Ancaman UE Bikin Serbia Ingin Pindah Haluan ke BRICS

Selasa, 15 Oktober 2024 - 08:08 WIB
loading...
Ancaman UE Bikin Serbia...
Negara ini akan mengeksplorasi opsi bergabung dengan BRICS, alih-alih merapat ke Uni Eropa (UE). Foto/Dok
A A A
BEOGARD - Serbia akan mengeksplorasi opsi bergabung dengan BRICS , alih-alih merapat ke Uni Eropa (UE) . Wakil Perdana Menteri Serbia, Aleksandar Vulin mengatakan, UE membuat tuntutan yang semakin kaku dan tidak menawarkan kemajuan menuju keanggotaan sebagai imbalannya.

Serbia diketahui sudah mengajukan permohonan untuk bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 2009 dan telah menjadi kandidat keanggotaan sejak 2012. Hingga beberapa tahun setelahnya, Brussels telah meningkatkan tuntutannya agar Beograd menormalkan hubungan dengan Kosovo menjadi pengakuan de facto atas kemerdekaan provinsi yang memisahkan diri itu.

Baca Juga: Negara Ini Tak Akan Pernah Jatuhkan Sanksi ke Rusia meski Ditekan UE

Selain itu mengikat aksesi Serbia ke blok tersebut lewat pemutusan hubungan dengan Moskow dan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. "Katakan saja kepada kami: 'kami tidak menginginkan Anda,'" kata Vulin kepada Berliner Zeitung dalam sebuah wawancara.

"Mengapa Anda terus menetapkan kondisi yang tidak dapat kami penuhi? Kami melihat Uni Eropa sebagai mitra, tetapi kami tidak sepenuhnya yakin bahwa Uni Eropa melihat kami sebagai mitra," bebernya.

Sementara itu Vulin mengatakan kepada surat kabar Jerman, bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak pernah memaksa Serbia untuk memilih antara Brussels dan Moskow, atau mengancam akan memutuskan hubungan jika Beograd memulai pembicaraan aksesi Uni Eropa.

"Pada saat yang sama, negosiator Uni Eropa memberi tahu kami: 'jika Anda tidak memutuskan hubungan dengan Rusia, Anda tidak akan bergabung dengan Uni Eropa,'" keluhnya.

"Jadi apakah kita mitra atau tidak? Atau apakah kita tidak memiliki hak atas kepentingan kita sendiri?" sambungnya.

Serbia dipastikan akan menghadiri KTT BRICS di kota Kazan, Rusia pada akhir bulan ini, dengan tujuan untuk bergabung dengan kelompok ekonomi yang sedang berkembang tersebut.

"Akan menjadi tidak bertanggung jawab jika kita tidak mengeksplorasi semua kemungkinan, termasuk keanggotaan BRICS," kata Vulin.

"Jika BRICS menarik bagi negara lain, misalnya Emirates atau Arab Saudi atau Türkiye, mengapa harus berbeda untuk Serbia? Tidak ada keraguan bahwa BRICS telah menjadi alternatif nyata untuk Uni Eropa."

Sejak istilah ini pertama kali diciptakan pada tahun 2001, BRICS telah berkembang dari akronim menjadi aliansi informal yang telah menyalip blok G7 yang dipimpin AS secara PDB global. BRICS juga memiliki bank pembangunan sendiri, dan telah berkembang dari empat anggota pada tahun 2006 – Brasil, Rusia, India, dan China – menjadi lima termasuk Afrika Selatan pada tahun 2011.

Tahun ini, empat negara lagi – Mesir, Iran, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab – secara resmi menjadi anggota BRICS, dengan Arab Saudi saat ini sedang menyelesaikan proses aksesi.

Baca Juga: Calon Anggota Uni Eropa Bersiap Menyeberang ke BRICS

Pada bulan September, pembantu presiden Rusia Yury Ushakov mengkonfirmasi bahwa Turki secara resmi mengajukan permohonan untuk bergabung dengan BRICS, menjadi negara NATO pertama yang melakukannya.

Azerbaijan, Aljazair, Vietnam, Indonesia, Pakistan, Malaysia, Nigeria, Thailand, Venezuela, Kazakhstan, Palestina, DR Kongo, Gabon, Bangladesh, Bahrain, Kuwait, Senegal, dan Bolivia adalah beberapa negara lain yang telah menyatakan keinginan mereka untuk bergabung dengan BRICS.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Menguak di Balik Lawatan...
Menguak di Balik Lawatan Prabowo 1,5 Tahun, Seskab Teddy: BRICS hingga Investasi Rp2.430 Triliun
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Dolar AS Mulai Dikepung,...
Dolar AS Mulai Dikepung, Mampukah BRICS Meruntuhkan Dominasi Greenback?
BRICS Jadi Senjata Terakhir...
BRICS Jadi Senjata Terakhir Indonesia jika Impor 150 Juta Ton Barel Minyak Rusia Batal
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
Rusia Ancam Armenia:...
Rusia Ancam Armenia: Tak Lagi Dipasok Minyak Murah Jika Nekat Gabung Uni Eropa!
Rekomendasi
Ronaldo Mandul, Portugal...
Ronaldo Mandul, Portugal Ditahan Imbang RD Kongo di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Rueibin Chen Sebut Tampil...
Rueibin Chen Sebut Tampil di Indonesia sebagai Impian, Siap Hibur Pecinta Musik Klasik Jakarta
Mengapa Kekejaman Israel...
Mengapa Kekejaman Israel di Lebanon Bisa Picu Pembalasan dari Iran?
Berita Terkini
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
Infografis
Waspada! Ini Gejala...
Waspada! Ini Gejala Super Flu yang Masuk ke Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved