Pengusaha China Ejek Tarif Trump: Barang Mewah di AS Dibuat dengan Cost Murah
Senin, 21 April 2025 - 13:06 WIB
loading...
A
A
A
Video seperti ini mulai muncul hanya beberapa hari setelah presiden AS memanaskan perang dagangnya melawan China, dengan meningkatkan tarif impor dari negara itu menjadi 145%.
Trump mengklaim dirinya sedang berusaha untuk memaksa lebih banyak produksi kembali ke AS. "Apa yang telah terungkap adalah bahwa kita perlu membuat produk di Amerika Serikat, dan kita tidak akan disandera oleh negara lain, terutama negara-negara perdagangan yang bermusuhan seperti China, yang akan melakukan segala daya untuk tidak menghormati rakyat Amerika," ungkap Trump pada beberapa pekan kemarin.
Saat ini, AS memproduksi hanya sekitar 2% pakaian yang dijual di negaranya sendiri. Kondisi tersebut memicu ejekan dari para pengguna media sosial China, yang awal bulan ini memposting video buatan AI yang menunjukkan orang Amerika mengalami kelebihan berat badan dan harus bekerja di pabrik.
Video yang disebut "make America great again" itu telah ditonton ratusan ribu kali.
Reaksi di media sosial semakin deras ketika ketegangan antara dua raksasa manufaktur dunia semakin meningkat. Pada awak bulan ini, wakil presiden AS JD Vance menyebut pemasok China sebagai "petani", dengan mengatakan: "Untuk membuatnya sedikit lebih jelas, kami meminjam uang dari petani China untuk membeli barang-barang yang diproduksi oleh petani China itu."
China seperti diketahui merupakan pengekspor tekstil utama. Meraka menghasilkan sekitar dua pertiga dari pakaian dunia. Sedangkan AS adalah pasar terbesar untuk ekspor dari China, ketika negara itu mengirim tekstil senilai sekitar USD49 miliar ke Amerika tahun lalu.
Sementara merek-merek besar Amerika mulai mendiversifikasi produksi mereka dari hanya mengandalkan China – juga bersumber dari pabrik di Vietnam dan Indonesia –, Beijing tetap menjadi basis pasokan penting bagi banyak perusahaan.
Trump mengklaim dirinya sedang berusaha untuk memaksa lebih banyak produksi kembali ke AS. "Apa yang telah terungkap adalah bahwa kita perlu membuat produk di Amerika Serikat, dan kita tidak akan disandera oleh negara lain, terutama negara-negara perdagangan yang bermusuhan seperti China, yang akan melakukan segala daya untuk tidak menghormati rakyat Amerika," ungkap Trump pada beberapa pekan kemarin.
Saat ini, AS memproduksi hanya sekitar 2% pakaian yang dijual di negaranya sendiri. Kondisi tersebut memicu ejekan dari para pengguna media sosial China, yang awal bulan ini memposting video buatan AI yang menunjukkan orang Amerika mengalami kelebihan berat badan dan harus bekerja di pabrik.
Video yang disebut "make America great again" itu telah ditonton ratusan ribu kali.
Reaksi di media sosial semakin deras ketika ketegangan antara dua raksasa manufaktur dunia semakin meningkat. Pada awak bulan ini, wakil presiden AS JD Vance menyebut pemasok China sebagai "petani", dengan mengatakan: "Untuk membuatnya sedikit lebih jelas, kami meminjam uang dari petani China untuk membeli barang-barang yang diproduksi oleh petani China itu."
China seperti diketahui merupakan pengekspor tekstil utama. Meraka menghasilkan sekitar dua pertiga dari pakaian dunia. Sedangkan AS adalah pasar terbesar untuk ekspor dari China, ketika negara itu mengirim tekstil senilai sekitar USD49 miliar ke Amerika tahun lalu.
Sementara merek-merek besar Amerika mulai mendiversifikasi produksi mereka dari hanya mengandalkan China – juga bersumber dari pabrik di Vietnam dan Indonesia –, Beijing tetap menjadi basis pasokan penting bagi banyak perusahaan.
Lihat Juga :