Gara-gara AI Menteri Ketenagakerjaan Negara BRICS Kumpul Bareng di Brasil
Sabtu, 26 April 2025 - 22:23 WIB
loading...
Menteri ketenagakerjaan negara-negara BRICS melakukan pertemuan di tengah berkembangnya kecerdasan buatan (AI). Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri ketenagakerjaan negara-negara BRICS melakukan pertemuan di Brasilia, Brasil, Jumat (25/4/2025) waktu setempat untuk membahas masa depan pekerja di tengah berkembangnya kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence/AI ).
Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Yassierli menegaskan, bahwa kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar tren, melainkan kekuatan transformasional yang mengubah cara dunia bekerja, termasuk di Indonesia.
"AI telah mengubah industri dan mendefinisikan ulang keterampilan. Namun, dengan potensi sebesar itu, transformasi ini harus dikelola secara bijaksana dan inklusif," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (26/4/2025).
Baca Juga: Menaker Sebut Industri RI Butuh Tenaga Kerja yang Kuasai AI
Menurutnya, AI menghadirkan dua sisi tantangan. Di satu sisi, AI menjanjikan efisiensi, peningkatan produktivitas, serta peluang kerja dan inovasi baru. Namun di sisi lain, tanpa tata kelola yang inklusif, AI berisiko memperlebar kesenjangan dan meninggalkan sebagian tenaga kerja.
"Indonesia tidak melihat AI sebagai ancaman, melainkan sebagai kekuatan yang harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Teknologi harus melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya," tegasnya.
Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Yassierli menegaskan, bahwa kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar tren, melainkan kekuatan transformasional yang mengubah cara dunia bekerja, termasuk di Indonesia.
"AI telah mengubah industri dan mendefinisikan ulang keterampilan. Namun, dengan potensi sebesar itu, transformasi ini harus dikelola secara bijaksana dan inklusif," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (26/4/2025).
Baca Juga: Menaker Sebut Industri RI Butuh Tenaga Kerja yang Kuasai AI
Menurutnya, AI menghadirkan dua sisi tantangan. Di satu sisi, AI menjanjikan efisiensi, peningkatan produktivitas, serta peluang kerja dan inovasi baru. Namun di sisi lain, tanpa tata kelola yang inklusif, AI berisiko memperlebar kesenjangan dan meninggalkan sebagian tenaga kerja.
"Indonesia tidak melihat AI sebagai ancaman, melainkan sebagai kekuatan yang harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Teknologi harus melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya," tegasnya.
Lihat Juga :