alexametrics

BI Proyeksikan Pengetatan Likuiditas Masih Berlanjut

loading...
BI Proyeksikan Pengetatan Likuiditas Masih Berlanjut
Bank Indonesia (BI) menyatakan, pengetatan likuiditas diproyeksi masih akan berlanjut. Salah satu faktornya yakni Federal Reserve yang masih akan menaikkan Fed Rate. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan, pengetatan likuiditas diproyeksi masih akan berlanjut. Salah satu faktornya yakni Bank sentral AS, Federal Reserve yang masih akan menaikkan Fed Fund Rate sebanyak 5 kali lagi.

"Tahun ini fed rate diproyeksi akan naikan empat kali. Sebelumnya sudah dua kali, nanti hingga akhir tahun dua kali lagi. Untuk tahun depan diproyeksi tiga kali lagi. Jadi total akan ada 5 kali lagi kenaikan fed rate," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityswara saat acara focus group discussion bersama media di Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Selain itu, kebijakan People Bank of China (PBoC) untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan kebijakan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) untuk menurunkan stimulus berupa pembelian aset-aset portofolio, serta perang dagang (trade war) AS-Tiongkok membuat ketidakpastian global masih akan tinggi. "Jadi trend global memang pada trend pengetatan likuiditas," imbuhnya.

Disamping itu, pelemahan rupiah yang terus memburuk dipicu oleh penguatan dolar. Hingga akhir Juni 2018, pelemahan kurs rupiah mencapai -5,6% year to date (ytd). Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menambahkan, Bank Indonesia akan terus melakukan serangkaian langkah stabilisasi, tidak hanya melalui kebijakan suku bunga yang terukur, namun juga melalui intervensi untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valuta asing (valas) maupun Rupiah.

Selain itu, melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar seperti mengoptimalkan frekuensi lelang instrumen term repo. "Pelemahan rupiah yang sekarang ini masih terkendali, secara tahun juga terkendali sehingga tidak perlu kepanikan," imbuh Perry.

Adapun terkait dengan pergerakan nilai tukar Rupiah, Perry menyebut hal tersebut harus diukur secara relatif dibandingkan dengan negara-negara lain.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak