Negara Berkembang Babak Belur, Cetak Rekor Tagihan Utang Rp22.300 Triliun
Rabu, 04 Desember 2024 - 08:31 WIB
loading...
A
A
A
Institute of International Finance juga mengatakan bahwa utang pemerintah dapat meningkat sepertiga menjadi USD130 triliun pada 2028 jika defisit anggaran pemerintah yang terus meningkat tidak dapat dikendalikan, dan bahwa risiko pembayaran kembali meningkat.
Bank Dunia melaporkan, pada akhir 2023, utang luar negeri yang dimiliki oleh semua negara berpenghasilan rendah dan menengah mencapai rekor USD8,8 triliun, naik 8% dari tahun 2020. Tekanan pada negara-negara termiskin telah memaksa mereka untuk beralih ke lembaga multilateral, termasuk Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Baca Juga: China Krisis Perbankan, Warga Kesulitan Tarik Dana dari Rekening Pribadi
Lembaga-lembaga ini telah memompa USD51 miliar lebih banyak pada tahun 2022 dan 2023 daripada yang mereka kumpulkan dalam pembayaran cicilan utang, kata laporan Bank Dunia.
"Lembaga-lembaga multilateral telah menjadi penyelamat terakhir bagi negara-negara miskin yang berjuang untuk menyeimbangkan pembayaran utang dengan pengeluaran untuk kesehatan, pendidikan, dan prioritas pembangunan utama lainnya," ujar Kepala Ekonom Bank Dunia Indermit Gill dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters, Rabu (4/12/2024). Seraya menambahkan, lembaga-lembaga tersebut tidak dirancang sebagai pemberi pinjaman terakhir.
Bank Dunia melaporkan, pada akhir 2023, utang luar negeri yang dimiliki oleh semua negara berpenghasilan rendah dan menengah mencapai rekor USD8,8 triliun, naik 8% dari tahun 2020. Tekanan pada negara-negara termiskin telah memaksa mereka untuk beralih ke lembaga multilateral, termasuk Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Baca Juga: China Krisis Perbankan, Warga Kesulitan Tarik Dana dari Rekening Pribadi
Lembaga-lembaga ini telah memompa USD51 miliar lebih banyak pada tahun 2022 dan 2023 daripada yang mereka kumpulkan dalam pembayaran cicilan utang, kata laporan Bank Dunia.
"Lembaga-lembaga multilateral telah menjadi penyelamat terakhir bagi negara-negara miskin yang berjuang untuk menyeimbangkan pembayaran utang dengan pengeluaran untuk kesehatan, pendidikan, dan prioritas pembangunan utama lainnya," ujar Kepala Ekonom Bank Dunia Indermit Gill dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters, Rabu (4/12/2024). Seraya menambahkan, lembaga-lembaga tersebut tidak dirancang sebagai pemberi pinjaman terakhir.
(nng)
Lihat Juga :