Stimulus Belum Mujarab, Daya Beli Masih Kritis
Rabu, 02 September 2020 - 08:35 WIB
loading...
A
A
A
Sementara dari sisi belanja pemerintah terus digenjot dengan berbagai langkah untuk mengakselerasi. Pasalnya, dia optimistis belanja pemerintah akan membaik di bulan ini. "Pemerintah kan sudah melakukan dan terus melakukan akselerasi belanjanya. Bulan ini kita perkirakan akan lebih baik, meskipun tingkatnya tidak sebesar yang mungkin masih kita perkirakan, yaitu supaya bisa tumbuh positif dari belanja pemerintah," katanya.
Terpisah, Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan deflasi sebesar 0,05% pada Agustus 2020 menandakan tertekannya ekonomi Indonesia. Terjadinya deflasi tersebut diperkirakan akan meningkatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) lantaran sisi permintaan konsumen yang menurun. (Baca juga: Hamas Sebut kesepakatan UEA-Israel memalukan)
"Ini situasi yang menandakan sisi permintaan alami tekanan sehingga produsen tidak berani naikan harga jual barangnya. Tekanan pendapatan akibat terganggunya aktivitas ekonomi dan PHK massal di berbagai sektor," tegas Bhima.
Menurut dia, indikasi pelemahan ekonomi terus berlanjut meskipun ada new normal. Apabila kondisi tersebut dibiarkan dan deflasi berlanjut maka ekonomi dipastikan masuk jurang resesi yang lebih dalam dibanding kuartal II/2020. "Ekonomi Indonesia bakal tertekan lebih dalam hingga 2020," tandasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Core Piter Abdullah menilai terjadinya deflasi telah diperkirakan sebelumnya. Hal itu disebabkan menurunnya permintaan masyarakat. Di samping itu, kelompok menengah atas mayoritas lebih irit dan menunda belanja. "Di tengah pandemi saat ini, permintaan turun disebabkan oleh menurunnya daya beli sebagian masyarakat, sementara di sisi lain masyarakat menengah-atas menunda konsumsi," tuturnya. (Baca juga: Begini Suasana Pembatasan Aktivitas Warga Depok)
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, deflasi pada Agustus disebabkan oleh kelompok harga barang bergejolak. Secara spesifik, deflasi didorong oleh tiga komoditas, yaitu daging ayam ras, bawang merah, dan tomat.
Terpisah, Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan deflasi sebesar 0,05% pada Agustus 2020 menandakan tertekannya ekonomi Indonesia. Terjadinya deflasi tersebut diperkirakan akan meningkatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) lantaran sisi permintaan konsumen yang menurun. (Baca juga: Hamas Sebut kesepakatan UEA-Israel memalukan)
"Ini situasi yang menandakan sisi permintaan alami tekanan sehingga produsen tidak berani naikan harga jual barangnya. Tekanan pendapatan akibat terganggunya aktivitas ekonomi dan PHK massal di berbagai sektor," tegas Bhima.
Menurut dia, indikasi pelemahan ekonomi terus berlanjut meskipun ada new normal. Apabila kondisi tersebut dibiarkan dan deflasi berlanjut maka ekonomi dipastikan masuk jurang resesi yang lebih dalam dibanding kuartal II/2020. "Ekonomi Indonesia bakal tertekan lebih dalam hingga 2020," tandasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Core Piter Abdullah menilai terjadinya deflasi telah diperkirakan sebelumnya. Hal itu disebabkan menurunnya permintaan masyarakat. Di samping itu, kelompok menengah atas mayoritas lebih irit dan menunda belanja. "Di tengah pandemi saat ini, permintaan turun disebabkan oleh menurunnya daya beli sebagian masyarakat, sementara di sisi lain masyarakat menengah-atas menunda konsumsi," tuturnya. (Baca juga: Begini Suasana Pembatasan Aktivitas Warga Depok)
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, deflasi pada Agustus disebabkan oleh kelompok harga barang bergejolak. Secara spesifik, deflasi didorong oleh tiga komoditas, yaitu daging ayam ras, bawang merah, dan tomat.
Lihat Juga :