Daya Tarik Dolar AS Meredup, Ternyata Ini Sebabnya

Jum'at, 30 Mei 2025 - 07:03 WIB
loading...
Daya Tarik Dolar AS...
Ada banyak alasan fundamental ekonomi sebagai dasar proyeksi negatif terhadap dolar Amerika Serikat (USD) untuk jangka penjang. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Ada banyak alasan fundamental ekonomi sebagai dasar proyeksi negatif terhadap dolar Amerika Serikat (USD) untuk jangka penjang. Akan tetapi penjualan dan sentimen bearish yang ada saat ini mungkin terlalu berlebihan.

Dolar AS telah kehilangan 5% nilainya terhadap beberapa mata uang utama sejak tarif Presiden Donald Trump berlaku pada 2 April, lalu. Bahkan pelemahan Dolar AS menyentuh angka hingga 10% sejak pertengahan Januari, setelah sebelumnya berada di posisi terkuat dalam lebih dari dua tahun.

Ketidakpastian ekonomi dan kebijakan yang diakibatkan oleh perang dagang Trump telah membuat daya tarik dolar memudar. Sementara upaya Trump untuk menghancurkan tatanan ekonomi dunia selama 80 tahun terakhir dan serangannya terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell juga memicu kekhawatiran di kalangan para investor.

Baca Juga: Mampukah Mata Uang Lain Merebut Tahta Raja Dolar AS? Begini Penjelasan Analis

Lebih lagi, jika pemerintahan Trump ingin menghidupkan kembali industri manufaktur AS, mengurangi defisit perdagangan dan menyeimbangkan perdagangan global, nilai tukar yang lebih lemah harus menjadi bagian dari rencana tersebut.

Kejelasan mengenai beberapa isu ini mungkin tidak akan datang dalam waktu dekat. Gencatan senjata untuk peramng tarif AS-China akan berakhir pada 9 Juli dan undang-undang pemotongan pajak Trump mungkin tidak akan disetujui secara final sampai jeda 4 Juli, mendatang saat itu isu batas utang akan kembali menjadi perhatian investor.

Semua itu menjadi latar belakang di mana, banyak investor sekarang menilai kembali eksposur mereka terhadap aset yang dinyatakan dalam dolar. Termasuk Surat Utang Negara (Treasuries), terutama obligasi dengan jatuh tempo lebih panjang, yang merasakan tekanan dari kekhawatiran yang mendalam tentang utang dan defisit AS.

Ketika mata uang cadangan dunia dan aset cadangan yang berada di bawah tekanan, tidak mengherankan jika saham-saham AS berkinerja buruk dibandingkan dengan sebagian besar rekan-rekan globalnya tahun ini.

Meski ada angin segar bagi penguatan dolar, seiring meredanya ketegangan perdagangan AS-China. Namun seperti yang sering terjadi di pasar keuangan, para pelaku pasar dan investor tidak ingin terlalu terburu-buru. Sentimen dan posisi negatif saat ini berada pada tingkat yang ekstrem, menurut beberapa ukuran.

Terlalu Banyak, Terlalu Cepat

Survei terbaru manajer dana global dari Bank of America menunjukkan bahwa paparan terhadap dolar bulan ini adalah yang terendah sejak Mei 2006, yaitu dalam 19 tahun. Sebanyak 17% investor dalam survei saat ini mengurangi memegang dolar.

Baca Juga: Gelombang Dedolarisasi Melanda Dunia, Lebih 70 Negara Singkirkan Dolar AS

Survei yang sama juga menunjukkan bahwa "krisis dolar AS akibat aksi mogok pembeli internasional" sekarang dianggap sebagai risiko terbesar ketiga bagi pasar dunia. Menurut para investor, hanya sedikit di belakang inflasi yang memaksa Fed untuk menaikkan suku bunga.

Proses multi-tahun " dedolarisasi " mungkin sedang berjalan, tetapi aksi mogok pembelian diyakini tidak mungkin terjadi, bahkan di tengah ketidakpastian dan ketegangan saat ini.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Rupiah Tergerus Sentimen...
Rupiah Tergerus Sentimen Eksternal, Hari Ini Berakhir Tembus Rp17.843 per USD
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
The Changcuters Bakal...
The Changcuters Bakal Naikkan Tarif Manggung Imbas Ekonomi Lesu?
Maia Estianty Soroti...
Maia Estianty Soroti Dolar Tembus Rp18.000, Curhat soal Pajak
Mahasiswa UNS Diajak...
Mahasiswa UNS Diajak Pahami Penyebab Rupiah Melemah dan Dolar Naik di ICC 2026
Rekomendasi
Jaksa Agung Singgung...
Jaksa Agung Singgung Wacana Peleburan Pidum-Pidsus demi Penanganan Perkara Lebih Efisien
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Simak jadwal Timnas...
Simak jadwal Timnas Futsal U-17 Indonesia di VI Nation U-17 Futsal Tournament 2026
Berita Terkini
Potongan Aplikasi Gojek...
Potongan Aplikasi Gojek Turun Jadi 8% Mulai 1 Juli 2026, Manajemen GOTO Angkat Suara
Biaya Medis Meningkat,...
Biaya Medis Meningkat, Allianz Ajak Pahami Pentingnya Perlindungan Kesehatan
Pascapengumuman MSCI,...
Pascapengumuman MSCI, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,62% ke Level 6.002
Harga Emas Terjun Rp18...
Harga Emas Terjun Rp18 Ribu, Hari Ini 1 Gram Dijual Rp2.655.000 per Gram
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
MNC Sekuritas Gelar...
MNC Sekuritas Gelar SPM Level 2 Bersama IBI Kesatuan Bogor: Mengenal Analisis Teknikal
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved