya dimanfaatkan," kata Deni, Jakarta, Rabu (10/1/2024).
Baca Juga: Luhut Beberkan Wanti-wantinya Soal Kerja Sama EBT dengan Amerika Serikat
Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) memproyeksikan 90% pasokan listrik dunia berasal dari EBT. Artinya, pengembangan EBT di Indonesia, menjadi solusi untuk keluar dari ketergantungan impor.
Soal harga, Deni menilai, saat ini, EBT merupakan pilihan daya termurah di sebagian besar dunia. Biaya listrik dari tenaga surya, turun 85% dalam 1 dekade (2010- 2020). Biaya energi angin darat dan lepas pantai, masing-masing turun 56% dan 48%.
"Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 99 persen orang di dunia menghirup udara yang melebihi batas kualitas udara, dan mengancam kesehatan mereka. Dan lebih dari 13 juta kematian di dunia per tahun, disebabkan pencemaran, termasuk polusi udara," ungkapnya.
Baca Juga: Siapkan SDM di Masa Transisi Energi
Pada 2018, polusi udara dari bahan bakar fosil menimbulkan dampak ekonomi dan kesehatan, melahirkan kerugian hingga USD2,9 triliun atau setara USD8 miliar per hari.
"Sekitar 270 juta penduduk bergantung pada bahan bakar fosil dari negara lain, yang membuat Indonesia rentan terhadap guncangan dan krisis geopolitik. Sebaliknya, Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah, namun potensinya belum sepenuhnya dimanfaatkan," kata Deni, Jakarta, Rabu (10/1/2024).
Baca Juga: Luhut Beberkan Wanti-wantinya Soal Kerja Sama EBT dengan Amerika Serikat
Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) memproyeksikan 90% pasokan listrik dunia berasal dari EBT. Artinya, pengembangan EBT di Indonesia, menjadi solusi untuk keluar dari ketergantungan impor.
Soal harga, Deni menilai, saat ini, EBT merupakan pilihan daya termurah di sebagian besar dunia. Biaya listrik dari tenaga surya, turun 85% dalam 1 dekade (2010- 2020). Biaya energi angin darat dan lepas pantai, masing-masing turun 56% dan 48%.
"Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 99 persen orang di dunia menghirup udara yang melebihi batas kualitas udara, dan mengancam kesehatan mereka. Dan lebih dari 13 juta kematian di dunia per tahun, disebabkan pencemaran, termasuk polusi udara," ungkapnya.
Baca Juga: Siapkan SDM di Masa Transisi Energi
Pada 2018, polusi udara dari bahan bakar fosil menimbulkan dampak ekonomi dan kesehatan, melahirkan kerugian hingga USD2,9 triliun atau setara USD8 miliar per hari.
Lihat Juga :