Terbesar Ketiga dalam Sejarah AS, Defisit Anggaran 2024 Tembus Rp28 Ribu Triliun

Minggu, 20 Oktober 2024 - 20:01 WIB
loading...
Terbesar Ketiga dalam...
Defisit anggaran AS (Amerika Serikat) tumbuh menjadi USD1,833 triliun atau setara Rp28.001 triliun pada tahun fiskal 2024, hingga menyentuh level tertinggi di luar periode Covid-19. Foto/Dok
A A A
WASHINGTON - Defisit anggaran AS ( Amerika Serikat ) tumbuh menjadi USD1,833 triliun atau setara Rp28.001 triliun (Kurs Rp15.276 per USD) pada tahun fiskal 2024, hingga menyentuh level tertinggi di luar periode Covid-19 karena bunga utang federal melebihi USD1 triliun untuk pertama kalinya. Selain itu juga disebabkan membengkaknya pengeluaran, di antaranya untuk program pensiun Jaminan Sosial, perawatan kesehatan, hingga militer.

Laporan terbaru tersebut disampaikan oleh Departemen Keuangan AS pada akhir pekan kemarin, seperti dilansir Reuters. Defisit tahunan yang berakhir pada 30 September 2024, mengalami kenaikan 8% atau USD138 miliar, dari USD1,695 triliun yang tercatat pada tahun fiskal 2023.

Baca Juga: Waktunya Sudah Tiba, Penurunan Fed Rate Semakin Dekat

Defisit federal di tahun 2024 menjadi yang terbesar ketiga dalam sejarah AS, setelah defisit yang didorong oleh bantuan pandemi pada 2020 menyentuh angka USD3,132 triliun. Selanjutnya di tahun 2021, defisit tercatat higga USD2,772 triliun.

Sementara itu defisit fiskal 2023 telah dikurangi dengan pengembalian biaya USD330 miliar yang terkait dengan program pinjaman mahasiswa Presiden Joe Biden setelah dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS. Tanpa anomali tersebut, angkanya bisa tembus hingga USD2 triliun.

Kesenjangan anggaran fiskal 2024 yang cukup besar mencapai 6,4% dari produk domestik bruto, naik dari 6,2% setahun sebelumnya, dapat menimbulkan masalah. Wakil Presiden Kamala Harris menjelang pemilihan presiden 5 November, mengatakan bahwa dirinya lebih baik dalam mengatur fiskal daripada rivalnya dari Republik, Donald Trump.

Sebuah lembaga think-tank, memperkirakan bahwa rencana Trump akan menumpuk utang baru sebesar USD7,5 triliun, lebih dari dua kali lipat dari USD3,5 triliun yang diperkirakan dari proposal Harris.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
Rekomendasi
FIFA Beri Lampu Hijau,...
FIFA Beri Lampu Hijau, Michael Oliver Pimpin Laga Belanda vs Swedia
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Perkuat Kolaborasi Kampus,...
Perkuat Kolaborasi Kampus, MNC University Inisiasi Konsorsium Perguruan Tinggi ASEAN
Berita Terkini
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
Bekasi Fajar Cetak Laba...
Bekasi Fajar Cetak Laba Rp30 Miliar, Targetkan Penjualan Lahan Rp600 Miliar
Pertamina Masuk Fortune...
Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Cermin Kekuatan Ekonomi Nasional di Mata Dunia
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
Antipasi Lonjakan Pengguna,...
Antipasi Lonjakan Pengguna, Jasa Marga Intensifkan Preservasi Rutin Jalan Tol
Keterlambatan RKAB 2026...
Keterlambatan RKAB 2026 Dinilai Hambat Pasokan Batu Bara PLTU Jawa-Bali
Infografis
APBN Pernah Jebol Nyaris...
APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved