Kenapa Dolar AS Tak Goyang di Tengah Isu Mata Uang Baru BRICS

Selasa, 01 Oktober 2024 - 18:43 WIB
loading...
A A A
"Intinya, dolar menjadi Raja yang tidak memiliki penantang," ungkap Michael Zezas, kepala penelitian kebijakan publik AS.

1. Yuan Tak Cukup Likuid Menantang Dolar

Yuan China oleh para pejabat di Beijing telah coba diposisikan sebagai penantang dolar di panggung dunia, namun para ekonom menilainya tidak cukup likuid untuk benar-benar mengganggu dominasi greenback. Hal itu sebagian karena kontrol modal yang ketat oleh China pada mata uangnya, sehingga membatasi jumlah uang tunai yang dapat dibawa masuk dan keluar dari negara itu.

"Tampaknya tidak mungkin untuk menantang dolar AS secara berarti dalam waktu dekat. Untuk melakukannya, kami pikir China perlu melonggarkan kendali mata uangnya dan membuka rekening modal. Tampaknya Beijing tidak ingin melakukan ini dalam waktu dekat," kata Lord.

Selain itu kondisi ekonomi China menjadi pertanyaan, mengingat permintaan konsumen yang melorot dan krisis properti yang sedang berlangsung di negara tersebut.

"China mungkin membuat beberapa kemajuan dalam mendenominasi lebih banyak perdagangan bilateral dalam dolar AS, tetapi dampaknya terhadap metrik global dominasi mata uang kemungkinan akan bertambah," tambah Lord.

2. Kekhawatiran Terhadap Utang AS Tak Ganggu Dolar

Kepercayaan terhadap dolar AS mulai memudar seiring meningkatnya kekhawatiran atas meningkatnya saldo utang AS. Pada tahun ini, pemerintah AS telah mengumpulkan utang lebih dari USD34 triliun untuk menyentuh rekor.

Namun, kondisi tersebut diyakini hanya berdampak kecil pada kepercayaan pada dolar AS, mengingat reputasi jangka panjang mata uang sebagai aset safe-haven yang sangat likuid. "Saya mengerti kekhawatirannya, tetapi untuk masa mendatang, tidak banyak yang bisa dilakukan," kata Zezas.

"Tergantung pada hasil pemilihan di AS, ada beberapa ekspansi fiskal, tetapi itu tidak mengerikan dalam pandangan kami, dan kecuali kami berpikir Fed tidak dapat melawan inflasi – dan ekonom kami pasti berpikir mereka bisa – maka sulit untuk melihat dolar menjadi mata uang yang tidak stabil," bebernya.

Inflasi AS telah mendingin secara dramatis dari level tertinggi sejak 2022, meskipun pengeluaran era pandemi dan tingkat utang meningkat. Harga konsumen tumbuh hanya 3,5% secara year to year di bulan Maret, menurut laporan inflasi terbaru, turun dari puncaknya 9,1% beberapa tahun lalu.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
The Changcuters Bakal...
The Changcuters Bakal Naikkan Tarif Manggung Imbas Ekonomi Lesu?
Maia Estianty Soroti...
Maia Estianty Soroti Dolar Tembus Rp18.000, Curhat soal Pajak
Mahasiswa UNS Diajak...
Mahasiswa UNS Diajak Pahami Penyebab Rupiah Melemah dan Dolar Naik di ICC 2026
Rekomendasi
Dukung Penangkapan Roy...
Dukung Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa, Peradi Bersatu Minta Polisi Tak Tunduk Tekanan Opini Publik
Indonesia Perkuat Regenerasi...
Indonesia Perkuat Regenerasi Atlet demi Kuasai Panggung MMA Asia
Saudari Cristiano Ronaldo...
Saudari Cristiano Ronaldo Ngamuk usai Portugal Ditahan Kongo, Bruno Fernandes Ikut Disindir
Berita Terkini
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved