Ekonomi Indonesia Relatif Stabil dengan Inflasi Rendah, Penyesuaian PPN 12 Persen Sudah Tepat
Kamis, 26 Desember 2024 - 20:40 WIB
loading...
A
A
A
Ariyo menambahkan paket stimulus yang dirancang pemerintah dapat menciptakan rasa aman bagi masyarakat, jika paket stimulus yang tepat sasaran dapat membantu masyarakat menengah bawah dan UMKM.
Selain itu menurutnya, kebijakan kenaikan tarif PPN diperlukan koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter untuk mengendalikan inflasi.
“Risiko lonjakan harga akibat kenaikan PPN tidak boleh diabaikan, Pemerintah diharapkan untuk bisa terus memonitor dampak kenaikan PPN secara real-time untuk mengantisipasi gangguan pada konsumsi rumah tangga,” ucapnya.
Sementara, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menilai, dengan adanya paket stimulus dari pemerintah kelompok berpendapatan rendah tetap dilindungi melalui insentif langsung, termasuk subsidi harga dan pembebasan PPN untuk barang kebutuhan pokok.
Menurutnya, kenaikan PPN menjadi 12 persen di Indonesia memang langkah yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan negara, tetapi dampaknya terhadap daya beli masyarakat tidak bisa diabaikan.
“Beberapa insentif lain yang lebih inovatif bisa diberikan kepada masyarakat dan UMKM agar tetap menjaga daya beli masyarakat contoh seperti memberikan subsidi langsung berupa e-voucher bagi rumah tangga berpenghasilan rendah untuk pembelian barang kebutuhan sehari-hari, khususnya melalui platform e-commerce lokal. Ini dapat meningkatkan adopsi digital dan mendukung ekosistem UMKM daring,” tuturnya.
Dengan adanya berbagai paket stimulus yang ada, masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk tidak khawatir secara berlebihan terhadap kenaikan PPN jadi 12 persen, mengingat kondisi ekonomi Indonesia saat ini relatif stabil dengan inflasi yang rendah dan prospek pertumbuhan yang positif.
Selain itu menurutnya, kebijakan kenaikan tarif PPN diperlukan koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter untuk mengendalikan inflasi.
“Risiko lonjakan harga akibat kenaikan PPN tidak boleh diabaikan, Pemerintah diharapkan untuk bisa terus memonitor dampak kenaikan PPN secara real-time untuk mengantisipasi gangguan pada konsumsi rumah tangga,” ucapnya.
Sementara, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menilai, dengan adanya paket stimulus dari pemerintah kelompok berpendapatan rendah tetap dilindungi melalui insentif langsung, termasuk subsidi harga dan pembebasan PPN untuk barang kebutuhan pokok.
Menurutnya, kenaikan PPN menjadi 12 persen di Indonesia memang langkah yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan negara, tetapi dampaknya terhadap daya beli masyarakat tidak bisa diabaikan.
“Beberapa insentif lain yang lebih inovatif bisa diberikan kepada masyarakat dan UMKM agar tetap menjaga daya beli masyarakat contoh seperti memberikan subsidi langsung berupa e-voucher bagi rumah tangga berpenghasilan rendah untuk pembelian barang kebutuhan sehari-hari, khususnya melalui platform e-commerce lokal. Ini dapat meningkatkan adopsi digital dan mendukung ekosistem UMKM daring,” tuturnya.
Dengan adanya berbagai paket stimulus yang ada, masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk tidak khawatir secara berlebihan terhadap kenaikan PPN jadi 12 persen, mengingat kondisi ekonomi Indonesia saat ini relatif stabil dengan inflasi yang rendah dan prospek pertumbuhan yang positif.
(ars)
Lihat Juga :