alexametrics

Ancaman Stagnasi Ekonomi Inggris di Tengah Brexit dan Kekhawatiran Global

loading...
Ancaman Stagnasi Ekonomi Inggris di Tengah Brexit dan Kekhawatiran Global
Sektor jasa Inggris mengalami stagnasi bulan lalu, seiring penyusutan permintaan untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun berdasarkan indeks manajer pembelian (PMI). Foto/Ilustrasi
A+ A-
LONDON - Sektor jasa Inggris mengalami stagnasi bulan lalu, seiring penyusutan permintaan untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun berdasarkan indeks manajer pembelian (PMI) IHS Markit/CIPS. Angka-angka terbaru menunjukkan 50,1 pada Januari, atau lebih rendah dari 51,2 di Desember.

Seperti dilansir BBC, Chris Williamson dari IHS Markit mengatakan, hasil menunjukkan bahwa ekonomi Inggris beresiko terhenti, stagnan atau bahkan lebih buruk. Dia menambahkan, penyebabnya karena meningkatnya ketidakpastian negosiasi Brexit bertepatan dengan perlambatan ekonomi global yang lebih luas.

Ekonom masih yakin dengan memperkirakan bakal tetap di angka 51 yang berarti di atas 50 masih menunjukkan pertumbuhan. Sebelumnya data akhir pekan lalu, menunjukkan PMI untuk manufaktur berada pada level 52,8 atau lebih rendah dan menjadi terlemah kedua sejak Juli 2016.



Angka-angka tersebut mengungkapkan bahwa produsen Inggris sedang mempersiapkan Brexit alias keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa secara resmi dengan menimbun bahan baku dan ada risiko sektor ini tergelincir ke dalam resesi.

Berbicara mengenai data sektor jasa, Williamson menerangkan, Pertumbuhan hampir terhenti pada Januari, menyamai kabar mengecewakan serupa di sektor manufaktur dan konstruksi. "Tiga bulan terakhir telah melihat ekonomi tergelincir ke pertumbuhan terlemah selama enam tahun dan menunjukkan bahwa PDB cenderung stagnan pada awal 2019 setelah pertumbuhan bertambah moderat hanya 0,1% pada kuartal keempat," paparnya.

Hasil survei menunjukkan bahwa perusahaan menjadi semakin enggan mengambil risiko dan ingin mengurangi biaya overhead dalam menghadapi melemahnya permintaan pelanggan dan meningkatnya ketidakpastian politik.

"Menurutnya kekhawatiran semacam itu pada gilirannya paling sering dikaitkan dengan kecemasan Brexit yang meningkat, meskipun faktor-faktor politik dan ekonomi global yang lebih luas juga terlihat telah mengambil peran atas tergerusnya permintaan," tandasnya.
(akr)
preload video
loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak