AS Menemukan Cara Mengalahkan China dalam Dominasi Logam Tanah Jarang

Selasa, 06 Mei 2025 - 13:54 WIB
loading...
AS Menemukan Cara Mengalahkan...
Inovasi magnet terbaru yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir bakal membantu Amerika Serikat (AS) meredam dominasi China di sektor mineral utama seperti logam tanah jarang. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Inovasi yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir diyakini dapat membantu Amerika Serikat (AS) meredam dominasi China di sektor mineral utama seperti logam tanah jarang . Seorang ilmuwan yang bekerja di laboratorium University of Minnesota meneliti magnet besi nitrida pertama di dunia, teknologi revolusioner yang ditempa dari besi dan nitrogen tanpa menggunakan unsur tanah jarang.

Sementara itu hingga saat ini, China masih mendominasi ekspor tanah jarang dengan 92% penyulingan global. Persaingan dua raksasa ekonomi dunia semakin meluas, dimana Bejing sebagai pengekspor mineral tanah jarang terbesar memutuskan membatasi ekspor mereka ke Amerika Serikat.

Baca Juga: 5 Negara Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang di Dunia

Memainkan peran kunci di hampir semua hal mulai dari motor Electric Vehicle (EV) atau kendaraan listrik, hingga turbin angin dan mesin MRI, magnet tanah jarang sekarang memiliki alternatif.

Peran magnet dalam EV dan elektronik

Niron Magnetics, spin-off yang dibuat oleh ilmuwan material Universitas Minnesota Jian-Ping Wang, menawarkan magnet permanen bebas elemen tanah jarang.

Perusahaan mengklaim, inovasi ini berguna untuk elektronik konsumen dan industri tenaga motor. Magnet permanen adalah gaya tidak terlihat yang mengubah listrik menjadi gerakan di perangkat sehari-hari Anda.

"Kami memproduksi satu-satunya magnet permanen bebas tanah jarang berkinerja tinggi di dunia. Teknologi magnet Iron Nitride kami dan keahlian magnet terkemuka di dunia meningkatkan aplikasi yang menggunakan magnet untuk membantu merevolusi industri Anda," kata perusahaan dalam sebuah pernyataan.

Inovasi ilmuwan kelahiran China itu diharapkan dapat membantu Amerika Serikat mengatasi dominasi China dalam pasokan mineral tanah jarang. Wang memperoleh gelar PhD di Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok dan menghabiskan beberapa dekade untuk mempelajari magnetisme.

Bahan baku magnet Niron melimpah secara global dan 100% bersumber di dalam negeri, menciptakan rantai pasokan yang aman secara permanen. Perusahaan juga mengklaim bahwa magnet mereka menawarkan kinerja canggih karena Iron Nitride memiliki fluks terbesar dari bahan apapun yang diketahui dan membuka keunggulan mendasar dalam desain perangkat.

Niron mengatakan, telah melakukan proses secara efisien berskala besar untuk memenuhi permintaan dalam membuat peralatan yang terbukti di industri, mulai dari nanopartikel hingga magnet jadi.

Pada saat raksasa Asia itu memperketat ekspor mineral kritis seperti samarium dan disprosium, inovasi Niron menjanjikan alternatif. Magnet Niron unggul di bawah 200 derajat Celcius (392 Fahrenheit), aplikasi suhu tinggi masih mengandalkan China.

Bahkan dengan pabrik pertamanya di Minnesota yang memulai produksi tahun ini, apakah bakal mampu memenuhi permintaan global yang melonjak?. Diproyeksikan permintaan bakal meningkat tiga kali lipat pada tahun 2035, yang akan menjadi tantangan.

Perusahaan mengklaim bahwa, inovasi ini nbakal memacu kinerja perangkat untuk generasi berikutnya dengan menggunakan magnet Iron Nitride.

"Motor yang lebih efisien. Stabilitas suhu yang lebih baik. Ini adalah magnet permanen yang membentuk kembali teknologi masa depan, dan membantu Anda mencapai tujuan desain Anda hari ini," kata perusahaan dalam pernyataannya.

Clean Earth Magnet Teknologi milik Niron, berdasarkan Iron Nitride, memungkinkan magnet yang memiliki magnetisasi tinggi secara inheren. Hal ini diharapkan dapat memungkinkan revolusi dalam desain motor listrik dan generator baru.

Baca Juga: China Ancam Perusahaan Korea yang Kirim Produk Tanah Jarang ke AS

"Kami mendapatkan minat luar biasa dari pelanggan kami di sektor teknologi, terutama dalam beberapa tahun terakhir karena ketegangan perdagangan antara China dan AS telah meningkat, dan karena China menggunakan teknologi tanah jarang sebagai alat tawar-menawar sebagai respons terhadap AS yang membatasi teknologi semikonduktor," kata CEO Niron Magnetics, Jonathan Rowntree.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Rekomendasi
Tingkatkan Layanan Kesehatan...
Tingkatkan Layanan Kesehatan di Rumah Sakit, RS Pelni Gelar Pelatihan AI
Prabowo Bakal Resmikan...
Prabowo Bakal Resmikan 1.151 Km Jalan serta Hadiri Munas-Konbes NU
Unpad Umumkan Hasil...
Unpad Umumkan Hasil SMUP 2026 Hari Ini, Cek Info Registrasi hingga UKT
Berita Terkini
Komut Pertamina Mochamad...
Komut Pertamina Mochamad Iriawan: Investasi Terbaik Bangsa pada Manusia
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan...
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Baju Bekas Ilegal Senilai Rp37,4 Miliar
Bangun SDM Unggul, Pertamina...
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Kilau Emas Antam Kembali,...
Kilau Emas Antam Kembali, Hari Ini Naik Tipis Rp5 Ribu ke Rp2.673.000 per Gram
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved