Jelang Rilis Neraca Perdagangan, IHSG Pekan Depan Diprediksi Konsolidasi
Minggu, 14 Januari 2024 - 12:00 WIB
loading...
IHSG diperkirakan bakal konsolidasi di rentang 7.220-7.250 pada perdagangan pekan depan. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak konsolidasi di area 7.220-7.250 pada awal pekan depan. Rilis data neraca perdagangan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Senin (15/1) depan akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam negeri.
Data neraca perdagangan akan menjadi petunjuk pelaku pasar untuk menguji ketahanan ekspor dan impor. Mengutip riset dari Phintraco Sekuritas, Indonesia diproyeksikan mengalami surplus perdagangan sebesar USD1,92 miliar untuk periode Desember 2023. Ekspektasi ini lebih rendah dari angka sebelumnya USD2,41 miliar.
Baca Juga: IHSG Sepekan Anjlok 1,49%, Emiten Prajogo Pangestu Paling Boncos
"Penurunan surplus neraca perdagangan sejalan dengan perkiraan penurunan nilai ekspor sebesar -8,1% yoy di Desember 2023, dari sebelumnya -8,56% pada November 2023," tulis riset tersebut, dikutip Minggu (14/1/2024).
Dari luar negeri, pasar dinilai menantikan sejumlah rilis inflasi dari negara-negara maju, seperti Jerman yang diperkirakan akan mencatatkan inlfasi 3,7% yoy. Selanjutnya, Amerika Serikat (AS) yang akan mengumumkan data penjualan ritel mereka sebagai acuan melihat ketahanan konsumsi masyarakat.
Data neraca perdagangan akan menjadi petunjuk pelaku pasar untuk menguji ketahanan ekspor dan impor. Mengutip riset dari Phintraco Sekuritas, Indonesia diproyeksikan mengalami surplus perdagangan sebesar USD1,92 miliar untuk periode Desember 2023. Ekspektasi ini lebih rendah dari angka sebelumnya USD2,41 miliar.
Baca Juga: IHSG Sepekan Anjlok 1,49%, Emiten Prajogo Pangestu Paling Boncos
"Penurunan surplus neraca perdagangan sejalan dengan perkiraan penurunan nilai ekspor sebesar -8,1% yoy di Desember 2023, dari sebelumnya -8,56% pada November 2023," tulis riset tersebut, dikutip Minggu (14/1/2024).
Dari luar negeri, pasar dinilai menantikan sejumlah rilis inflasi dari negara-negara maju, seperti Jerman yang diperkirakan akan mencatatkan inlfasi 3,7% yoy. Selanjutnya, Amerika Serikat (AS) yang akan mengumumkan data penjualan ritel mereka sebagai acuan melihat ketahanan konsumsi masyarakat.
Lihat Juga :