Awan Hitam Olimpiade, Menyisakan Lilitan Utang bagi Tuan Rumah
Senin, 12 Agustus 2024 - 02:25 WIB
loading...
A
A
A
Los Angeles adalah satu-satunya kota yang menawarkan dirinya menjadi tuan rumah pada Olimpiade 1984. Mereka menegosiasikan persyaratan yang sangat menguntungkan dengan IOC. Hal terpenting yakni Los Angeles bisa memanfaatkan stadion dan infrastruktur yang sudah ada, daripada menjanjikan fasilitas baru yang mewah untuk menarik komite seleksi IOC.
Dikombinasikan dengan lonjakan tajam dari pendapatan siaran televisi, menjadikan Los Angeles satu-satunya kota yang menghasilkan keuntungan saat menjadi tuan rumah Olimpiade, dimana berakhir dengan surplus USD215 juta.
Keberhasilan Los Angeles menyebabkan meningkatnya jumlah kota yang menawar untuk menjadi tuan rumah Olimpiade, dari yang awalnya hanya ada dua pada 1988 menjadi 12 di 2024. Hal ini memungkinkan IOC untuk memilih kota-kota dengan rencana yang paling ambisius.
Selain itu peneliti Robert Baade dan Victor Matheson mengungkap, penawaran dari negara-negara berkembang meningkat lebih dari tiga kali lipat setelah tahun 1988. Negara-negara seperti China, Brasil, dan Rusia sangat ingin memanfaatkan Olimpiade untuk menunjukkan kemajuan mereka di panggung dunia.
Namun negara-negara ini harus mengucurkan investasi yang tidak sedikit demi membangun infrastruktur yang diperlukan. Biaya mengalami lonjakan menjadi USD20 miliar untuk 2016 di Rio de Janeiro.
Biaya ini menyebabkan beberapa kota menarik tawaran mereka. Pada tahun 2019, IOC mengadopsi proses untuk membuat penawaran lebih murah, memperpanjang periode penawaran dan memperluas persyaratan geografis untuk memungkinkan beberapa kota, negara bagian, atau negara menjadi tuan rumah bersama.
Tapi semua itu belum diterjemahkan datangnya lebih banyak penawar. Pada tahun 2021, Brisbane, Australia, tuan rumah Olimpiade 2032, menjadi kota pertama yang memenangkan tawaran Olimpiade tanpa lawan sejak Los Angeles melakukannya pada tahun 1984.
Tokyo menghabiskan USD50 juta dalam tawaran di tahun 2016 yang berakhir gagal, dan sekitar setengahnya untuk tawaran 2020 yang sukses. Sementara Toronto memutuskan tidak mampu membayar USD60 juta yang dibutuhkan untuk tawaran 2024.
Setelah sebuah kota dipilih untuk menjadi tuan rumah, ia memiliki waktu sekitar 10 tahun untuk mempersiapkan kehadiran atlet dan wisatawan. Olimpiade Musim Panas jauh lebih besar, menarik ratusan ribu wisatawan asing untuk menyaksikan lebih dari sepuluh ribu atlet bersaing dalam sekitar tiga ratus pertandingan olah raga.
Kebutuhan yang paling mendesak adalah membangun atau memoles fasilitas olahraga yang sangat terspesialisasi seperti trek sepeda dan arena lompat ski, Desa Olimpiade, dan tempat yang cukup besar untuk menjadi tuan rumah upacara pembukaan dan penutupan.
Biasanya ada juga kebutuhan untuk infrastruktur yang lebih umum, terutama perumahan dan transportasi. IOC mengharuskan kota-kota yang menjadi tuan rumah Olimpiade memiliki minimal 40.000 kamar hotel yang tersedia.
Namun dalam kasus Rio mengharuskan pembangunan 15.000 kamar hotel baru. Jalan, jalur kereta api, dan bandara juga perlu ditingkatkan atau bahkan dibangun baru.
Secara keseluruhan, biaya infrastruktur ini berkisar dari USD5 miliar hingga lebih dari USD50 miliar. Banyak negara membenarkan pengeluaran besar tersebut dengan harapan apa yang dibangun bisa bertahan lebih lama dari Olimpiade.
Biaya operasional merupakan bagian kecil dari anggaran Olimpiade tuan rumah. Biaya keamanan telah meningkat dengan cepat sejak serangan 9/11, dimana Sydney menghabiskan USD250 juta pada tahun 2000.
Sedangkan Athena merogoh kocek lebih dari USD1,5 miliar pada tahun 2004. Selanjutnya apa yang menjadi masalah adalah pemeliharaan fasilitas olahraga pasca-Olimpiade. Contohnya Stadion Olimpiade Sydney menelan biaya USD30 juta per tahun untuk perawatan.
Dikombinasikan dengan lonjakan tajam dari pendapatan siaran televisi, menjadikan Los Angeles satu-satunya kota yang menghasilkan keuntungan saat menjadi tuan rumah Olimpiade, dimana berakhir dengan surplus USD215 juta.
Keberhasilan Los Angeles menyebabkan meningkatnya jumlah kota yang menawar untuk menjadi tuan rumah Olimpiade, dari yang awalnya hanya ada dua pada 1988 menjadi 12 di 2024. Hal ini memungkinkan IOC untuk memilih kota-kota dengan rencana yang paling ambisius.
Selain itu peneliti Robert Baade dan Victor Matheson mengungkap, penawaran dari negara-negara berkembang meningkat lebih dari tiga kali lipat setelah tahun 1988. Negara-negara seperti China, Brasil, dan Rusia sangat ingin memanfaatkan Olimpiade untuk menunjukkan kemajuan mereka di panggung dunia.
Namun negara-negara ini harus mengucurkan investasi yang tidak sedikit demi membangun infrastruktur yang diperlukan. Biaya mengalami lonjakan menjadi USD20 miliar untuk 2016 di Rio de Janeiro.
Biaya ini menyebabkan beberapa kota menarik tawaran mereka. Pada tahun 2019, IOC mengadopsi proses untuk membuat penawaran lebih murah, memperpanjang periode penawaran dan memperluas persyaratan geografis untuk memungkinkan beberapa kota, negara bagian, atau negara menjadi tuan rumah bersama.
Tapi semua itu belum diterjemahkan datangnya lebih banyak penawar. Pada tahun 2021, Brisbane, Australia, tuan rumah Olimpiade 2032, menjadi kota pertama yang memenangkan tawaran Olimpiade tanpa lawan sejak Los Angeles melakukannya pada tahun 1984.
Berapa biaya Jadi Tuan Rumah Olimpiade?
Kota-kota menginvestasikan jutaan dolar untuk mengevaluasi, mempersiapkan, dan mengajukan tawaran ke IOC. Biaya perencanaan, perekrutan konsultan, penyelenggaraan acara, dan perjalanan yang diperlukan secara konsisten turun antara USD50 juta dan USD100 juta.Tokyo menghabiskan USD50 juta dalam tawaran di tahun 2016 yang berakhir gagal, dan sekitar setengahnya untuk tawaran 2020 yang sukses. Sementara Toronto memutuskan tidak mampu membayar USD60 juta yang dibutuhkan untuk tawaran 2024.
Setelah sebuah kota dipilih untuk menjadi tuan rumah, ia memiliki waktu sekitar 10 tahun untuk mempersiapkan kehadiran atlet dan wisatawan. Olimpiade Musim Panas jauh lebih besar, menarik ratusan ribu wisatawan asing untuk menyaksikan lebih dari sepuluh ribu atlet bersaing dalam sekitar tiga ratus pertandingan olah raga.
Kebutuhan yang paling mendesak adalah membangun atau memoles fasilitas olahraga yang sangat terspesialisasi seperti trek sepeda dan arena lompat ski, Desa Olimpiade, dan tempat yang cukup besar untuk menjadi tuan rumah upacara pembukaan dan penutupan.
Biasanya ada juga kebutuhan untuk infrastruktur yang lebih umum, terutama perumahan dan transportasi. IOC mengharuskan kota-kota yang menjadi tuan rumah Olimpiade memiliki minimal 40.000 kamar hotel yang tersedia.
Namun dalam kasus Rio mengharuskan pembangunan 15.000 kamar hotel baru. Jalan, jalur kereta api, dan bandara juga perlu ditingkatkan atau bahkan dibangun baru.
Secara keseluruhan, biaya infrastruktur ini berkisar dari USD5 miliar hingga lebih dari USD50 miliar. Banyak negara membenarkan pengeluaran besar tersebut dengan harapan apa yang dibangun bisa bertahan lebih lama dari Olimpiade.
Biaya operasional merupakan bagian kecil dari anggaran Olimpiade tuan rumah. Biaya keamanan telah meningkat dengan cepat sejak serangan 9/11, dimana Sydney menghabiskan USD250 juta pada tahun 2000.
Sedangkan Athena merogoh kocek lebih dari USD1,5 miliar pada tahun 2004. Selanjutnya apa yang menjadi masalah adalah pemeliharaan fasilitas olahraga pasca-Olimpiade. Contohnya Stadion Olimpiade Sydney menelan biaya USD30 juta per tahun untuk perawatan.
Lihat Juga :