Bank Dunia Membunyikan Alarm Soal Jeratan Utang di Negara Berkembang, Termasuk RI?

Senin, 28 April 2025 - 08:29 WIB
loading...
A A A
Indeks ketidakpastian, yang sudah berjalan jauh lebih tinggi dari satu dekade lalu, juga melonjak setelah pengumuman kebijakan tarif Trump pada 2 April.

"Dibandingkan dengan guncangan sebelumnya, termasuk krisis keuangan global 2008-2009 dan pandemi COVID-19, guncangan saat ini adalah hasil dari kebijakan pemerintah, yang berarti juga bisa berbalik," ungkap Gill dalam sebuah wawancara dengan Reuters.

Dia mengatakan krisis saat ini akan semakin menekan pertumbuhan di pasar negara berkembang, setelah penurunan stabil dari level sekitar 6% dua dekade lalu. Saat ini perdagangan global sekarang diramalkan tumbuh hanya 1,5% - jauh di bawah pertumbuhan 8% yang terlihat pada tahun 2000-an.

"Jadi ini adalah perlambatan tiba-tiba di atas situasi yang tidak terlalu baik," katanya, sembari memberikan catatan bahwa arus portofolio ke pasar negara berkembang dan investasi asing langsung (FDI) juga menyusut, seperti selama krisis sebelumnya.

"FDI adalah 5% dari PDB di pasar negara berkembang dalam kondisi baik-baik saja. Sekarang sebenarnya 1% dan arus portofolio dan FDI turun secara keseluruhan," katanya.

Negosiasi Kesepakatan Dagang AS

Tingkat utang yang tinggi berarti bahwa setengah dari sekitar 150 negara berkembang dan pasar negara berkembang tidak dapat melakukan pembayaran pembayaran utang atau berisiko mengalaminya dua kali lipat dari tahun 2024. Gill juga menyebutkan ekonomi global bakal melambat usai terdampak tarif AS.

"Jika pertumbuhan global melambat, perdagangan melambat, lebih banyak negara dan suku bunga tetap tinggi, maka Anda akan membuat banyak negara ini mengalami kesulitan utang, termasuk beberapa yang merupakan eksportir komoditas," katanya.

Pembayaran bunga bersih sebagai bagian dari produk domestik bruto - ukuran berapa banyak yang dibelanjakan negara untuk membayar utang mereka - sekarang mencapai 12% untuk pasar negara berkembang, dibandingkan dengan 7% pada 2014, kembali ke level yang terakhir terlihat pada 1990-an.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bank Dunia Beri Peringatan...
Bank Dunia Beri Peringatan Keras usai Rupiah Terpuruk ke Rp18.000
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
IMF, Bank Dunia, dan...
IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Terancam Bangkrut? 27...
Terancam Bangkrut? 27 Negara Panik Amankan Dana Darurat Bank Dunia
Pertemuan Trump dan...
Pertemuan Trump dan Xi Jinping Diyakini Bahas Taiwan hingga Konflik Iran
Status Baru, Tantangan...
Status Baru, Tantangan Lama
Kesepakatan Tarif RI–AS,...
Kesepakatan Tarif RI–AS, Bagaimana Nasib Aturan Label Halal?
Rekomendasi
Almamater Lima Soroti...
Almamater Lima Soroti Dugaan Penyusutan Lahan Taman Potret Tangerang
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
Universitas Brawijaya...
Universitas Brawijaya Tembus Peringkat 616 Dunia di QS WUR 2027
Berita Terkini
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved