Ekonomi Tumbuh Pesat, Siasat Cerdik Rusia Lawan Sanksi Barat Jadi Panutan Dunia

Jum'at, 07 Juni 2024 - 10:49 WIB
loading...
Ekonomi Tumbuh Pesat,...
Rusia berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang mengesankan di tengah gempuran sanksi Barat. FOTO/Sputnik
A A A
JAKARTA - Siasat cerdik Rusia dalam melawan sanksi Barat menjadi panutan dunia. Negara Beruang Merah berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang mengesankan di tengah konflik Ukraina.

Sanksi menjadi alat kebijakan para pemimpin Barat yang ingin melemahkan musuh-musuh global. Dengan meningkatnya sentimen anti-perang di Amerika Serikat (AS), yang lelah dengan konflik akhirnya mengandalkan sanksi ekonomi untuk meningkatkan pengaruhnya secara internasional.

Menurut perkiraan akademisi Manu Karuka, dua pertiga dari sanksi global sejak 1990-an telah dijatuhkan AS dan sepertiga dari jumlah tersebut diaksanakan Joe Biden. Namun sanksi-sanksi tersebut sering tidak mengindahkan etika internasional.

"Sanksi dapat secara signifikan memperburuk situasi penduduk sipil," ujar peneliti Joy Gordon dilansir dari Sputnik, Jumat (7/6/2024).

Baca Juga: Vladimir Putin: di Gaza Itu Bukan Perang, tapi Penghancuran Total Penduduk Sipil

Sanksi ekonomi sering mengorbankan hak-hak sipil karena mencegah akses terhadap makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya. Strategi Rusia berhasil menghindar dari sanksi Barat menjadi momen penting bagi negara-negara Selatan Global untuk bersatu melawan taktik Barat.

Moskow tak hanya selamat dari agresi ekonomi, tetapi juga berhasil berkembang pesat melampaui Jerman dan Jepang untuk menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia, kata analis keamanan Mark Sleboda.
Pakar hubungan internasional ini bergabung dengan program 'The Critical Hour' di Sputnik pada Rabu (26/10) untuk membahas mengapa negara-negara di seluruh dunia semakin melihat Rusia sebagai role model dan mitra ekonomi.

"Saya rasa kita belum sampai pada dunia multipolar, tetapi kita pasti melihat dunia multipolar yang dibayangkan dan kelahirannya sedang terjadi, bahkan jika hegemoni Barat yang dipimpin oleh AS mencoba untuk mencekik kelahiran tersebut dan mencegahnya terjadi," ujar Sleboda, menyetujui premis analisis di situs Orinoco Tribute yang meneliti partisipasi dalam forum SPIEF 2024 yang mengusung Penciptaan Zona Pertumbuhan Ekonomi Baru'.

Baca Juga: SPIEF 2024: Barat Menembak Diri Mereka Sendiri dengan Sanksi Rusia

Produk Domestik Bruto (PDB) yang disesuaikan dengan paritas daya beli selama periode sanksi, Rusia telah berhasil mengalahkan Jerman.

"Dan sekarang, dalam beberapa bulan terakhir Bank Dunia telah mengumumkan angka-angka baru. Rusia telah melompati Jepang untuk mencapai ekonomi terbesar keempat di dunia," kata Sleboda.

"Semua orang ingin tahu bagaimana Rusia bisa menjadi Teflon Don dalam geoekonomi global, karena mereka tidak tahu kapan mereka akan berada di posisi yang sama. Sekarang ada kereta yang datang dan Rusia mengarahkan kereta itu," jelasnya.

Pakar hubungan internasional ini mengatakan negara-negara Afrika memperkuat kerja sama dengan Rusia karena mereka ingin melepaskan diri dari pola ketergantungan yang terbentuk oleh Barat setelah kemerdekaan mereka dari pemerintahan kolonial Barat pada abad ke-20.

"Rusia menjadi inspirasi karena negara-negara Afrika telah lama menderita di bawah hegemoni global Barat yang dipimpin AS," tandasnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Balas Serangan, Harga Minyak Langsung Mendidih
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
Rekomendasi
Ini Makna Logo HUT ke-81...
Ini Makna Logo HUT ke-81 RI yang Telah Resmi Diluncurkan
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Presiden Korea Selatan...
Presiden Korea Selatan Bingung Taegeuk Warriors Tersingkir di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Lippo Hibahkan Lahan...
Lippo Hibahkan Lahan untuk 141 Ribu Rumah di Meikarta, Percepat Program 3 Juta Rumah
Danone Indonesia Dorong...
Danone Indonesia Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Percepat Praktik Bisnis Berkelanjutan
DEPO Tebar Dividen Rp10,2...
DEPO Tebar Dividen Rp10,2 Miliar, Fokus Perluas Ekspansi Bisnis
Dana Pemerintah Rp281...
Dana Pemerintah Rp281 Triliun Dijamin Parkir di Bank BUMN hingga Desember 2026
Sah! Berikut Jajaran...
Sah! Berikut Jajaran Direksi Bursa Efek Indonesia Periode 2026-2030
IHSG Berakhir Jatuh...
IHSG Berakhir Jatuh Makin Dalam Sentuh 5.820, Transaksi Cetak Rp8,7 Triliun
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved