Pengusaha Akui Jurang Resesi Sulit Dihindari, Apa Pasal?
Rabu, 26 Agustus 2020 - 10:28 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Pandemi virus corona atau Covid-19 yang masih melanda Indonesia membuat pertumbuhan ekonomi diproyeksi masih negatif pada kuartal/III tahun 2020 mendatang. Alhasil, Indonesia pun menjadi salah satu negara yang terkonfirmasi mengalami resesi karena dalam dua kuartal berturut-turut perekonomiannya minus.
Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menilai bila dibandingkan dengan kuartal/II yang terkontraksi sebesar minus 5,32%, kuartal/III menunjukkan adanya penurunan minus. Namun, meski ada perbaikan, untuk terhindar dalam jurang resesi terlihat sulit.
"Saat ini kelihatannya sulit untuk menghindari resesi karena di kuartal/III secara realistis ekonomi akan tetap tumbuh negatif walaupun akan ada perbaikan yang cukup signifikan dari kuartal/II," kata Shinta saat dihubungi, Rabu (26/8/2020). (Baca: Peluang Lolos Resesi Ekonomi Kian Tipis )
Dia menjelaskan, pemicu resesi itu karena situasi terkini para pelaku usaha merasa tingkat konsumsi masyarakat belum ada peningkatan yang signifikan. Selain itu, stimulus program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) penyerapan anggarannya masih rendah.
"Ini bukan hal yang mudah karena hingga tengah kuartal/III ini pun pelaku usaha merasakan peningkatan konsumsi tidak cukup signifikan, stimulus-stimulus belum didistribusikan dengan maksimal dan realisasi belanja pemerintah juga masih rendah," ujarnya. (Baca juga: RUU Cipta Kerja Harus Jadi Solusi Kepentingan Buruh dan Pengusaha )
Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menilai bila dibandingkan dengan kuartal/II yang terkontraksi sebesar minus 5,32%, kuartal/III menunjukkan adanya penurunan minus. Namun, meski ada perbaikan, untuk terhindar dalam jurang resesi terlihat sulit.
"Saat ini kelihatannya sulit untuk menghindari resesi karena di kuartal/III secara realistis ekonomi akan tetap tumbuh negatif walaupun akan ada perbaikan yang cukup signifikan dari kuartal/II," kata Shinta saat dihubungi, Rabu (26/8/2020). (Baca: Peluang Lolos Resesi Ekonomi Kian Tipis )
Dia menjelaskan, pemicu resesi itu karena situasi terkini para pelaku usaha merasa tingkat konsumsi masyarakat belum ada peningkatan yang signifikan. Selain itu, stimulus program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) penyerapan anggarannya masih rendah.
"Ini bukan hal yang mudah karena hingga tengah kuartal/III ini pun pelaku usaha merasakan peningkatan konsumsi tidak cukup signifikan, stimulus-stimulus belum didistribusikan dengan maksimal dan realisasi belanja pemerintah juga masih rendah," ujarnya. (Baca juga: RUU Cipta Kerja Harus Jadi Solusi Kepentingan Buruh dan Pengusaha )
Lihat Juga :