Ekonomi Rusia Tak Goyah Dihajar Kanan Kiri Sanksi Barat, Apa Rahasianya?

Jum'at, 30 Agustus 2024 - 15:31 WIB
loading...
Ekonomi Rusia Tak Goyah...
Ekonomi Rusia menunjukkan pertumbuhan yang solid di banyak sektor , sementara pengangguran tetap pada rekor terendah. Rusia tak goyah meski dihantam gelombang sanksi ekonomi Barat. Foto/Dok
A A A
MOSKOW - Ekonomi Rusia menunjukkan pertumbuhan yang solid di banyak sektor, sementara pengangguran tetap pada rekor terendah. Data terbaru yang dirilis Rabu, kemarin menjadi sinyal prospek ekonomi Rusia yang lebih cerah pada tahun ini, meski ada gelombang sanksi Barat terkait perang di Ukraina.

Baca Juga: Rusia Bakal Bentuk Koalisi Anti-Sanksi Barat, Intip Daftar Penghuninya

Didorong oleh produksi militer, output industri naik 3,3% pada bulan Juli dibandingkan dengan kenaikan 2,7% pada bulan sebelumnya, dan sebesar 4,8% sejak awal tahun, dibandingkan dengan pertumbuhan 3,1% pada periode yang sama di 2023.

Perkiraan awal untuk pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada paruh pertama tahun ini mencapai 4,6%, dibandingkan dengan 1,8% untuk periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Sanksi Barat Bikin Aset Rp693 Triliun Milik Perusahaan Rusia Tertahan di Luar Negeri

Para pejabat mengaitkan pertumbuhan ini dengan investasi modal yang kuat, termasuk oleh sektor swasta, yang pada kuartal kedua naik 8,3% secara year to year menjadi 8,44 triliun rubel (USD92 miliar), menyusul pertumbuhan 14,5% pada kuartal pertama tahun ini.

"Mengingat hasil positif pada paruh pertama tahun ini, kami mengharapkan angka yang lebih tinggi untuk sepanjang tahun 2024 daripada yang awalnya kami proyeksikan dalam perkiraan ekonomi yang diterbitkan di bulan April," kata Wakil menteri ekonomi, Polina Kryuchkova.

Data menunjukkan ekonomi Rusia bertahan meskipun dihantam sanksi ekonomi Barat, serta adanya masalah terkait pembayaran internasional dengan mitra dagang utama Rusia, seperti China, yang menyebabkan penurunan 9% dalam impor keseluruhan pada paruh pertama tahun ini.

Namun, mereka juga menunjuk tekanan yang memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 200 basis poin menjadi 18% pada bulan Juli, level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.

Bank sentral mengatakan, kekurangan tenaga kerja dan pertumbuhan upah yang terus-menerus, serta inflasi yang tinggi, adalah tanda-tanda utama ekonomi yang terlalu panas. Bank sentral berjanji bakal mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dan memerangi inflasi hingga stabil.

Statistik baru menunjukkan bahwa upah riil naik 6,2% secara year-on-year pada bulan Juni, menyusul kenaikan 8,8% pada bulan sebelumnya. Sedangkan rata-rata upah nominal juga meningkat 15,3% dalam year-on-year menjadi 89.145 rubel per bulan.

Pertumbuhan upah di Rusia didorong oleh pembayaran kepada tentara kontrak yang bertempur di Ukraina, yang telah menjadi tolok ukur baru dalam ekonomi karena pekerja di sektor yang berkembang pesat menghadapi kekurangan tenaga kerja akut menuntut gaji yang sama dari pemberi kerja.

Pada paruh pertama tahun ini, upah riil tumbuh sebesar 9,4%, sementara upah nominal meningkat sebesar 18,1% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2023, menurut data terbaru. Pengangguran tetap pada tingkat terendah secara historis 1,9 juta orang pada bulan Juli, atau 2,4% dari angkatan kerja.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
10 Negara dengan Ketergantungan...
10 Negara dengan Ketergantungan Sumber Daya Alam Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rekomendasi
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Berkas Perkara 3 Pejabat...
Berkas Perkara 3 Pejabat Bea Cukai Dilimpahkan ke Pengadilan, Segera Disidang
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Berita Terkini
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Purbaya Buka Suara Soal...
Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved