16 Invensi Hasil Riset GRS 2021-2023, Lebih dari Separo Siap Hilirisasi!
Minggu, 02 Maret 2025 - 23:07 WIB
loading...
A
A
A
"Tidak berhenti sampai komitmen. Selanjutnya, bagaimana produk dibuat massal, ketersediaan bahan baku hingga bentuk pemasaran. Prosesnya masih panjang dan butuh dana yang tidak sedikit. Karena itu, proses hilirisasi tidak selalu berjalan mulus," ucap Prof Didiek.
Direktur Penyaluran Dana BPDP, Mohammad Alfansyah menerangkan, perubahan nomenklatur dari BPDPKS menjadi BPDP tidak mempengaruhi program yang dikembangkan bersama AII. Malah, bidang penelitian semakin luas, tak hanya kelapa sawit tetapi juga kelapa, cocoa dan karet.
"Mulai tahun ini, inventor bisa mengajukan proposal riset terkait kelapa, karet dan cocoa yang akan didanai BPDP menuju hilirisasi. Tentu saja, risetnya tidak dari awal, paling tidak sudah TRL-7," katanya menegaskan.
Ditanya soal dana penelitian yang dialokasikan BPDP, Alfansyah tidak menyebut angka pasti. "Tak ada alokasi khusus, dana disesuaikan dengan proposal yang akan dibiayai. Mungkin angkanya seperti tahun sebelumnya, sekitar Rp90 miliar," ungkapnya.
Dana penelitian itu tidak dikurangi, menurut Alfansyah, karena masih terbilang minim, dibandingkan program lain yang berdana besar seperti subsidi biodiesel, peremajaan sawit rakyat, pengembangan SDM dan penyediaan sarana dan prasarana.
"Kami berterima kasih kepada AII, yang sudah membantu memvaluasi hasil-hasil riset sawit untuk hilirisasi. Karena tidak mudah menaikkan riset TRL-7 hingga menjadi produk yang siap dikomersialisasi," ucapnya.
Hal senada dikemukakan Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Ditjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Lila Harsya Bakhtiar. Pihaknya mendukung acara ini karena relevan dengan program yang dikembangkan Kementerian Perindustrian, yaitu mendorong komersialisasi hasil riset, terutama komiditas kelapa sawit.
"Kita tahu, kelapa sawit saat ini menjasi penggerak ekonomi nasional. Proses hilirisasi industri kelapa sawit sudah berjalan dengan bagus. Ada sekitar 200 produk turunan sawit, yang semua itu berawal dari riset," ucapnya.
Ditambahkan, ketika kelapa sawit dikembangkan 30 tahun lalu, industri hanya mengenal Crude Palm Oil (CPO). Sekarang, Indonesia telah mengekspor lebih dari 93% dalam bentuk olahan sawit. Program hilirisasi berhasil dalam meningkatkan nilai tambah kelapa sawit kita.
Direktur Penyaluran Dana BPDP, Mohammad Alfansyah menerangkan, perubahan nomenklatur dari BPDPKS menjadi BPDP tidak mempengaruhi program yang dikembangkan bersama AII. Malah, bidang penelitian semakin luas, tak hanya kelapa sawit tetapi juga kelapa, cocoa dan karet.
"Mulai tahun ini, inventor bisa mengajukan proposal riset terkait kelapa, karet dan cocoa yang akan didanai BPDP menuju hilirisasi. Tentu saja, risetnya tidak dari awal, paling tidak sudah TRL-7," katanya menegaskan.
Ditanya soal dana penelitian yang dialokasikan BPDP, Alfansyah tidak menyebut angka pasti. "Tak ada alokasi khusus, dana disesuaikan dengan proposal yang akan dibiayai. Mungkin angkanya seperti tahun sebelumnya, sekitar Rp90 miliar," ungkapnya.
Dana penelitian itu tidak dikurangi, menurut Alfansyah, karena masih terbilang minim, dibandingkan program lain yang berdana besar seperti subsidi biodiesel, peremajaan sawit rakyat, pengembangan SDM dan penyediaan sarana dan prasarana.
"Kami berterima kasih kepada AII, yang sudah membantu memvaluasi hasil-hasil riset sawit untuk hilirisasi. Karena tidak mudah menaikkan riset TRL-7 hingga menjadi produk yang siap dikomersialisasi," ucapnya.
Hal senada dikemukakan Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Ditjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Lila Harsya Bakhtiar. Pihaknya mendukung acara ini karena relevan dengan program yang dikembangkan Kementerian Perindustrian, yaitu mendorong komersialisasi hasil riset, terutama komiditas kelapa sawit.
"Kita tahu, kelapa sawit saat ini menjasi penggerak ekonomi nasional. Proses hilirisasi industri kelapa sawit sudah berjalan dengan bagus. Ada sekitar 200 produk turunan sawit, yang semua itu berawal dari riset," ucapnya.
Ditambahkan, ketika kelapa sawit dikembangkan 30 tahun lalu, industri hanya mengenal Crude Palm Oil (CPO). Sekarang, Indonesia telah mengekspor lebih dari 93% dalam bentuk olahan sawit. Program hilirisasi berhasil dalam meningkatkan nilai tambah kelapa sawit kita.
Lihat Juga :