alexametrics

Harga Minyak Turun Akibat Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi Global

loading...
Harga Minyak Turun Akibat Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi Global
Harga minyak melemah karena kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Foto/Istimewa
A+ A-
SINGAPURA - Harga minyak mentah menurun pada Jumat (25/10/2019), setelah menguat tiga hari berturut-turut. Penurunan harga si emas hitam disebabkan kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang bisa berdampak negatif kepada prospek permintaan minyak.

Mengutip dari Reuters, harga minyak Brent International turun 36 sen atau 0,6% menjadi USD61,31 per barel pada pukul 03:18 GMT. Sebelumnya, di Kamis kemarin, harga minyak Brent naik hampir 1%. Meski hari ini menurun, harga Brent telah naik lebih dari 3% pada minggu ini.

Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) berkurang 35 sen atau 0,6% menjadi USD55,88 per barel. Kemarin, harga WTI naik 0,5% dan selama sepekan ini telah menguat 4%.



Kenaikan harga minyak sepanjang minggu ini disebabkan oleh menurunnya persediaan minyak mentah AS, dan upaya OPEC bersama sekutunya Rusia untuk memperpanjang pemangkasan produksi.

Kenaikan mingguan yang kuat didukung oleh penurunan mengejutkan pada persediaan minyak mentah AS dan optimisme tentang upaya lebih banyak untuk mendukung harga oleh OPEC dan sekutunya.

"Penurunan harga hari ini karena kekhawatiran perlambatan global yang bisa berdampak pada penurunan permintaan," kata Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA.

Dalam jajak pendapat Reuters, para ekonom mengatakan perlambatan ekonomi global harus segera diantisipasi, dimana bank sentral harus melakukan pelonggaran moneter.

Jajak pendapat Reuters tersebut menambahkan bahwa gencatan senjara dalam perang dagang AS-China bukanlah titik balik ekonomi. Karena kedua negara sendiri sedang berada dalam risiko menghadapi resesi ekonomi.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak