Mengamati Geopolitik Energi Dalam Konflik Iran Israel dari Kacamata Arcandra Tahar
Senin, 23 Juni 2025 - 16:51 WIB
loading...
A
A
A
Bagaimana dari sisi Israel? Mungkin sebagian kita menduga bahwa Israel tidak punya produksi minyak dan gas. Ternyata dugaan ini salah. Israel punya beberapa lapangan gas yang cukup besar seperti Leviathan, Lamar dan Karish.
"Produksi gas dari Israel ini selain untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri juga diekspor ke Jordan dan Mesir. Khusus untuk Mesir, seperenam kebutuhan gasnya diperolah dari Israel. Sahabat energi bisa membayangkan kalau Mesir sangat bergantung kepada impor gas dari Israel," ungkap Arcandra.
Dengan terjadi gejolak ini, Israel sudah memutuskan untuk menghentikan operasi lapangan-lapangan gas mereka. Tinggal sekarang Mesir dan Jordan harus mencari pengganti yang tentu tidak mudah untuk mendapatkannya.
Tulisan Daniel Yergin dalam buku The Prize sudah melihat phenomena bahwa oil and gas bisa menjadi senjata untuk mendapatkan keunggulan geopolitik (oil for weapon). Arab Saudi pernah menerapkannya sewaktu terjadi konflik Arab-Israel tahun 1973 dimana Arab Saudi menerapkan embargo minyak terhadap Amerika Serikat (AS).
Akibatnya terjadi krisis energi di AS yang memicu keputusan untuk membangun Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebagai salah satu cara untuk mencapai ketahanan energi. Baca Juga: Membaca Skenario Penutupan Selat Hormuz, Apa Untung Ruginya buat Iran?
Selain SPR, apalagi yang bisa kita lakukan untuk mencapai ketahanan energi? Apakah ada SPR yang tidak berbiaya mahal? Apakah renewable energi bisa dijadikan salah satu sumber untuk energy security? Apakah renewable energi bisa mengganti energi fosil?
"Banyak sekali tema-tema diskusi yang bisa bahas untuk menanmbah pemahaman kita terhadap energy security dan geopolitik energi. Semoga sahabat energi bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini," tulis Arcandra Tahar.
"Produksi gas dari Israel ini selain untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri juga diekspor ke Jordan dan Mesir. Khusus untuk Mesir, seperenam kebutuhan gasnya diperolah dari Israel. Sahabat energi bisa membayangkan kalau Mesir sangat bergantung kepada impor gas dari Israel," ungkap Arcandra.
Dengan terjadi gejolak ini, Israel sudah memutuskan untuk menghentikan operasi lapangan-lapangan gas mereka. Tinggal sekarang Mesir dan Jordan harus mencari pengganti yang tentu tidak mudah untuk mendapatkannya.
Tulisan Daniel Yergin dalam buku The Prize sudah melihat phenomena bahwa oil and gas bisa menjadi senjata untuk mendapatkan keunggulan geopolitik (oil for weapon). Arab Saudi pernah menerapkannya sewaktu terjadi konflik Arab-Israel tahun 1973 dimana Arab Saudi menerapkan embargo minyak terhadap Amerika Serikat (AS).
Akibatnya terjadi krisis energi di AS yang memicu keputusan untuk membangun Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebagai salah satu cara untuk mencapai ketahanan energi. Baca Juga: Membaca Skenario Penutupan Selat Hormuz, Apa Untung Ruginya buat Iran?
Selain SPR, apalagi yang bisa kita lakukan untuk mencapai ketahanan energi? Apakah ada SPR yang tidak berbiaya mahal? Apakah renewable energi bisa dijadikan salah satu sumber untuk energy security? Apakah renewable energi bisa mengganti energi fosil?
"Banyak sekali tema-tema diskusi yang bisa bahas untuk menanmbah pemahaman kita terhadap energy security dan geopolitik energi. Semoga sahabat energi bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini," tulis Arcandra Tahar.
(akr)
Lihat Juga :