Hati-hati! Resesi Jepang Bisa Berdampak Besar ke Ekspor Indonesia

Jum'at, 16 Februari 2024 - 20:43 WIB
loading...
Hati-hati! Resesi Jepang...
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, resesi Jepang akan berdampak besar bagi Indonesia dari sisi kinerja ekspor karena salah satu mitra dagang utama.
A A A
JAKARTA - Jepang saat ini resmi sedang mengalami resesi ekonomi usai melaporkan kontraksi produk domestik bruto (PDB) selama dua kuartal berturut-turut. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, resesi Jepang akan berdampak besar bagi Indonesia dari sisi kinerja ekspor karena salah satu mitra dagang utama.

"Jadi resesi yang ada di Jepang ini bisa berpengaruh cukup besar bagi kinerja ekspor Indonesia karena Jepang adalah negara mitra tradisional dan beberapa produk ekspor Indonesia yang mungkin terdampak yang pertama adalah batu bara," kata Bhima saat dikonfirmasi MNC Portal, Jumat (16/2/2024).

Baca Juga: Resesi, Jepang Tak Lagi Jadi Negara Ekonomi Terbesar Ketiga di Dunia

Bhima merinci, barang-barang yang terdampak seperti batu bara itu tercatat bernilai USD8,8 miliar, kemudian disusul oleh komponen elektronik yang angkanya cukup besar USD1,5 miliar dan kemudian nikel USD1,2 miliar, perhiasan USD1,2 miliar dan barang-barang kayu dan turunannya USD1 miliar, karet yang digunakan untuk otomotif USD1 miliar, perikanan ekspor ke Jepang itu USD509 juta.

"Inilah list barang-barang yang akan terdampak karena nilainya sangat besar. Di Jepang juga semakin diperburuk oleh demografi yang semakin besar non produktif atau lansia yang berpengaruh ke konsumsi domestik," ungkap Bhima.

Baca Juga: Resesi Seks Bikin Jepang Lengser dari Peringkat Ketiga Ekonomi Terbesar Dunia

Tetapi di sisi lain, pengaruh ini memberikan sebuah peluang karena Jepang pasti akan melihat potensi investasi di luar negerinya yaitu di Indonesia sebagai negara yang masih berkembang, prospeknya cukup bagus.

"Ini akan membuat industri Jepang mungkin bisa lebih banyak lagi melakukan relokasi pabrik-pabrik ke Indonesia atau menambah capexnya, capital expenditure atau belanja modal ke perluasan pabrik elektronik atau otomotif," kata Bhima.

Dengan demikian, ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah, yang pertama adalah melakukan mitigasi dengan mengalihkan produk-produk yang diekspor ke Jepang, sebagian dialihkan ke pasar alternatif.

"Tentu ini membutuhkan intelligence pasar untuk membaca peluang dan fasilitasi pertemuan dengan calon buyer atau pembeli yang potensial di negara alternatif, disinilah peran dari atase perdagangan, peran kedutaan besar menjadi penting," ujarnya.

Kemudian yang kedua, lanjut Bhima, tentunya pemerintah harus terus melakukan monitoring terutama KSSK melakukan stress test atau uji ketahanan terhadap berbagai indikator makro ekonomi dan stabilitas di sektor keuangan. Hal itu karena memang ada dampak pastinya dari sisi risiko ekonomi Jepang terhadap kawasan global dan juga terhadap domestik Indonesia terutama jalur perdagangan.

Di sisi lain juga pemerintah harus memberikan insentif yang lebih besar lagi kepada para pelaku usaha yang bekerja sama dengan investasi Jepang.

"Terutama di sektor padat karya agar ini menjadi momentum untuk relokasi industri dari Jepang ke Indonesia terutama di sektor elektronik mungkin di pengembangan mobil hybrid dan mobil listrik, industri baterai dan perangkat elektronik serta sektor IT," pungkas Bhima.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Kuwait Tawarkan Minyak...
Kuwait Tawarkan Minyak ke Pembeli Asia, Pertama Kalinya Sejak Konflik Iran
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Ekonom Sarankan PT DSI...
Ekonom Sarankan PT DSI Jadi Pengawas Ekspor SDA, Bukan Eksportir Tunggal
PT DSI Jadi Perantara...
PT DSI Jadi Perantara Tunggal Ekspor 3 Komoditas, Dony Oskaria: Hingga 31 Desember 2026
Suvenir Kapal Perang...
Suvenir Kapal Perang Mikasa dari Menhan Jepang untuk Presiden Prabowo
Menhan Jepang Temui...
Menhan Jepang Temui Presiden Prabowo di Kertanegara, Penguatan Kerja Sama Pertahanan Dibahas
16 Seniman Kontemporer...
16 Seniman Kontemporer Indonesia Boyong Skena Seni Jakarta ke Jepang
Rekomendasi
Polisi Tangkap 2 Pelaku...
Polisi Tangkap 2 Pelaku yang Hendak Culik Lansia di PIK Jakut
Kondisi Haji Bolot Mulai...
Kondisi Haji Bolot Mulai Membaik, Sudah Tak Keluhkan Sesak Napas
Isak-Gyokeres Mengamuk,...
Isak-Gyokeres Mengamuk, Swedia Gilas Tunisia dan Rebut Takhta Grup F
Berita Terkini
AS-Iran Sepakat Damai,...
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
IHSG Dibuka Melesat...
IHSG Dibuka Melesat 1,85% ke 6.118, Mayoritas Saham Menghijau
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp18.000, Buyback Melonjak Rp46.000 per Gram
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Pastikan Kualitas BBM dengan Pengelolaan Impurities di Kilang
Elon Musk Jadi Kuadriliuner...
Elon Musk Jadi Kuadriliuner Pertama di Dunia, Seberapa Banyak Uangnya?
Bank Mantap Dorong Penerapan...
Bank Mantap Dorong Penerapan Gaya Hidup Ramah Lingkungan di Sekolah
Infografis
Waspada! Ini Gejala...
Waspada! Ini Gejala Super Flu yang Masuk ke Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved