Bagaimana Perang Israel-Iran Mempengaruhi Harga Energi, Begini Penjelasannya

Minggu, 15 Juni 2025 - 22:40 WIB
loading...
Bagaimana Perang Israel-Iran...
Serangan Israel ke Iran dapat menyebabkan guncangan di pasar minyak global, berikut penjelasannya. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Serangan Israel ke Iran dapat menyebabkan guncangan di pasar keuangan global. Secara khusus, harga minyak melonjak naik 7% pada pertengahan akhir pekan kemarin.

Hal itu memicu kekhawatiran bahwa kita bisa menghadapi periode lain dari lonjakan harga energi yang sangat tinggi, yang akan menyebabkan lonjakan harga untuk segala sesuatu mulai dari bensin, makanan hingga liburan. Itulah yang terjadi setelah Rusia menginvasi Ukraina tiga tahun yang lalu, hingga mempengaruhi kehidupan orang-orang di seluruh dunia.

- Seberapa besar harga minyak telah naik?

Serangan tersebut memicu reaksi instan di pasar. Minyak mentah Brent yang menjadi tolok ukur internasional naik lebih dari 10% sebelum kembali jatuh ke kisaran USD75 per barel.

Baca Juga: Pecah Perang Iran vs Israel, Harga Minyak Mentah Bisa Tembus USD90 per Barel

Harga minyak naik dan turun setiap saat sebagai respons terhadap peristiwa geopolitik besar, dan kondisi ekonomi global. Jadi tidak mengejutkan melihat harga minyak bereaksi terhadap serangan Israel kepada Iran.

Namun harga minyak mentah Brent masih sekitar 10% lebih rendah dibandingkan setahun yang lalu. Harga tersebut juga jauh di bawah level tertinggi yang terjadi pada tahun 2022, setelah invasi Rusia ke Ukraina, ketika harganya meroket hingga hampir USD130 per barel.

- Apakah harga bensin dan harga lainnya akan naik?

Ketika harga minyak mentah dunia naik, banyak orang mulai menyadarinya saat berdampak terhadap harga bahan bakar (BBM) atau bensin yang menjadi lebih mahal. Selain itu lonjakan harga energi juga berdampak pada hampir semua harga, mulai dari pertanian hingga manufaktur.

Dalam hal makanan, biaya energi yang lebih tinggi dapat menyebabkan harga di supermarkert dan pasar meningkat dalam banyak cara. Hal ini dapat membuat biaya untuk mengoperasikan mesin pertanian, mengangkut hasil pertanian, dan memproses serta mengemas makanan menjadi lebih mahal.

Semua itu bisa terjadi jika harga energi tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama. Bahkan terkait dengan bensin dan diesel, kenaikan harga minyak mentah hanya berdampak terbatas.

"Aturan kasar adalah kenaikan harga minyak sebesar USD10 akan menambah sekitar 7 sen ke harga di pompa (SPBU)," kata David Oxley dari Capital Economics.

Namun ini bukan hanya soal minyak, dia memperingatkan, masih teringat jelas ketika kejutan harga terjadi yang terkait konflik di Ukraina. Mayoritas karena sebagian besar merupakan respons terhadap kenaikan harga gas, kata Oxley.

Banyak dari kita memanaskan rumah dengan gas, dan di Inggris, harga listrik juga ditentukan berhubungan dengan harga gas. Harga gas juga meningkat setelah serangan Israel ke Iran. Namun secara perlahan, dampaknya bakal mulai dirasakan rumah tangga, karena diterangkan Oxley, mengingat cara kerja pasar, termasuk peran regulator dalam membatasi harga.

- Apakah harga minyak bisa naik lebih tinggi?

Situasi saat ini "sangat signifikan dan memprihatinkan," kata Richard Bronze, kepala geopolitik di perusahaan konsultasi dan penelitian Energy Aspects seperti dilansir BBC.

Namun semua itu menurutnya, tidak berarti situasi ini akan memiliki dampak sebesar konflik Ukraina, atau bahkan masalah sebelumnya di Timur Tengah. Pertanyaan utama adalah berapa lama Israel dan Iran terjebak dalam konflik ini, apakah negara lain di kawasan terlibat, dan apakah AS akan turun tangan untuk meredakan situasi.

Segalanya tergantung pada apakah, bakal terjadi gangguan nyata terhadap pengiriman di Selat Hormuz, jalur air di lepas pantai selatan Iran, yang merupakan jalur menuju pasar global untuk sekitar sepertiga dari produksi minyak dunia.

"Ini adalah titik penyempitan, sehingga menjadi titik lemah yang signifikan bagi pasar minyak global," kata Bronze.

Skenario tersebut mungkin tidak akan pernah terjadi, tetapi Iran di masalah lalu sempat mengancam dan kini peluangnya lebih besar daripada 24 jam yang lalu. Dan risiko ini menjadi bagian dari apa yang mendorong kenaikan harga.

Tanpa gangguan terhadap pengiriman, harga minyak tidak mungkin tetap tinggi. Pada tahun 2022, menyusul invasi Rusia ke Ukraina, permintaan akan energi semakin meningkat seiring dengan dibukanya kembali ekonomi global setelah Covid. S

ekarang ekonomi global menghadapi waktu yang lebih sulit, dan produsen minyak dari Arab Saudi hingga Brasil memiliki kapasitas untuk meningkatkan pasokan minyak yang bisa membantu menurunkan harga.

- Apa arti perang Israel versus Iran bagi ekonomi global?

Skala kenaikan harga energi apapun, dan dampak yang lebih luas, bakal tergantung pada sejauh mana dan apa yang terjadi selanjutnya dalam konflik antara Israel dan Iran. Namun ini memiliki potensi untuk menjadi "guncangan buruk bagi ekonomi global pada waktu yang buruk," kata Mohammed El-Erian, penasihat ekonomi utama di perusahaan manajemen aset Allianz.

"Bagaimana pun Anda melihatnya, ini menjadi sentimen negatif dalam jangka pendek, serta dampak negatif dalam jangka panjang," paparnya.

Baca Juga: Rp708 Juta per Jam, Inilah Biaya Operasional Jet Tempur F-35 Israel Sekali Terbang

Hal ini menjadi pukulan lain terhadap stabilitas tatanan ekonomi global yang dipimpin AS di saat sudah banyak pertanyaan yang ada. Ekonomi Kapital menghitung bahwa jika harga minyak kembali di atas USD100 per barel, hal itu bisa menambah 1% pada inflasi di negara-negara maju, membuat hidup menjadi lebih sulit bagi bank sentral yang berharap bisa menurunkan suku bunga.

Tapi itu bukan skenario yang paling mungkin menurut proyeksi David Oxley. "Ketidakstabilan di Timur Tengah bukanlah hal baru, kita telah melihat banyak sekali kejadian seperti itu," katanya.

"Dalam waktu seminggu, semuanya mungkin sudah mereda."

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Harga Minyak Dunia Anjlok,...
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
AS-Iran Berdamai, Harga...
AS-Iran Berdamai, Harga Minyak Terjun Bebas ke Bawah USD80 per Barel
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Siapa Bagher Ghalibaf?...
Siapa Bagher Ghalibaf? Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Menundukkan AS
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Rekomendasi
Berangkat Umrah, Ruben...
Berangkat Umrah, Ruben Onsu Serahkan Semua Masalah dalam Doa di Depan Ka'bah
Amalan Hari Asyura 10...
Amalan Hari Asyura 10 Muharram: Puasa Asyura, Sedekah, dan Meluaskan Rezeki Keluarga
Ingat Besok Jadwal Puasa...
Ingat Besok Jadwal Puasa Tasua, Ini Bacaan Niatnya!
Berita Terkini
Dasco: InsyaAllah Pemadaman...
Dasco: InsyaAllah Pemadaman Listrik Tak Terjadi Lagi Pekan Ini
Wamenhub Sebut Potensi...
Wamenhub Sebut Potensi Penerimaan Negara Lewat PT DSI Bisa Tembus Rp2.671 Triliun
Pegadaian Gelar Khitanan...
Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026, Langkah Riil Peduli Sesama Berbasis ESG
IHSG Siang Anjlok 1,29%...
IHSG Siang Anjlok 1,29% ke 6.037, Sektor Keuangan dan Energi Jadi Pemberat
Komut Pertamina Mochamad...
Komut Pertamina Mochamad Iriawan: Investasi Terbaik Bangsa pada Manusia
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved