alexametrics

LIPSUS INDONESIA 4.0

Manfaatkan Perubahan Pola Berbelanja

loading...
Manfaatkan Perubahan Pola Berbelanja
Manfaatkan Perubahan Pola Berbelanja. (Ilustrasi. SINDOnews).
A+ A-
Pergeseran transaksi perdagangan dari konvensional menjadi digital kian marak dalam beberapa tahun terakhir. Tingginya pertumbuhan e-commerce di Indonesia turut mengubah pola perilaku berbelanja masyarakat.

Melihat hal tersebut, perusahaan ritel kini mulai mentransformasikan bisnisnya. Perusahaan ritel yang sebelumnya puas mengandalkan toko fisik, kini terpaksa ikut mengembangkan bisnisnya dengan transaksi digital dan online.

Dari kacamata Ketua Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mendey melihat sudah 95% anggotanya bertransformasi dari bisnis utama toko fisik menjadi e-commerce atau online. Aprindo mengklaim saat ini memiliki sekitar 600 anggota yang mempunyai 40.000 toko fisik di seluruh Indonesia.



“Masih sekitar 5% lagi yang belum mengubah bisnisnya. Alasannya, karena memang mereka ini adalah pemain lokal dan mereka masih cukup yakin dengan bisnis offline saat ini,” kata Roy beberapa waktu lalu. Dengan transformasi ini tak heran jika banyak dari toko ritel di beberapa pusat perbelanjaan yang ditutup pemiliknya. Masuknya Revolusi Industri 4.0 memang telah mengubah budaya belanja masyarakat Indonesia.

Jika dahulu berbelanja di mal merupakan hiburan sekaligus mengisi waktu luang dengan keluarga, tapi sekarang kaum milenial lebih memilih berbelanja dari ponsel pintarnya. Agar tidak ketinggalan dengan perkembangan zaman, Roy mengaku Aprindo mempersiapkan model bisnis untuk mengembangkan artificial intelligence (AI) dan big data. “Prioritasnya kemungkinan akan masuk pada big data,” katanya. Karena big data sangat berdampak mendongkrak apa yang dilakukan toko ritel saat ini. Pelaku ritel bisa mempelajari customer behaviour dan bisa memenuhi kebutuhan apa yang diinginkan konsumen.

“Nah, itu bisa didapatkan dari big data tentunya,” katanya. Ada banyak pendekatan untuk mengembangkan big data oleh para pemain ritel. Sekarang banyak program bisa dikembangkan misalnya, seperti loyalty program, rewards program, dan menggandeng financial technology (fintech), yang memang banyak kerja sama dengan ritel saat ini dan itu semua akan berujung pada big data.
“Kemudian data customer yang diperluas, baik secara demografinya, populasinya, umurnya, kebiasaannya, dan lainnya. Inilah yang akan menjadi the future retail atau the future commerce,” kata Roy.

Kepala Kantor Universitas Gadjah Mada (UGM) Kampus Jakarta Yahya Agung Kuntadi mengatakan, nilai transaksi bisnis e-commerce di Indonesia semakin besar diestimasi Rp75 triliun (2016), Rp85 triliun (2017), dan Rp100 triliun (2018).

Namun sebaliknya, pada nilai transaksi bisnis ritel konvensional di mal, plaza, dan pusat perbelanjaan mengalami penurunan. Sebagaimana di Amerika Serikat dan Eropa yang telah terjadi penutupan banyak brick and mortar stores , maka gelombang tersebut hanya tinggal menunggu waktu akan tiba di Indonesia.

Tidak bisa dibantah lagi bahwa sudah terjadi perubahan pola belanja di masyarakat Indonesia bahkan dunia yang semakin mengandalkan e-commerce. Generasi milenial akan menjadi kunci pendorong perubahan pola belanja itu. Pada 2018, generasi milenial kelompok usia 15-34 tahun berbasis data BPS diestimasikan sebanyak 84 juta orang. Mereka sudah terbiasa berbelanja online untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya.

Tampaknya mal atau plaza tidak lagi menjadi tempat utama berbelanja, tapi bergeser menjadi tempat bertemu dan hangout bagi generasi milenial. Jika cerdik menyikapi karakteristik generasi milenial yang memiliki pola belanja ritel berbeda dari generasi orang tuanya, maka pelaku bisnis ritel akan mampu meraih keuntungan bisnis dari perubahan jaman ini.

Salah satunya perlu dikembangkan adalah profesi pengamat perilaku konsumen. Profesi ini wajib ada pada setiap perusahaan bisnis ritel guna menangkap selera, tren, preferensi, pengalaman, dan keinginan para konsumen generasi milenial terhadap berbagai produk ritel di pasar.

Penggunaan teknologi informasi termasuk berbagai platform medsos serta observasi lapang di titik-titik kumpul komunitas dapat merekam dinamika tingkah laku generasi milenial di berbagai kota, kemudian dianalisis dan disintesakan untuk memperoleh benang merah hal-hal apa perlu ditawarkan industri ritel kepada mereka.

Strategi konvensional bisnis ritel dengan membangun toko menarik, display memikat, ajang heboh, atau promosi sensasional, tidak lagi bisa dilakukan tanpa memadukan strategi membaca dan memahami perilaku konsumen generasi milenial. Komunikasi interaktif dengan konsumen menjadi kunci industri ritel di zaman now agar bisa terus bertumbuh.

Karena dapat memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan pasar saat ini dan mendatang, bukan pasar kemarin atau dahulu. Komunikasi interaktif harus dilakukan sejajar dalam arti biarlah antargenerasi milenial yang bicara. Para pemimpin perusahaan ritel yang umumnya datang dari generasi pramilenial, sebaiknya memberi kepercayaan dan peran lebih besar bagi generasi milenial untuk memegang tanggung jawab strategis serta penting dalam bisnis ritel dengan tetap diberi supervisi sewajarnya.

Kepala Riset/Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih melihat sangat terbuka kemungkinan kerja sama antara sektor ritel konvensional dengan ecommerce . Ritel konvensional akan mencoba mencari jalan untuk mempertahankan tingkat penjualannya.

Tidak penting medianya lewat mana, apakah akan menggunakan kemudahan teknologi e-commerce. Intinya yang penting produknya terjual. Sama seperti bisnis perbankan, dalam mengembangkan produk perbankan adanya situs online, seperti gopay dan fintech lainnya, maka mau tidak mau perbankan harus merangkul menjadi bagian dari aktivitas perbankan.

Dengan begitu, ritel konvensional juga harus berkolaborasi, misalnya produkproduk di Bukalapak bisa jadi dipasok oleh suplier ritel konvensional tertentu. Memang saat ini transformasi bisnis ritel akan ke arah mana belum begitu nampak, tetapi dari kecenderungan perubahan pola perilaku konsumen yang menjadi lebih suka hal praktis, maka kecenderungan belanja lewat e-commerce akan terus menguat.

KORAN SINDO-Hafid Fuad
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak