Buka Penempatan Pekerja Migran, RI Bisa Kantongi Devisa Rp3,8 T
Senin, 24 Agustus 2020 - 08:39 WIB
loading...
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah. Foto/dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan, Indonesia berpotensi mendapatkan devisa Rp3,8 triliun dengan pembukaan kembali penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) ke-14 negara.
Berdasarkan data dari Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), jumlah remitansi pada 2019 mencapai Rp160 triliun dari 3.742.440 pekerja migran Indonesia. “Merujuk data tersebut, maka calon PMI yang akan berangkat itu 88.973 (orang), maka akan berpotensi meng hasilkan devisa sekitar Rp3,8 triliun,” katanya di Jakarta belum lama ini.
Sebanyak 88.973 calon PMI ini, menurut Ida, siap diberangkatkan dan telah terdaftar di Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Sisko P2MI). “Siap berangkat itu artinya sudah melalui tahapan-tahapan sebagai syarat untuk bekerja ke luar negeri, mulai registrasi, pelatihan, uji kompetensi, pemeriksaan kesehatan, hingga mempunyai visa dan lain-lain,” katanya. (Baca: Kemnaker Minta Pengawas Ketenagakerjaan Pastikan Pekerja Aman)
Ida mengatakan, dikaitkan dengan perhitungan ekonomi dari jumlah calon PMI itu, potensi remitansi yang dihasilkan cukup besar. Dan diharapkan dapat menjadi pengungkit percepatan pemulihan ekonomi, khususnya di tingkat desa atau daerah asal PMI tersebut.
Sementara hasil survei Bank Dunia bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Bank Dunia diperkirakan ada sekitar 9 juta PMI bekerja di luar negeri. Adapun 14 negara siap menerima PMI bekerja tersebut, yakni Aljazair, Australia, Hong Kong, Korea Selatan, Kuwait, Maladewa, Nigeria, Uni Emirat Arab, Polandia, Qatar, Taiwan, Turki, Zambia, dan Zimbabwe.
Berdasarkan data dari Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), jumlah remitansi pada 2019 mencapai Rp160 triliun dari 3.742.440 pekerja migran Indonesia. “Merujuk data tersebut, maka calon PMI yang akan berangkat itu 88.973 (orang), maka akan berpotensi meng hasilkan devisa sekitar Rp3,8 triliun,” katanya di Jakarta belum lama ini.
Sebanyak 88.973 calon PMI ini, menurut Ida, siap diberangkatkan dan telah terdaftar di Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Sisko P2MI). “Siap berangkat itu artinya sudah melalui tahapan-tahapan sebagai syarat untuk bekerja ke luar negeri, mulai registrasi, pelatihan, uji kompetensi, pemeriksaan kesehatan, hingga mempunyai visa dan lain-lain,” katanya. (Baca: Kemnaker Minta Pengawas Ketenagakerjaan Pastikan Pekerja Aman)
Ida mengatakan, dikaitkan dengan perhitungan ekonomi dari jumlah calon PMI itu, potensi remitansi yang dihasilkan cukup besar. Dan diharapkan dapat menjadi pengungkit percepatan pemulihan ekonomi, khususnya di tingkat desa atau daerah asal PMI tersebut.
Sementara hasil survei Bank Dunia bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Bank Dunia diperkirakan ada sekitar 9 juta PMI bekerja di luar negeri. Adapun 14 negara siap menerima PMI bekerja tersebut, yakni Aljazair, Australia, Hong Kong, Korea Selatan, Kuwait, Maladewa, Nigeria, Uni Emirat Arab, Polandia, Qatar, Taiwan, Turki, Zambia, dan Zimbabwe.
Lihat Juga :