alexametrics

BN Wahju, dari Sorowako Jadi Tokoh Pertambangan Nasional

loading...
BN Wahju, dari Sorowako Jadi Tokoh Pertambangan Nasional
Sekjen IMA Tony Wenas menyerahkan buku biografi B.N Wahju kepada istri almarhum, Soffie Wahju, di Jakarta, Senin (21/1). Foto/Dok.IMA
A+ A-
JAKARTA - Bagi masyarakat umum di Indonesia, nama Beni Nurtjahja Wahju memang asing didengar, tapi tidak untuk kalangan pertambangan. Pria kelahiran Depok, 10 Mei 1934 dan wafat di Jakarta pada 21 Januari 2012, selama hidupnya berkarir di bidang pertambangan dan merupakan salah satu geologist terbaik di Asia Tenggara.

Untuk mengenang kiprah dan jasanya bagi pertambangan di Indonesia, Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA), mempersembahkan sebuah buku berjudul 'BN Wahju, dari Sorowako jadi Tokoh Pertambangan Nasional', pada Senin (21/1/2019).

Buku ini menceritakan kiprah Beni Wahju, mulai dari masa kuliah Beni di Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB), berkiprah di Direktorat Geologi (sebelumnya bernama Djawatan Geologi), sebagai pionir keberadaan PT INCO (sekarang PT Vale Indonesia Tbk).



Mengawali karir sebagai geologist di Direktorat Geologi, Beni Wahyu sempat menelusuri sejumlah wilayah untuk mencari cadangan bahan tambang. Beni juga sempat menambah ilmunya dengan belajar geologi di Colorado School of Mines di Amerika Serikat. Tak hanya itu, Beni sempat belajar juga di USGS (United States Geological Survey) dan sejumlah short course untuk mengasah keahliannya.

Dedikasinya terhadap profesinya sebagai geologist, membuat geologiwan Kanada, Charlie Michener, yang bergabung dengan INCO pada 1935, yang pernah melakukan penjelajahan berkeliling dunia mencari nikel menjuluki Beni sebagai geologist spesialis nikel.

Bersama Hitler Singawinata dan Rumengan Musu, Beni merupakan pionir keberadaan tambang nikel Sorowako yang dikelola oleh PT INCO. Di sini jalan hidupnya berubah. Beni tak lagi menjadi pegawai di Direktorat Geologi, tetapi bergabung dengan INCO. Di perusahaan Kanada tersebut, selain terus menjalani kegiatan eksplorasi, Beni dapat menyumbangkan pemikirannya untuk masyarakat sekitar dan negara.

Salah satunya adalah pemikirannya agar PT INCO membangun smelter di sekitar wilayah tambang. Smelter PT INCO menjadi smelter pertama yang dibangun perusahaan tambang asing.

Selain mengurusi hal-hal teknis terkait pekerjaannya sebagai geologist, Beni ternyata mampu memberikan pemikiran agar PT INCO dapat memperhatikan masyarakat sekitarnya dengan lebih intens. Sehingga PT INCO mampu menjadi prime mover daerah sekitarnya.

Setelah pensiun dari PT INCO, Beni aktif di IMA sejak 1999-2012 menjelang akhir hidupnya. Pada 1998, Beni sempat menjadi Ketua IMA hingga 2005. Selanjutnya, hingga 2012, Beni menjadi Badan Pengawas di IMA.

Ketika industri pertambangan "terancam" oleh persoalan judicial review yang diajukan sejumlah LSM ke Mahkamah Konstitusi menyangkut keberadaan UU nomor 19 tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU nomor 41 tahun 1999, Beni menjadi salah satu tokoh yang berdiri di depan memperjuangkan "nasib" industri pertambangan. Berkat kegigihan Beni, Soetaryo Sigit, dan lainnya, sektor pertambangan dapat kembali tegak meneruskan operasinya.

Beni dikenal sebagai orang yang mempunyai visi mempromosikan good mining practices. Beni sangat peduli dengan pengelolaan dampak lingkungan, agar lahan yang sudah ditambang dapat dihijaukan kembali atau berkesinambungan. Secara sadar Beni menerapkan prinsip-prinsip kesinambungan ekosistem alam dan budaya, bahkan keberlangsungan hidup satwa-satwa langka di sekitar area tambang.

Termasuk pengelolaan dampak sosial, Beni sangat dekat peduli dengan pendidikan dan dekat dengan masyarakat sekitar. Beni juga sangat berkontribusi terhadap berdirinya smelter di Sorowako. Komitmen terhadap good mining practices ini tetap menjadi bagian penting dari PT Vale Indonesia hingga sekarang.

Keluwesannya dalam bergaul, nampak dari komentar tokoh dalam buku ini dalam mengenang "kepergian" Beni. Tak kurang Prof Dr Emil Salim dan Prof Dr Kuntoro Mangkusubroto menyumbangkan tulisannya tentang kesannya terhadap Beni Wahyu. Belum lagi sejumlah pimpinan perusanaan tambang lainnya. Hal ini menunjukkan bagaimana pribadi Beni di mata mereka.

Dalam kiprahnya, Beni mampu menunjukkan bahwa dia tak hanya seorang geologist tetapi juga sekaligus seorang environment. Sehingga tak aneh jika namanya diabadikan menjadi nama salah satu spesies ikan yang hidup di Sulawesi. Beni adalah salah satu tokoh pertambangan di Indonesia yang namanya akan selalu dikenang.
(ven)
preload video
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak