Hadapi Tarif Trump, Mereka yang Melawan dan yang Memilih Negosiasi

Kamis, 10 April 2025 - 16:09 WIB
loading...
Hadapi Tarif Trump,...
Sejumlah negara memilih melawan dan membalas kebijakan tarif AS sementara lainnya memilih untuk bernegosiasi. FOTO/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkanPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengejutkan seluruh dunia. Tak hanya mematok tarif dasar 10 persen, Trump "menghukum" sejumlah negara yang perdagangannya dinilai timpang dan merugikan Amerika.

Negara-negara yang terkena tarif jumbo Trump di Asia antara lain China yang di awal pengumuman dikenai tarif 34 persen, Indonesia sebesar 32 persen, Malaysia 24 persen, Thailand 36 persen, Vietnam 46 persen, Jepang 24 persen, Korea Selatan 25 persen, dan banyak lagi.Bahkan, sekutu AS seperti Eropa dan negara Barat lainnya tak luputdari tarif resiprokal Trump.

Beberapa hari setelah pengumuman yang mengejutkan tersebut, Trump membuat pengumuman lain yang membuat negara-negara mitra dagang Amerika sedikit lega. Trump memutuskanmenunda pengenaantarifnya selama 90 hari dalam upaya untuk membuat kesepakatan yang disesuaikan dengan masing-masing negara. Tapi sebaliknya, Trump memukul China dengan tarif yang lebih "gila" sebesar 125 persen dengan alasan negara itu melawan dan "tak menghormati" keputusan AS soal tarif.

Baca Juga: Soal Tarif Impor, Trump: Banyak Negara Ingin 'Cium Pantat Saya' untuk Negosiasi

Sesungguhnya China tak sendiri dalam penolakannya atas kebijakan sepihak Amerika. Ada negara lainnya yang juga berkeras dan siap membalas tarif Trump dengan tarif serupa untuk ekspor barang-barang AS ke negaranya. Namun, sebagian besar negara memang memilih "tidak melawan" dan memutuskan siap bernegosiasi dengan AS agar tak kena "murka" Trump dan administrasinya.

Berikut adalah negara-negara yang memilih untuk melawan dan membalas tarif Amerika:

1. China
China telah merencanakan tarif balasan sebesar 34% minggu lalu. Menanggapi perlawananChina tersebut, Trump menaikkan tarif atas barang-barang China menjadi 104% dan mulai berlaku pada Rabu pagi. Aksi ini pun dibalas Pemerintah China dengan menaikkan tarif atas barang-barang AS menjadi 84%.

"Praktik AS untuk menaikkan tarif atas China adalah kesalahan di atas kesalahan lainnya, yang secara serius melanggar hak dan kepentingan sah China dan secara serius merusak sistem perdagangan multilateral berbasis aturan," kata Kementerian Keuangan China.

Sebagai tanggapan, Trump menaikkan tarif atas barang-barang China menjadi 125% alih-alih memberi negara itu penangguhan, seperti yang diberikannya kepada sebagian besar negara lain. "Seperti yang telah saya katakan berulang kali, China adalah ekonomi paling tidak seimbang dalam sejarah dunia modern dan mereka adalah sumber terbesar masalah perdagangan AS," kata Menteri Keuangan Scott Bessent dalam konferensi.

2. Uni Eropa
Pejabat Uni Eropa memberikan suara pada hari Rabu untuk menerapkan tarif balasan atas barang-barang AS. Tarif blok tersebut akan memengaruhi sekitar USD23,2 miliar ekspor AS, menurut Bloomberg, dan merupakan respons terhadap tarif baja dan aluminium yang sebelumnya diterapkan, menurut pernyataan yang dirilis oleh para pejabat.

"UE menganggap tarif AS tidak dapat dibenarkan dan merusak, menyebabkan kerugian ekonomi bagi kedua belah pihak, serta ekonomi global," kata pernyataan tersebut. "UE telah menyatakan preferensinya yang jelas untuk menemukan hasil negosiasi dengan AS, yang akan seimbang dan saling menguntungkan."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Gaya Hidup Miliarder,...
Gaya Hidup Miliarder, Begini Cara Keluarga Trump Membelanjakan Hartanya
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Demi Gencatan Dagang...
Demi Gencatan Dagang Berlanjut, China Beri Sinyal Terima Kenaikan Tarif AS
Trump-Xi Jinping Bertemu...
Trump-Xi Jinping Bertemu Tanpa Kesepakatan Logam Tanah Jarang, Perang Dagang Masih Membayangi
Selain Memaki, Trump...
Selain Memaki, Trump Juga Disebut Ancam Netanyahu via Istrinya atas Rencana Israel di Lebanon
Pemimpin Tertinggi Iran...
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Peringatkan Perpecahan setelah Kekalahan Musuh di Medan Perang
Trump Akui Mendamprat...
Trump Akui Mendamprat Netanyahu dengan Makian Kasar: 'Saya Sedikit Terganggu...'
Rekomendasi
Indonesia Manufacturing...
Indonesia Manufacturing Symposium 2026, Membangun Sistem Enterprise
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved