Mengulik di Balik Ancaman Trump Tarif 100%, Mata Uang BRICS, dan Dedolarisasi

Senin, 17 Februari 2025 - 08:02 WIB
loading...
A A A
Ancaman Tarif Trump

Sejak menjabat pada Januari 2025, Trump sudah memberlakukan beberapa tarif baru dalam upaya untuk membentuk kembali sistem perdagangan global. Trump juga memerintahkan studi tarif baru berdasarkan negara demi menyeimbangkan kembali perdagangan AS.

Studi ini nantinya dapat mengevaluasi tidak hanya bea masuk suatu negara, tetapi juga kebijakan ekonomi lainnya, seperti subsidi, perlindungan kekayaan intelektual yang lemah, dan bahkan pajak pertambahan nilai. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick mengatakan, dia berencana agar semua studi selesai pada 1 April.

Pekan lalu, Trump memberlakukan tarif tambahan 10% untuk semua produk yang berasal dari China. Kemudian, setelah akhir pekan, Trump menaikkan tarif impor baja dan aluminium menjadi 25%.

Mengenal Apa itu BRICS?

Brasil, Rusia, India, dan China secara resmi meluncurkan "BRIC" sebagai organisasi internasional pada tahun 2009, dan kemudian setahun setelahnya menjadi "BRICS" setelah anggotanya bertambah dengan masuknya Afrika Selatan.

Grup ini perlahan-lahan membangun kapasitas kelembagaannya, termasuk bank pembangunan yang diluncurkan pada tahun 2014. Ada minat yang mencolok pada BRICS dalam beberapa tahun terakhir, dan tahun 2023 mereka kembali menerima empat negara sebagai anggota baru, yakni Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Sedangkan beberapa negara lainnya, termasuk Malaysia, Thailand, dan Vietnam di Asia Tenggara, menjadi 'negara mitra', batu loncatan menuju keanggotaan penuh.

Ada juga Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara yang bergabung dengan BRICS sebagai anggota penuh pada bulan Januari 2025.

Analis memperkirakan ketertarikan negara-negara terhadap BRICS, lantaran dinilai bisa sebagai 'penyeimbang' terhadap sistem ekonomi yang dipimpin AS. Keanggotaan juga dapat memberi negara-negara seperti Malaysia, akses yang lebih baik ke ekonomi utama seperti China.

Selain itu hal yang menariknya, BRICS tidak menempatkan persyaratan ketat pada anggotanya, sehingga membuat permainan geopolitik menjadi relatif mudah. Namun kelompok negara-negara berkembang utama ini juga bukan tanpa konflik, terutama antara China dan India.

Bahkan AS memperdalam hubungan dengan negara Asia Selatan itu untuk menyeimbangkan diri melawan Beijing. Pada hari Kamis kemarin, Trump menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. AS membuka pintu bagi India untuk segera mendapatkan akses ke F-35, yang saat ini hanya tersedia bagi sekutu NATO, Israel, dan Jepang.

Mengapa negara-negara tertarik untuk menjauh dari dolar AS?

Kebanyakan negara sering terganggu di bawah status utama dolar AS dalam urusan ekonomi dunia. Hampir setiap transaksi internasional dalam denominasi dolar. Uni Eropa, Jepang, dan China, kadang-kadang mendorong penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan internasional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
EskaIasi Laut Merah...
EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Rupiah Tertekan Sore...
Rupiah Tertekan Sore Ini, Dolar AS Menguat Tembus Rp17.930
Dolar AS Makin Ganas...
Dolar AS Makin Ganas di Tengah Perang, Harga Minyak Tembus USD90 per Barel
Bukan Cuma Harga Minyak,...
Bukan Cuma Harga Minyak, Tata Kelola APBN yang Buruk Jadi Biang Kerok Lemahnya Rupiah
Rupiah Ditutup Menguat...
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.986 per Dolar AS, Apa Saja Penyebabnya?
Rupiah Belum Menjauh...
Rupiah Belum Menjauh dari Level Rp18.068 per USD, Intip 2 Sentimen Penyebabnya
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
3 Tentara AS Tewas Diserang...
3 Tentara AS Tewas Diserang Rudal Iran, Trump Salahkan Yordania
Rekomendasi
Ketua Umum Partai Perindo...
Ketua Umum Partai Perindo Angela Tanoesoedibjo Hadiri Harlah ke-28 PKB di JCC Malam Ini
Bea Cukai Bali Nusra...
Bea Cukai Bali Nusra Musnahkan Barang Ilegal Senilai Lebih dari Rp11,2 Miliar
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas soal Kopdes Merah Putih, Gibran Duduk di Sebelah Kirinya
Berita Terkini
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Komitmen Dukung Ekonomi Nasabah Pensiunan lewat Toko Aice Manado
Dirut Pertamina Patra...
Dirut Pertamina Patra Niaga Pastikan Layanan SPBU di Palembang Optimal
Lokasi PFII Belum Final,...
Lokasi PFII Belum Final, Purbaya: Nanti yang Nentuin Menteri Keuangan
Permintaan Hunian Tetap...
Permintaan Hunian Tetap Tinggi, Alam Sutera Kembangkan Kawasan Residensial Baru
Tak Hanya di Bali, PFII...
Tak Hanya di Bali, PFII Juga Akan Dibangun di Jakarta
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
Infografis
Smartphone dan Komputer...
Smartphone dan Komputer akan Bebas dari Tarif Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved