Kementan Sosialisasikan dan Uji Rasa Special Bali Beef
Senin, 24 Agustus 2020 - 11:18 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Gubernur NTB, Zulkieflimansyah mengungkapkan akan berkomitmen mengembangkan Special Bali Beef ini di NTB. Pasalnya, NTB menurutnya memiliki potensi besar untuk pengembangan Special Bali Beef karena Lamtaro Taramba untuk pakan melimpah.
Selain itu, Zulkieflimansyah yang mencicipi daging Special Bali Beef ini mengaku terkesan dengan kelembutan dan tekstur dagingnya yang tidak alot. Untuk itu, ia akan berupaya mengembangkan Special Bali Beef ini di daerahnya untuk menjadi komoditas unggulan dari NTB.
Pada kesempatan tersebut, Direktur Jenderal PKH Nasrullah menyampaikan bahwa pengembangan Special Bali Beef ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan peternak, karena harga jual Special Bali Beef lebih tinggi Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu/kg jika dibandingkan dengan daging sapi bali biasa.
"Selain itu, Special Bali Beef ini biaya pemeliharaannya juga cukup rendah dan masa penggemukan yang lebih singkat dari sapi bali biasa," ujar Nasrullah.
Segmentasi pasar untuk Special Bali Beef ini ditargetkan terutama untuk hotel, restoran, dan catering, khususnya untuk daerah pariwisata seperti Bali, Lombok dan kota-kota besar lainnya.
Special Bali Beef ini juga sudah melewati riset bersama antara Universitas Mataram, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, University of Queensland Australia, Massey University of New Zealand, dan Australian Centre for International Agricultural Research sejak tahun 2016.
Pada riset tersebut, Sapi Bali digemukkan dengan memanfaatkan pakan lokal yaitu Lamtoro Taramba tanpa tambahan konsentrat apapun selama minimal 4 bulan. Pertumbuhan Sapi Bali yang digemukan dengan lamtoro sebagai pakan tunggal pada kondisi penelitian adalah 0,47 kg/hari.
"Laju pertumbuhan ini dua kali lebih cepat dibandingkan dengan laju pertumbuhan Sapi Bali yang dilepas di padang atau diberi pakan seadanya oleh peternak," jelas Nasrullah.
Selain itu, Zulkieflimansyah yang mencicipi daging Special Bali Beef ini mengaku terkesan dengan kelembutan dan tekstur dagingnya yang tidak alot. Untuk itu, ia akan berupaya mengembangkan Special Bali Beef ini di daerahnya untuk menjadi komoditas unggulan dari NTB.
Pada kesempatan tersebut, Direktur Jenderal PKH Nasrullah menyampaikan bahwa pengembangan Special Bali Beef ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan peternak, karena harga jual Special Bali Beef lebih tinggi Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu/kg jika dibandingkan dengan daging sapi bali biasa.
"Selain itu, Special Bali Beef ini biaya pemeliharaannya juga cukup rendah dan masa penggemukan yang lebih singkat dari sapi bali biasa," ujar Nasrullah.
Segmentasi pasar untuk Special Bali Beef ini ditargetkan terutama untuk hotel, restoran, dan catering, khususnya untuk daerah pariwisata seperti Bali, Lombok dan kota-kota besar lainnya.
Special Bali Beef ini juga sudah melewati riset bersama antara Universitas Mataram, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, University of Queensland Australia, Massey University of New Zealand, dan Australian Centre for International Agricultural Research sejak tahun 2016.
Pada riset tersebut, Sapi Bali digemukkan dengan memanfaatkan pakan lokal yaitu Lamtoro Taramba tanpa tambahan konsentrat apapun selama minimal 4 bulan. Pertumbuhan Sapi Bali yang digemukan dengan lamtoro sebagai pakan tunggal pada kondisi penelitian adalah 0,47 kg/hari.
"Laju pertumbuhan ini dua kali lebih cepat dibandingkan dengan laju pertumbuhan Sapi Bali yang dilepas di padang atau diberi pakan seadanya oleh peternak," jelas Nasrullah.
Lihat Juga :