PLN Ajukan PMN Rp3 Triliun, Melistriki Daerah 3T Jadi Alasan
Rabu, 10 Juli 2024 - 19:53 WIB
loading...
PLN mengajukan Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun anggaran 2025. FOTO/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN mengajukan Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun anggaran 2025 sebesar Rp3 triliun. Suntikan anggaran negara ini akan dialokasikan untuk program listrik desa (lisdes), terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Usulan PMN tahun depan disampaikan langsung Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (10/7/2024).
Menurutnya, dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) itu dapat digunakan untuk menggenjot target rasio desa berlistrik 100 persen di tahun 2027, target yang dicanangkan melalui program lisdes.
"Untuk itu kami mengajukan alokasi PMN untuk program lisdes senilai Rp3 triliun di tahun 2025. Untuk mendukung target rasio desa berlistrik 100 persen di 2027," ujar Darmawan.
Baca Juga: BUMN Banyak yang Megap-megap, Ini Saran Sri Mulyani
Dia mengaku, investasi pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di daerah 3T sepuluh kali lipat lebih mahal dibandingkan investasi di daerah non-3T. Hitungan ini melalui persentase kenaikan atau penurunan investasi selama periode tertentu atau rate of return (ROR) dari program listrik desa.
Dari hitungan PLN, investasi untuk penyambungan ketenagalistrikan di rumah-rumah daerah non-3T rata-rata di kisaran Rp2 juta - Rp2,5 juta per rumah.
Usulan PMN tahun depan disampaikan langsung Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (10/7/2024).
Menurutnya, dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) itu dapat digunakan untuk menggenjot target rasio desa berlistrik 100 persen di tahun 2027, target yang dicanangkan melalui program lisdes.
"Untuk itu kami mengajukan alokasi PMN untuk program lisdes senilai Rp3 triliun di tahun 2025. Untuk mendukung target rasio desa berlistrik 100 persen di 2027," ujar Darmawan.
Baca Juga: BUMN Banyak yang Megap-megap, Ini Saran Sri Mulyani
Dia mengaku, investasi pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di daerah 3T sepuluh kali lipat lebih mahal dibandingkan investasi di daerah non-3T. Hitungan ini melalui persentase kenaikan atau penurunan investasi selama periode tertentu atau rate of return (ROR) dari program listrik desa.
Dari hitungan PLN, investasi untuk penyambungan ketenagalistrikan di rumah-rumah daerah non-3T rata-rata di kisaran Rp2 juta - Rp2,5 juta per rumah.
Lihat Juga :