Raja Charles III Berkuasa, Cadbury Didepak Kerajaan Inggris usai Bertahan 170 Tahun

Rabu, 25 Desember 2024 - 05:47 WIB
loading...
Raja Charles III Berkuasa,...
Raksasa produsen cokelat, Cadbury dikeluarkan dari daftar surat perintah kerajaan Inggris untuk pertama kalinya dalam 170 tahun. Foto/Dok BBC
A A A
JAKARTA - Raksasa produsen cokelat, Cadbury dikeluarkan dari daftar surat perintah kerajaan Inggris untuk pertama kalinya dalam 170 tahun. Pembuat cokelat yang berbasis di Birmingham itu dianugerahi surat perintah kerajaan pertamanya sebagai produsen cokelat dan kakao oleh Ratu Victoria pada tahun 1854, tetapi Cadbury kehilangan dukungan kerajaan di bawah kepemimpinan Raja Charles III .

Pemilik Cadbury di AS, Mondelez International mengaku kecewa usai dilucuti surat perintahnya. Raja telah memberikan surat perintah kerajaan kepada 386 perusahaan yang sebelumnya memegang surat perintah dari Ratu Elizabeth II, termasuk John Lewis, Heinz dan Nestle.

Baca Juga: Sejarah Hari Valentine, Ini Peran Penting Cokelat Silverqueen dan Cadbury

Perusahaan yang memegang Surat Perintah Penunjukan Kerajaan dan diberikan hingga lima tahun, diakui karena menyediakan barang atau jasa kepada monarki. Di antara daftar pemegang waran baru Raja adalah banyak perusahaan yang menjual makanan dan minuman, seperti Moet dan Chandon, Weetabix dan pembuat cokelat Bendicks dan Prestat Ltd.

Pemegang surat perintah diizinkan untuk menggunakan lambang kerajaan yang terkait dengan mereka pada kemasan, sebagai bagian dari iklan.

Awal tahun ini, Raja didesak oleh kelompok kampanye B4Ukraine untuk menarik surat perintah dari perusahaan yang "masih beroperasi di Rusia" setelah invasi ke Ukraina. Disebutkan bahwa Mondelez dan perusahaan barang konsumen Unilever, juga telah kehilangan dukungannya.

"Sementara kami kecewa menjadi salah satu dari ratusan bisnis dan merek lain di Inggris yang tidak memiliki surat perintah baru yang diberikan. Tapi kami bangga telah memilikinya sebelumnya, dan kami sepenuhnya menghormati keputusan tersebut." kata juru bicara Mondelez.

Unilever menambahkan "sangat bangga" dengan sejarah panjang mereknya yang telah memasok rumah tangga kerajaan, dimana belum lama ini menerima surat perintah dari Yang Mulia Ratu Elizabeth II.

Prof David Bailey, dari Birmingham Business School mengatakan, keputusan untuk melucuti produsen cokelat dari warannya akan memengaruhi biaya, karena brand tersebut harus menghapusnya dari semua kemasan.

Surat perintah kerajaan adalah "semacam segel persetujuan," yang dianggap membawa manfaat signifikan bagi ekonomi Inggris, tambahnya.

Berbicara kepada BBC Radio WM, Prof Bailey mengatakan, perusahaan-perusahaan Inggris juga mendapat manfaat dari dianugerahinya dukungan kerajaan.

"Untuk apa surat perintah kerajaan, jika bukan untuk membantu pekerjaan Inggris dan produksi Inggris?" tanyanya.

Raksasa pembuat cokelat Inggris merayakan hari jadinya yang ke-200 pada awal tahun ini, setelah pendiri John Cadbury membuka toko kelontong yang menjual kakao dan minum cokelat di Birmingham pada 4 Maret 1824.

Brand ini terus berkembang ketika putra-putranya mengambil alih bisnis, hingga akhirnya membangun pabrik Bournville yang menjadi produsen kakao terbesar di dunia.

Baca Juga: Cadbury Bagikan 9.000 Paket Berbuka untuk Garda Terdepan Covid-19

Perusahaan makanan AS Kraft mengambil alih merek tersebut dalam akuisisi yang kontroversial pada tahun 2010, dengan Cadbury kemudian menjadi bagian dari divisi Mondelez pada tahun 2012.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Transformasi Perkebunan,...
Transformasi Perkebunan, BPDP Dorong Nilai Tambah Sawit, Kelapa, dan Kakao
MHU Dorong Kemandirian...
MHU Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Adat lewat Hilirisasi Kakao
Kekayaan Raja Charles...
Kekayaan Raja Charles III Naik Jadi Rp13,8 Triliun, Ini 5 Miliarder Inggris Terkaya
Mengurai Kesepakatan...
Mengurai Kesepakatan Bisnis Pangeran Andrew usai Didepak dari Keuangan Kerajaan
Bukan Bitcoin, Komoditas...
Bukan Bitcoin, Komoditas Ini Cetak Pertumbuhan Tertinggi di 2024
Hadapi EUDR, Kementerian...
Hadapi EUDR, Kementerian BUMN Perkuat Pengembangan Bisnis Kopi dan Kakao
Raja Charles Inggris...
Raja Charles Inggris Akan Ungkap Tagihan Pajak Pribadinya, Berapa Besar?
Pangeran George Masuk...
Pangeran George Masuk Eton College, Sekolah Elit Keluarga Kerajaan
Momen Lucu Pangeran...
Momen Lucu Pangeran George Tahan Bersin di Trooping the Colour 2026, Ini Reaksi Kate Middleton!
Rekomendasi
Kasus Pemuda Tewas di...
Kasus Pemuda Tewas di Selokan Mustikajaya: 4 Orang Ditangkap, Motif Digali Polisi
Meski IRGC Tutup Selat...
Meski IRGC Tutup Selat Hormuz, Perundingan Damai AS dan Iran Digelar di Swiss
Liburan Sekolah Makin...
Liburan Sekolah Makin Seru dengan Petualangan dan Aktivitas Keluarga
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Dorong Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengelolaan Eceng Gondok
Said Iqbal Blak-blakan...
Said Iqbal Blak-blakan 2.500 Buruh Pabrik Terancam PHK
BPDP dan AKPY Latih...
BPDP dan AKPY Latih Petani Kotim Tingkatkan Kualitas Panen Sawit Rakyat
Rupiah Menguat Tipis...
Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Langkah Membumi 2026...
Langkah Membumi 2026 Dimulai, Hadirkan Program Sustainability yang Lebih Pop untuk Anak Muda
PENAS XVII 2026 Jadi...
PENAS XVII 2026 Jadi Magnet Investasi Agribisnis, KTNA dan FERACO Perkuat Kolaborasi Industri dan Teknologi Pangan Nasional
Infografis
Pewaris Kerajaan Inggris...
Pewaris Kerajaan Inggris Pangeran William Jadi Target Drone Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved