Ancaman Trump dan Fakta-fakta Soal Upaya BRICS Melengserkan Dolar AS
Kamis, 05 Desember 2024 - 16:04 WIB
loading...
A
A
A
Zoltan Pozsar, yang saat itu menjadi analis Credit Suisse mengatakan, tahun lalu bahwa perjalanan pemimpin China, Xi Jinping, ke Arab Saudi menandakan 'kelahiran petroyuan'.
Sementara itu Rusia telah meningkatkan upaya dedolarisasi sejak menginvasi Ukraina, dengan Putin menandatangani perintah eksekutif pada Maret 2022 yang melarang negara-negara "tidak bersahabat" menyelesaikan kontrak gas alam dalam mata uang apapun selain rubel.
Beijing dan Moskow sudah berulang kali berjanji, bersama anggota lain dari kelompok negara BRICS untuk meluncurkan mata uang cadangan baru yang mereka harapkan dapat menggeser dolar sebagai cadangan internasional.
Pada KTT BRICS awal tahun ini, menteri luar negeri Rusia mengatakan, sekelompok negara berkembang terdepan sedang mengerjakan sistem pembayaran nondolar yang dapat berbentuk platform digital, sehingga memungkinkan lebih banyak perdagangan dan pinjaman dalam mata uang mereka sendiri.
Ada beberapa bukti bahwa dunia perlahan-lahan mulai menghilangkan ketergantungan mereka dari dolar AS. Hal ini terlihat dari bobot greenback dalam cadangan devisa yang menyusut dari 71% menjadi sekitar 59% sejak pergantian abad, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).
Sementara Brasil mengumumkan pada 31 Maret bahwa yuan China telah menggantikan euro sebagai mata uang terbesar kedua dalam cadangan devisanya, hingga memicu kekhawatiran bahwa status cadangan dolar dapat terancam.
Namun terlepas dari dorongan dedolarisasi China, yuan masih hanya menyumbang 2,7% dari semua cadangan devisa, menurut IMF. Hal ini membuat analis menyakini tidak mungkin mata uang saingan akan menggeser dolar AS dalam waktu dekat.
Goldman Sachs mengatakan, dalam sebuah catatan penelitian tahun lalu bahwa yuan akan selalu berjuang untuk melalui "rintangan tinggi untuk mencapai status teratas sebagai mata uang dalam transaksi global."
Sementara itu Rusia telah meningkatkan upaya dedolarisasi sejak menginvasi Ukraina, dengan Putin menandatangani perintah eksekutif pada Maret 2022 yang melarang negara-negara "tidak bersahabat" menyelesaikan kontrak gas alam dalam mata uang apapun selain rubel.
Beijing dan Moskow sudah berulang kali berjanji, bersama anggota lain dari kelompok negara BRICS untuk meluncurkan mata uang cadangan baru yang mereka harapkan dapat menggeser dolar sebagai cadangan internasional.
Pada KTT BRICS awal tahun ini, menteri luar negeri Rusia mengatakan, sekelompok negara berkembang terdepan sedang mengerjakan sistem pembayaran nondolar yang dapat berbentuk platform digital, sehingga memungkinkan lebih banyak perdagangan dan pinjaman dalam mata uang mereka sendiri.
Haruskah AS cemas?
Ada beberapa bukti bahwa dunia perlahan-lahan mulai menghilangkan ketergantungan mereka dari dolar AS. Hal ini terlihat dari bobot greenback dalam cadangan devisa yang menyusut dari 71% menjadi sekitar 59% sejak pergantian abad, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).
Sementara Brasil mengumumkan pada 31 Maret bahwa yuan China telah menggantikan euro sebagai mata uang terbesar kedua dalam cadangan devisanya, hingga memicu kekhawatiran bahwa status cadangan dolar dapat terancam.
Namun terlepas dari dorongan dedolarisasi China, yuan masih hanya menyumbang 2,7% dari semua cadangan devisa, menurut IMF. Hal ini membuat analis menyakini tidak mungkin mata uang saingan akan menggeser dolar AS dalam waktu dekat.
Goldman Sachs mengatakan, dalam sebuah catatan penelitian tahun lalu bahwa yuan akan selalu berjuang untuk melalui "rintangan tinggi untuk mencapai status teratas sebagai mata uang dalam transaksi global."
Lihat Juga :