Jerman PHK 100 Ribu Lebih Pekerja Sektor Industri, Apa yang Terjadi?
Kamis, 12 Juni 2025 - 08:38 WIB
loading...
Dalam laporan itu menunjukkan bahwa sektor otomotif Jerman telah kehilangan 45.400 pekerja, hingga menjadikannya sebagai sektor yang paling terpengaruh dari melambatnya ekonomi. Foto/Dok Reuters
A
A
A
JAKARTA - Sektor industri Jerman telah kehilangan lebih dari 100.000 pekerjaan dalam satu tahun terakhir, akibat dari penurunan ekonomi negara tersebut yang terus berlanjut. Hal ini berdasarkan analisis yang dikeluarkan oleh konsultan EY, dan diterbitkan oleh German Press Agency (dpa).
Dalam laporan itu menunjukkan bahwa sektor otomotif Jerman telah kehilangan 45.400 pekerja, hingga menjadikannya sebagai sektor yang paling terpengaruh dari melambatnya ekonomi. Pada akhir kuartal pertama, industri Jerman tercatat mempekerjakan 5,46 juta orang, turun 1,8% atau 101.000 pekerjaan dibandingkan tahun sebelumnya, menurut studi yang berdasarkan data dari Badan Statistik Federal.
Baca Juga: Rusia Potong Gas, Industri Jerman Dihadapkan Pilihan yang Menyakitkan
Sejak pra-pandemi tahun 2019, jumlah karyawan industri terus berkurang sebanyak 217.000, atau menjadi penurunan sebesar 3,8%. Sektor ini mencapai rekor tertinggi sekitar 5,7 juta pekerjaan pada tahun 2018. Menurut Jan Brorhilker, mitra pengelola di EY, perusahaan industri berada di bawah tekanan yang sangat besar.
"Kompetitor yang agresif, seperti dari China, dimana adanya tekanan harga, pelemahan pasar penjualan utama, permintaan di Eropa yang stagnan pada level rendah, dan seluruh pasar AS adalah tanda tanya besar,” katanya.
“Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan sedang berjuang dengan lonjakan biaya tinggi – misalnya, untuk energi dan tenaga kerja," sambungnya.
Brorhilker memperingatkan, bahwa setidaknya menjelang akhir tahun, bakal ada lagi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang mencapai 70.000 pekerja. Hal itu terutama terjadi di sektor mesin dan manufaktur otomotif, dimana banyak perusahaan telah meluncurkan program penghematan biaya untuk mengatasi kondisi pasar yang menantang.
Di sektor otomotif, yang menghadapi penurunan penjualan, persaingan yang meningkat dari China, dan pergeseran menuju e-mobilitas, hampir 6% pekerjaan dipangkas sepanjang tahun lalu, kata laporan tersebut.
Pada akhir Maret, lapangan kerja di industri tersebut mengalami penurunan menjadi sekitar 734.000. Kehilangan pekerjaan yang signifikan juga tercatat di produksi logam dan industri tekstil, dengan lapangan kerja di kedua sektor tersebut turun lebih dari 4%.
Krisis di sektor industri Jerman telah memicu kembali perdebatan mengenai daya tarik negara itu sebagai basis manufaktur. Pengamat memperingatkan tentang deindustrialisasi yang terus merayap.
Menurut para ahli, penurunan ini mencerminkan dampak ekonomi akibat pemutusan hubungan dengan energi Rusia. Setelah sabotase pipa Nord Stream pada 2022 dan beragam sanksi, dampaknya harga gas di Eropa meningkat empat kali lipat dibandingkan tahun lalu, memberikan tekanan serius pada industri dan rumah tangga.
Baca Juga: Alarm Bahaya, Krisis Ekonomi Jerman Semakin Dalam
Namun, Kanselir Friedrich Merz telah mengambil sikap tegas terhadap Rusia, dimana Ia berjanji untuk "meningkatkan tekanan" pada Moskow dan melemahkan "mesin perang"-nya melalui sanksi lebih lanjut. Pemerintahnya baru-baru ini berjanji memberikan tambahan USD5,6 miliar dalam bantuan militer kepada Ukraina.
Dalam laporan itu menunjukkan bahwa sektor otomotif Jerman telah kehilangan 45.400 pekerja, hingga menjadikannya sebagai sektor yang paling terpengaruh dari melambatnya ekonomi. Pada akhir kuartal pertama, industri Jerman tercatat mempekerjakan 5,46 juta orang, turun 1,8% atau 101.000 pekerjaan dibandingkan tahun sebelumnya, menurut studi yang berdasarkan data dari Badan Statistik Federal.
Baca Juga: Rusia Potong Gas, Industri Jerman Dihadapkan Pilihan yang Menyakitkan
Sejak pra-pandemi tahun 2019, jumlah karyawan industri terus berkurang sebanyak 217.000, atau menjadi penurunan sebesar 3,8%. Sektor ini mencapai rekor tertinggi sekitar 5,7 juta pekerjaan pada tahun 2018. Menurut Jan Brorhilker, mitra pengelola di EY, perusahaan industri berada di bawah tekanan yang sangat besar.
"Kompetitor yang agresif, seperti dari China, dimana adanya tekanan harga, pelemahan pasar penjualan utama, permintaan di Eropa yang stagnan pada level rendah, dan seluruh pasar AS adalah tanda tanya besar,” katanya.
“Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan sedang berjuang dengan lonjakan biaya tinggi – misalnya, untuk energi dan tenaga kerja," sambungnya.
Brorhilker memperingatkan, bahwa setidaknya menjelang akhir tahun, bakal ada lagi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang mencapai 70.000 pekerja. Hal itu terutama terjadi di sektor mesin dan manufaktur otomotif, dimana banyak perusahaan telah meluncurkan program penghematan biaya untuk mengatasi kondisi pasar yang menantang.
Di sektor otomotif, yang menghadapi penurunan penjualan, persaingan yang meningkat dari China, dan pergeseran menuju e-mobilitas, hampir 6% pekerjaan dipangkas sepanjang tahun lalu, kata laporan tersebut.
Pada akhir Maret, lapangan kerja di industri tersebut mengalami penurunan menjadi sekitar 734.000. Kehilangan pekerjaan yang signifikan juga tercatat di produksi logam dan industri tekstil, dengan lapangan kerja di kedua sektor tersebut turun lebih dari 4%.
Krisis di sektor industri Jerman telah memicu kembali perdebatan mengenai daya tarik negara itu sebagai basis manufaktur. Pengamat memperingatkan tentang deindustrialisasi yang terus merayap.
Menurut para ahli, penurunan ini mencerminkan dampak ekonomi akibat pemutusan hubungan dengan energi Rusia. Setelah sabotase pipa Nord Stream pada 2022 dan beragam sanksi, dampaknya harga gas di Eropa meningkat empat kali lipat dibandingkan tahun lalu, memberikan tekanan serius pada industri dan rumah tangga.
Baca Juga: Alarm Bahaya, Krisis Ekonomi Jerman Semakin Dalam
Namun, Kanselir Friedrich Merz telah mengambil sikap tegas terhadap Rusia, dimana Ia berjanji untuk "meningkatkan tekanan" pada Moskow dan melemahkan "mesin perang"-nya melalui sanksi lebih lanjut. Pemerintahnya baru-baru ini berjanji memberikan tambahan USD5,6 miliar dalam bantuan militer kepada Ukraina.
(akr)
Lihat Juga :