Bank Sentral Rusia Memperingatkan Kejatuhan Harga Minyak era 80-an Bisa Terulang
Selasa, 25 Maret 2025 - 15:51 WIB
loading...
A
A
A
"Komitmen Rusia dan Arab Saudi untuk mematuhi kewajiban yang diasumsikan dalam "OPEC Plus" ditekankan," kata Kremlin.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan, bahwa total kapasitas cadangan OPEC - output menganggur yang dapat dioperasikan - mencapai sekitar 5,3 juta barel per hari, mendekati ekspor minyak dan bahan bakar Rusia.
Sedangkan Arab Saudi mengatakan mampu meningkatkan produksi dari 9 juta barel per hari saat ini menjadi kapasitas maksimum 12 juta barel per hari dalam beberapa bulan.
Moskow telah mengalami beberapa guncangan keuangan akibat harga minyak rendah sejak 1991. Pada tahun 1998, ia gagal membayar utang luar negerinya setelah harga turun menjadi USD10 per barel.
"Anggaran mungkin belum berjalan dengan baik, karena sudah akhir Maret, dan kita belum memenuhi parameter anggaran yang direncanakan untuk 2025," katanya.
Baca Juga: Arab Saudi Bakal Kerek Harga Minyak Mentah ke Asia hingga Level Tertinggi
Igor Yushkov, seorang profesor di Universitas Keuangan pemerintah Rusia, mengatakan pihak bank khawatir karena harga minyak yang rendah dan rubel yang kuat.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan, bahwa total kapasitas cadangan OPEC - output menganggur yang dapat dioperasikan - mencapai sekitar 5,3 juta barel per hari, mendekati ekspor minyak dan bahan bakar Rusia.
Sedangkan Arab Saudi mengatakan mampu meningkatkan produksi dari 9 juta barel per hari saat ini menjadi kapasitas maksimum 12 juta barel per hari dalam beberapa bulan.
Moskow telah mengalami beberapa guncangan keuangan akibat harga minyak rendah sejak 1991. Pada tahun 1998, ia gagal membayar utang luar negerinya setelah harga turun menjadi USD10 per barel.
"Anggaran mungkin belum berjalan dengan baik, karena sudah akhir Maret, dan kita belum memenuhi parameter anggaran yang direncanakan untuk 2025," katanya.
Baca Juga: Arab Saudi Bakal Kerek Harga Minyak Mentah ke Asia hingga Level Tertinggi
Igor Yushkov, seorang profesor di Universitas Keuangan pemerintah Rusia, mengatakan pihak bank khawatir karena harga minyak yang rendah dan rubel yang kuat.
(akr)
Lihat Juga :