Mengamati Geopolitik Energi Dalam Konflik Iran Israel dari Kacamata Arcandra Tahar

Senin, 23 Juni 2025 - 16:51 WIB
loading...
A A A
Arcandra Tahar mengajak lihat dari dua peristiwa yang mengakibatkan bergejolaknya harga minyak dalam tahun ini. Sebelum Presiden Trump mengumumkan kenaikan tarif, kondisi suplai minyak mentah sedikit di atas demand. Untuk menstabilkan harga, OPEC+ sudah berencana untuk memotong sisi suplai agar harga minyak bisa pada kisaran antara USD75 dan USD80 per barrel sampai akhir tahun 2025.

Belum sempat OPEC+ melakukan rencana aksi, muncul peristiwa kenaikan tarif yang sangat mengejutkan. Pertanyaannya adalah apakah pada saat itu suplai dan demand berubah? Jawaban tentu saja tidak.

"Yang berubah adalah persepsi para trader bahwa ke depan pertumbuhan ekonomi akan melambat yang mengakibatkan berkurangnya demand. Sehingga harga minyak mentah menjadi turun," papar Arcandra yang pernah menjadi Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN)

Apakah persepsi ini benar? Menurut International Energi Agency (IEA), pada bulan April, Mei dan Juni, pertumbuhan demand memang melambat, tapi secara keseluruhan demand tetap naik dibandingkan awal tahun.

Bagaimana dengan serangan Israel terhadap Iran? Lagi-lagi demand real pada bulan Juni tetap naik tapi persepsi trader yang menganggap demand pada bulan-bulan ke depan akan turun sehingga harga juga turun. Seluk beluk trading oil and gas mungkin bisa kita bahas dalam kesempatan lain.

Selain harga minyak, apa lagi yang sedang dipertaruhkan dengan konflik Israel dan Iran ini. Sampai tulisan ini ditulis, Israel maupun Iran belum menargetkan untuk menyerang fasilitas-fasilitas produksi dan pengolahan migas di masing-masing negara. Walaupun Iran melaporkan ada depo minyak dan fasiltas pengolahan gas yang kena serang sehingga harus dimatikan (shut in).

"Kita berharap tentu fasilitas-fasilitas migas ini tidak terganggu. Namun demikian kalau ini terjadi maka akan ada sekitar 3.3 juta bopd produksi minyak mentah dan sekitar 2 juta bopd ekspor dari Iran yang terhenti. Artinya sekitar 3% suplai minyak mentah dunia akan terganggu. Seperti yang kita tahu Iran mempunyai cadangan minyak no 8 di dunia sementara untuk cadangan gas no 4," jelasnya.

Selanjutnya, sekitar 20% ekspor minyak mentah dan 20% ekspor LNG melewati Selat Hormuz. Kalau Iran menutup selat ini, maka dapat dibayangkan apa yang terjadi terhadap harga minyak dan LNG ke depan. Ada yang berspekulasi bahwa harga minyak mentah bisa naik di atas USD90 per barrel.

Bagi negara-negara pengimpor minyak mentah dan LNG harus mulai memitigasi resiko terburuk yang mungkin terjadi. Naiknya harga minyak dan LNG bukan lagi masalah ketiadaan produksi, tapi sudah menyentuh masalah keamanan rantai pasok.

"Inilah esensi dari energy security dimana untuk mengamankan kebutuhan energi didalam negeri, maka institusi negara hadir tidak saja dalam mencari sumber minyak tapi juga mengamankan rantai pasoknya," jelasnya
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
OPEC+ Sepakat Tambah...
OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Mulai Agustus, Harga Minyak Drop Lebih 1%
Dulu Termiskin, Negara...
Dulu Termiskin, Negara Kecil Ini Mendadak Jadi Raja Minyak Baru Akibat Perang Iran!
Babak Baru Perang Energi:...
Babak Baru Perang Energi: OPEC+ Siap Banjiri Pasar Global, Siap-siap Harga Minyak Makin Ambles
Cadangan Energi AS Ternyata...
Cadangan Energi AS Ternyata Keropos: Stok Minyak Dikuras Habis, Stok Terendah Sejak 1983!
Nekat Melenceng dari...
Nekat Melenceng dari Jalur Bakal Disikat! Iran Ultimatum Keras soal Selat Hormuz
Selat Hormuz Sempat...
Selat Hormuz Sempat Lumpuh, Raja-raja Minyak Arab Garap Proyek Pipa Raksasa
Iran dan AS Saling Serang,...
Iran dan AS Saling Serang, Trump: Gencatan Senjata Berakhir
Timur Tengah Kembali...
Timur Tengah Kembali Membara! Serangan Drone Iran Menarget Militer AS
Lebih dari 2 Juta Pelayat...
Lebih dari 2 Juta Pelayat Hadiri Prosesi Pemakaman Khamenei di Najaf Irak
Rekomendasi
Membaca Penguatan Kelompok...
Membaca Penguatan Kelompok Rentan dalam Revisi UU HAM
Geledah Kafe deClan,...
Geledah Kafe de'Clan, Polri Temukan Brankas Besar di dalam Tembok
Kunci Konvensional Mulai...
Kunci Konvensional Mulai Ditinggalkan, Digital Lock Jadi Standar Baru Keamanan Rumah
Berita Terkini
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
Transaksi Olein di JFX...
Transaksi Olein di JFX Naik Tembus Rp7,3 Triliun, Timah Ikut Menguat
S&P Dow Jones Ancam...
S&P Dow Jones Ancam Turunkan Status Pasar Saham Indonesia, BEI Buka Suara
Asabri Kolaborasi Beri...
Asabri Kolaborasi Beri Kemudahan Kepemilikan Kendaraan bagi Peserta
Superbank Gandeng OVO...
Superbank Gandeng OVO Perluas Akses Pembiayaan Digital Satu Aplikasi
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved