Daftar Bank-bank Terbesar di Dunia 2025, JPMorgan Memimpin 3 Tahun Beruntun
Jum'at, 13 Juni 2025 - 20:34 WIB
loading...
A
A
A
Menurut penelitian dari Fitch Ratings, "ketidakpastian mengenai kebijakan perdagangan, potensi balasan menimbulkan keraguan tentang kemampuan untuk menilai kinerja perbankan di masa depan berdasarkan hasil kuartal pertama."
Bank secara wajar khawatir bahwa ketidakpastian yang diciptakan oleh kebijakan perdagangan dan ekonomi pemerintahan Trump yang tidak menentu, akan terus melumpuhkan bisnis yang kesulitan membuat dan melaksanakan rencana pertumbuhan strategis saat situasi selalu berubah.
Selain JPMorgan, terdapat lima bank AS lainnya yang masuk dalam 50 besar yakni Bank of America, Wells Fargo, Goldman Sachs, Citigroup, dan Morgan Stanley.
Sementara itu laba bank-bank raksasa China sedikit menyusut pada awal tahun 2025, karena margin bunga bersih terus mengalami penurunan selama beberapa tahun. Pelemahan pada sektor properti memicu maraknya kemunculan pinjaman bermasalah yang pada gilirannya menggerus margin bunga bersih akibat suku bunga pinjaman yang lebih rendah dan perlambatan permintaan pinjaman.
Namun secara total aset mengalami peningkatan, terutama karena bank-bank di China terus beralih ke area pertumbuhan baru seperti pinjaman industri baru (sektornya dianggap krusial untuk pertumbuhan ekonomi masa depan negara, seperti di bidang kendaraan listrik atau kecerdasan buatan), yang telah menunjukkan pertumbuhan solid.
"Memasuki siklus di mana baik suku bunga, maupun margin bunga bersih berada pada tingkat rendah, industri perbankan menghadapi ketidakpastian yang meningkat di lingkungan makro," menurut Kelvin Leung, Mitra Layanan Keuangan Greater China di Ernst & Young.
Menanggapi tantangan ini, dia mencatat bahwa bank-bank yang terdaftar di China memperkuat diri mereka dengan mendiversifikasi sumber pendapatan, di industri yang sedang berkembang dan mengisi kembali modal, serta berusaha mengoptimalkan struktur utang dan biaya.
Selain ICBC China, tiga bank lain menjadi langganan di antara raksasa dunia yakni China Construction Bank (USD5,5 triliun dalam aset) di No. 3, Agricultural Bank of China (USD5,9 triliun) di No. 8 dan Bank of China (USD4,8 triliun) pada peringkat 12.
Bank secara wajar khawatir bahwa ketidakpastian yang diciptakan oleh kebijakan perdagangan dan ekonomi pemerintahan Trump yang tidak menentu, akan terus melumpuhkan bisnis yang kesulitan membuat dan melaksanakan rencana pertumbuhan strategis saat situasi selalu berubah.
Selain JPMorgan, terdapat lima bank AS lainnya yang masuk dalam 50 besar yakni Bank of America, Wells Fargo, Goldman Sachs, Citigroup, dan Morgan Stanley.
Sementara itu laba bank-bank raksasa China sedikit menyusut pada awal tahun 2025, karena margin bunga bersih terus mengalami penurunan selama beberapa tahun. Pelemahan pada sektor properti memicu maraknya kemunculan pinjaman bermasalah yang pada gilirannya menggerus margin bunga bersih akibat suku bunga pinjaman yang lebih rendah dan perlambatan permintaan pinjaman.
Namun secara total aset mengalami peningkatan, terutama karena bank-bank di China terus beralih ke area pertumbuhan baru seperti pinjaman industri baru (sektornya dianggap krusial untuk pertumbuhan ekonomi masa depan negara, seperti di bidang kendaraan listrik atau kecerdasan buatan), yang telah menunjukkan pertumbuhan solid.
"Memasuki siklus di mana baik suku bunga, maupun margin bunga bersih berada pada tingkat rendah, industri perbankan menghadapi ketidakpastian yang meningkat di lingkungan makro," menurut Kelvin Leung, Mitra Layanan Keuangan Greater China di Ernst & Young.
Menanggapi tantangan ini, dia mencatat bahwa bank-bank yang terdaftar di China memperkuat diri mereka dengan mendiversifikasi sumber pendapatan, di industri yang sedang berkembang dan mengisi kembali modal, serta berusaha mengoptimalkan struktur utang dan biaya.
Selain ICBC China, tiga bank lain menjadi langganan di antara raksasa dunia yakni China Construction Bank (USD5,5 triliun dalam aset) di No. 3, Agricultural Bank of China (USD5,9 triliun) di No. 8 dan Bank of China (USD4,8 triliun) pada peringkat 12.
Lihat Juga :