alexametrics

Sanksi AS dan OPEC Bikin Harga Minyak Naik ke Level USD70 per Barel

loading...
Sanksi AS dan OPEC Bikin Harga Minyak Naik ke Level USD70 per Barel
Harga minyak naik akibat pemotongan pasokan oleh OPEC dan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela. Foto/Istimewa
A+ A-
NEW YORK - Harga minyak mentah pada perdagangan Senin (8/4/2019), naik ke level tertinggi sejak November 2018. Pendorongnya adalah terus berlangsungnya pengurangan pasokan oleh OPEC dan sanksi Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Iran dan Venezuela.

Melansir dari Reuters, harga minyak berjangka Brent International naik 38 sen atau 0,5% menjadi USD70,72 per barel pada pukul 02:25 GMT. Ini merupakan harga tertinggi sejak November tahun lalu, dimana harga mencapai USD70,76 per barel.

Begitu pula dengan harga minyak berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) yang naik 37 sen atau 0,6% menjadi USD63,45 per barel. Harga ini juga mendekati level tertinggi sejak November 2018, dimana WTI mencapai USD63,48 per barel.



"Harga minyak acuan Brent telah naik 30% sepanjang tahun ini karena OPEC dan Rusia terus memotong pasikan selama empat bulan beruntun. Dan optimisme pembicaraan dagang AS dan China juga membantu meningkatkan prospek penerimaan," kata bank asal AS, JP Morgan.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia atay dikenal sebagai OPEC +, telah sepakat memotong produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari demi meningkatkan harga.

Sikap OPEC + mendapat dukungan dari konsultan energi FGE, yang mengatakan pengurangan pasokan membuat pasar minyak terlihat sehat, karena kelebihan persediaan telah menyurut. Dan lanjut dia, pasar minyak akan siap menyambut harga naik menjadi USD75 per barel atau lebih tinggi lagi pada harga Brent.

Pedagang menambahkan kenaikan harga juga didukung oleh sanksi AS terhadap dua anggota OPEC: Iran dan Venezuela. Sanksi tersebut memotong 500.000 barel per hari dari ekspor Venezuela. "Pengurangan produksi oleh OPEC + ditambah Iran dan Venezuela, membuat pasokan jadi berkurang dan harga naik secara substansial".

Namun, bukan berarti harga tidak dapat turun di tahun ini. Ada beberapa faktor dimana harga minyak berpotensi melemah. Yaitu Rusia. Ya, Negeri Beruang Merah acapkali enggan untuk melakukan kesepakatan dengan OPEC terlalu lama. Menteri Energi Rusia, Alexander Novak, pada Jumat pekan lalu mengatakan Rusia akan mengakhiri pemangkasan produksi sebelum 1 Juli 2019.

Sebagai informasi, Rusia sebelumnya merupakan produsen minyak mentah tertinggi di dunia. Namun kini telah dikalahkan oleh Amerika Serikat. Produksi minyak Rusia pada 2018 mencapai rekor tertinggi 556 juta ton barel atau setara 11,16 juta barel per hari. Dan AS sekarang sudah memproduksi 12,2 juta barel minyak per hari, mendaulatnya sebagai negara produsen minyak terbesar dunia.

Seiring meningkatnya produksi, AS juga meningkatkan ekspor minyaknya. Sejak tahun ini, ekspor minyak AS menembus 3 juta barel per hari. Bahkan dengan jaringan pipa Permian yang baru, kata FGE, AS akan menambah ekspor lagi sebesar 600.000 barel per hari.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak